Batusangkar, Skalainfo.net| Riuh rendah suara tawar-menawar membelah udara pagi di Pasar Tradisional Batusangkar, Kabupaten Tanah Datar. Pasar bersejarah ini senantiasa menjadi episentrum perputaran ekonomi masyarakat setempat. Namun, di balik transaksi kuliner tradisional yang menggoda selera, terselip kecemasan mendalam di mata para pedagang akibat guncangan harga plastik yang melonjak tajam. Kamis, 25/06/2026.
Di salah satu sudut toko grosir kemasan miliknya, Nofal tampak tumpukan stok barang yang mulai melambat perputarannya. Sebagai pemilik toko plastik di jantung pusat perdagangan Tanah Datar ini, ia merasakan langsung dampak dari fenomena cost-push inflation yang melanda skala nasional. Noufal mengungkapkan “Kenaikan harga plastik ini menurunkan omset harian toko sebanyak 50 persen,” Menurutnya, kemerosotan ini bukan tanpa alasan. “Pembeli sekarang sangat membatasi dan mengatasi pembelian mereka. Pelanggan yang biasanya mengambil dalam jumlah besar atau grosir, kini hanya berani membeli eceran dalam volume terbatas demi menyesuaikan anggaran mereka yang kian terhimpit,” tambahnya.
Tekanan harga ini tidak main-main. Berdasarkan pemantauan harga di lapangan, data kedua mencatat lonjakan ekstrem pada harga plastik ukuran jumbo yang meroket hingga 100 persen, dari harga semula Rp. 25.000 menjadi Rp. 50.000 per pak. Kenaikan tajam ini menciptakan efek domino bagi pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) kuliner di Batusangkar yang selama ini sangat bergantung pada kemasan plastik sekali pakai.
Para pelaku usaha kini terjepit dalam dilema menaikkan harga jual produk dengan risiko kehilangan pelanggan, atau menahan harga namun harus menghadapi defisit arus kas yang mengancam keberlangsungan usaha. Namun, di balik jeritan ekonomi para pedagang, para pemerhati lingkungan melihat adanya “kebaikan” terselubung atau berkah ekologis dari fenomena ini. Selama puluhan tahun, plastik sekali pakai dikonsumsi secara berlebihan karena harganya yang terlampau murah, sehingga memicu krisis polusi yang masif. Tingginya harga saat ini justru bertindak sebagai disinsentif ekonomi yang efektif untuk memaksa pasar mengoreksi perilaku konsumsinya.
Kondisi ini mulai mendorong munculnya inovasi sosial di tengah masyarakat. Beberapa pelaku usaha kreatif di tingkat lokal mulai melirik kemasan alternatif yang lebih ramah lingkungan, seperti besek bambu, kertas, hingga wadah berbahan dasar singkong. Pola adaptasi baru juga mulai terlihat dengan penerapan sistem “bawa wadah sendiri,” dimana konsumen diberikan insentif berupa potongan harga kecil jika tidak menggunakan plastik dari penjual.
Transformasi menuju budaya guna ulang memang tidak mudah dan penuh tantangan, terutama bagi masyarakat kecil di pasar tradisional. Namun, momentum mahalnya harga plastik konvensional ini seharusnya bisa menjadi titik balik bagi pemerintah untuk mendorong masivitas penggunaan kemasan ramah lingkungan yang berbasis bahan baku lokal. (Red/Tim Skala Info Tanah Datar – Delima Fatmawati).
