Batusangkar, Skalainfo.net| Ditengah tren generasi muda yang berlomba-lomba mengejar karier di sektor pemerintahan maupun perusahaan swasta, sejumlah anak muda di Batusangkar justru memilih jalan berbeda. Mereka menekuni usaha di pasar tradisional dan membangun kemandirian melalui aktivitas perdagangan. Kamis, 25/06/2026.
Pilihan tersebut bukan tanpa alasan. Selain dinilai lebih fleksibel, berdagang di pasar tradisional juga dianggap mampu memberikan penghasilan yang menjanjikan serta membuka peluang untuk mengembangkan usaha sendiri di masa depan.
Meski demikian, menjadi pedagang pasar tidaklah mudah. Persaingan antar pedagang yang semakin ketat menuntut mereka untuk terus berinovasi agar tetap mampu menarik minat pelanggan. Berbagai strategi dilakukan, mulai dari menjaga kualitas barang, memberikan pelayanan yang ramah, hingga mempertahankan harga yang sesuai dengan kemampuan konsumen.
Salah satu generasi muda yang memilih profesi sebagai pedagang adalah Nabil (21), seorang pedagang ayam potong di Pasar Batusangkar. Sejak empat tahun terakhir, ia telah menekuni usaha tersebut dan merasakan langsung dinamika dunia perdagangan.
Menurut Nabil, ketertarikannya menjadi pedagang berawal dari hobinya berinteraksi dengan banyak orang dalam proses jual beli. Selain itu, kondisi lapangan pekerjaan yang semakin kompetitif juga menjadi pertimbangan baginya untuk memilih berdagang.
“Di zaman sekarang, di tengah sulitnya mencari pekerjaan, berdagang menjadi salah satu opsi terbaik yang bisa dilakukan karena pekerjaannya sangat fleksibel,” ujar Nabil saat ditemui di Pasar Batusangkar, Minggu (20/6) lalu.
Di saat banyak anak muda bercita-cita menjadi pegawai negeri atau bekerja di perusahaan, Nabil justru melihat peluang besar yang masih terbuka di pasar tradisional. Ia meyakini bahwa usaha yang dikelola dengan serius dapat memberikan hasil yang tidak kalah menjanjikan dibanding pekerjaan kantoran.
“Banyak teman saya melamar pekerjaan ke perusahaan, sementara saya memilih berdagang. Awalnya memang berbeda dari kebanyakan orang seusia saya, tetapi saya merasa ini pilihan yang tepat. Bahkan sekarang ada beberapa teman yang mulai bertanya tentang peluang usaha di pasar,” katanya.
Keputusan Nabil sempat dianggap berbeda oleh sebagian orang yang menilai pekerjaan kantoran lebih bergengsi dan memiliki masa depan yang lebih pasti. Namun, pandangan tersebut tidak menyurutkan langkahnya untuk terus mengembangkan usaha yang telah dirintis sejak usia muda.
Dukungan penuh dari keluarga menjadi salah satu faktor yang memperkuat keyakinannya. Orang tuanya menilai bahwa profesi sebagai pedagang memiliki prospek yang baik selama dijalankan dengan kerja keras, konsistensi, dan kemampuan beradaptasi terhadap perubahan pasar.
Tak hanya keluarga, teman-teman dekatnya juga turut memberikan dukungan. Mereka bahkan kerap membantu mempromosikan usaha Nabil melalui berbagai platform media sosial, sehingga jangkauan pelanggan menjadi lebih luas.
“Teman-teman mendukung. Mereka sering membeli dagangan saya dan membantu mempromosikan usaha melalui media sosial,” ungkapnya.
Fenomena yang dialami Nabil menunjukkan bahwa pandangan generasi muda terhadap dunia kerja mulai mengalami perubahan. Tidak sedikit anak muda yang kini berani mengambil jalur wirausaha dan memanfaatkan peluang ekonomi yang ada di lingkungan sekitar.
Di tengah tantangan ekonomi dan ketatnya persaingan dunia kerja, pasar tradisional ternyata masih menjadi ruang yang menjanjikan bagi generasi muda untuk berkarya, mandiri, dan menciptakan lapangan pekerjaan. Kisah Nabil menjadi bukti bahwa kesuksesan tidak selalu harus diraih melalui meja kantor, tetapi juga dapat tumbuh dari semangat berwirausaha di tengah denyut aktivitas pasar tradisional. (Red/Tim Media Skala Info Tanah Datar – Lailatul Azmi).

