Batusangkar, Skalainfo.net| Deretan lapak sayuran di Pasar Tradisional Batusangkar tampak ramai seperti biasa. Namun, di balik aktivitas tawar-menawar yang berlangsung setiap hari, para pedagang menghadapi tantangan yang tidak ringan. Kenaikan harga cabai dalam beberapa waktu terakhir membuat daya beli masyarakat menurun dan jumlah pembeli berkurang. Kamis, 25/06/2026.
“Harga cabai memang sering berubah-ubah. Kadang hari ini naik, besok bisa turun lagi,” ujar Asril (61), seorang pedagang sayuran yang telah puluhan tahun berjualan di pasar tersebut.
Bagi masyarakat Minangkabau yang akrab dengan masakan bercita rasa pedas, cabai merupakan kebutuhan pokok yang hampir selalu hadir di dapur. Tidak heran jika setiap kenaikan harga cabai langsung dirasakan oleh masyarakat.
Menurut Asril, harga cabai merah yang sebelumnya berkisar Rp. 40.000 per kilogram kini mencapai Rp. 60.000 per kilogram. Cabai hijau naik dari Rp. 30.000 menjadi Rp. 40.000 per kilogram, sementara cabai rawit setan meningkat dari Rp. 60.000 menjadi Rp. 70.000 per kilogram. Kenaikan juga terjadi pada komoditas lain seperti bawang yang melonjak dari Rp. 35.000 menjadi Rp. 45.000 per kilogram.
Kenaikan harga tersebut membuat sebagian konsumen harus memutar otak untuk mengatur pengeluaran rumah tangga. Banyak pembeli yang biasanya membeli cabai dalam jumlah cukup banyak kini memilih membeli lebih sedikit.
“Kalau harga naik, pembeli berkurang. Ada yang tetap membeli, tapi jumlahnya tidak sebanyak biasanya,” kata Asril.
Fenomena ini menunjukkan bahwa fluktuasi harga cabai tidak hanya berdampak pada konsumen, tetapi juga pedagang. Meskipun harga jual meningkat, pendapatan pedagang belum tentu bertambah. Penurunan volume penjualan sering kali membuat keuntungan yang diperoleh tidak sebanding dengan kenaikan harga barang.
Sebagai pedagang, Asril mengaku tidak memiliki strategi khusus untuk menghadapi kondisi tersebut. Ia hanya berusaha mengikuti harga pasar dan mempertahankan hubungan baik dengan pelanggan. “Yang penting pelayanan tetap baik. Pelanggan yang sudah percaya biasanya tetap datang berbelanja,” ujarnya.
Menurut Asril, naik turunnya harga cabai sangat dipengaruhi oleh pasokan dari petani. Ketika jumlah cabai yang masuk ke pasar berkurang, harga akan naik karena ketersediaan barang terbatas. Sebaliknya, saat musim panen dan pasokan melimpah, harga cenderung turun. Selain pasokan, faktor cuaca juga menjadi penentu penting. Curah hujan yang tinggi dapat menyebabkan tanaman cabai mudah rusak dan hasil panen menurun. Kondisi tersebut berdampak pada berkurangnya pasokan ke pasar sehingga harga menjadi lebih mahal.
“Kalau cuaca bagus dan panas cukup, hasil panen biasanya lebih baik. Tapi kalau hujan terus, banyak tanaman yang rusak,” jelasnya.
Fluktuasi harga cabai yang terus terjadi menunjukkan betapa erat hubungan antara sektor pertanian, perdagangan, dan kebutuhan masyarakat. Di satu sisi, pedagang harus beradaptasi dengan perubahan harga yang tidak menentu. Di sisi lain, masyarakat harus menyesuaikan pola belanja agar kebutuhan rumah tangga tetap terpenuhi.
Pengalaman Asril menjadi gambaran nyata bahwa di balik sebutir cabai yang menghiasi hidangan sehari-hari, terdapat dinamika ekonomi yang memengaruhi kehidupan banyak orang. Ketika harga cabai melonjak, bukan hanya rasa pedas yang terasa di lidah, tetapi juga “pedas” yang dirasakan di kantong masyarakat dan pedagang pasar tradisional. (Red/Tim Skala Info Tanah Datar Muhammad Yoga).
