Batusangkar, Skalainfo.net| Kenaikan harga bahan baku kedelai menjadi tantangan tersendiri bagi para pedagang tahu di Pasar Batusangkar. Kondisi tersebut berdampak pada menurunnya keuntungan yang diperoleh para pelaku usaha. Meskipun demikian, berbagai strategi terus dilakukan agar usaha tetap bertahan dan penjualan dapat dipertahankan di tengah kondisi ekonomi yang tidak menentu. Kamis, 25/06/2026.
Salahsatu pedagang tahu di Pasar Batusangkar, Kak Nofri, mengaku bahwa usaha yang dijalankannya merupakan usaha keluarga yang telah diwariskan secara turun-temurun. Menurutnya, usaha tersebut telah dirintis oleh ayahnya, Dedi Santoso, sejak tahun 1990-an. Pada awalnya, tempat berjualan masih sering berpindah-pindah, namun kini usaha tersebut telah memiliki tempat yang tetap di Pasar Batusangkar. “Usaha ini sudah dari orang tua sejak tahun 90-an. Dulu masih berpindah-pindah tempat, sekarang sudah menetap di Pasar Batusangkar,” ujarnya saat ditemui pada Jumat (20/6) lalu.
Dalam sehari, jumlah tahu yang berhasil terjual berkisar antara 12 hingga 15 baskom. Jumlah tersebut tergolong cukup banyak dan menjadi sumber penghasilan utama bagi keluarga. Namun, kondisi penjualan tidak selalu berjalan lancar. Salah satu kendala yang paling sering dihadapi adalah sepinya pembeli pada waktu-waktu tertentu.
Menurut Kak Nofri, menurunnya jumlah pelanggan menjadi tantangan yang harus dihadapi setiap hari. Persaingan dengan pedagang lain serta perubahan daya beli masyarakat juga turut memengaruhi tingkat penjualan. Oleh karena itu, diperlukan upaya khusus agar pelanggan tetap datang dan membeli produk yang dijual.
Dalam menghadapi persaingan serta menjaga loyalitas pelanggan, Kak Nofri menerapkan strategi berupa memberikan pelayanan yang baik kepada setiap pembeli. Sikap ramah dan pelayanan yang memuaskan dinilai menjadi salah satu cara yang efektif untuk menarik minat konsumen agar kembali berbelanja.
Selain menghadapi tantangan berupa sepinya pelanggan, kenaikan harga bahan baku kedelai juga memberikan dampak yang cukup besar terhadap keuntungan usaha. Harga kedelai yang terus mengalami peningkatan menyebabkan biaya produksi semakin tinggi. Sementara itu, harga jual tahu tidak dapat dinaikkan secara signifikan karena dikhawatirkan akan mengurangi minat masyarakat untuk membeli.
Akibatnya, keuntungan yang diperoleh menjadi semakin menipis. Meski demikian, Kak Nofri tetap berusaha mempertahankan kualitas tahu yang dijual agar pelanggan tidak beralih ke tempat lain. Baginya, menjaga kualitas produk dan memberikan pelayanan terbaik merupakan kunci utama dalam mempertahankan usaha yang telah dibangun selama puluhan tahun. Keberadaan pedagang tahu seperti Kak Nofri menunjukkan bahwa usaha mikro dan keluarga memiliki peran penting dalam memenuhi kebutuhan masyarakat sekaligus menggerakkan perekonomian daerah.
Ditengah naiknya harga bahan baku dan berbagai tantangan yang dihadapi, para pelaku usaha tetap berupaya mempertahankan keberlangsungan usahanya melalui pelayanan yang baik dan menjaga kualitas produk. Dengan strategi tersebut, para pedagang berharap penjualan dapat terus meningkat dan usaha yang telah diwariskan dari generasi ke generasi tetap dapat bertahan di tengah perubahan kondisi ekonomi yang terjadi saat ini. (Red/Tim Media Skala Info Tanah Datar – Padil).

