Batusangkar, Skalainfo.net| Perkembangan teknologi dan meningkatnya tren belanja melalui platform digital menjadi tantangan tersendiri bagi para pedagang di pasar tradisional. Sejumlah pedagang pakaian, sepatu, dan tas di Pasar Tradisional Batu Sangkar mengaku mengalami perubahan pola belanja masyarakat yang berdampak pada penurunan jumlah pembeli dalam beberapa tahun terakhir. Kamis, 25/06/2026.

Meski demikian, para pedagang tetap berupaya mempertahankan usahanya dengan mengandalkan kualitas barang, pelayanan kepada pelanggan, serta menjalin hubungan baik dengan para pembeli yang telah menjadi pelanggan tetap.

Salah seorang pedagang pakaian di Pasar Tradisional Batu Sangkar, Yanti (30) mengatakan, bahwa kondisi penjualan saat ini tidak seramai beberapa tahun sebelumnya. Menurutnya, masyarakat kini lebih banyak memilih berbelanja secara daring karena dianggap lebih praktis dan menawarkan banyak pilihan.

“Kalau dibandingkan dulu, pembeli sekarang memang berkurang. Banyak yang lebih suka belanja online karena tinggal pesan dari rumah. Kadang harga di online juga lebih murah,” ujarnya saat ditemui di kiosnya.

Ia mengungkapkan bahwa pada momen tertentu seperti menjelang Hari Raya Idulfitri, jumlah pembeli masih mengalami peningkatan. Namun, pada hari-hari biasa, aktivitas jual beli cenderung sepi. Hal senada disampaikan oleh Rina (38), pedagang tas yang telah berjualan selama lebih dari sepuluh tahun. Ia mengaku penjualan tas mengalami penurunan sejak maraknya penggunaan marketplace dan media sosial sebagai sarana berjualan.

“Sekarang persaingannya semakin berat. Banyak orang jualan di media sosial dan marketplace. Pembeli sering datang ke toko cuma melihat barang, setelah itu bilang mau cari dulu di online,” katanya.

Menurut Rina, perbedaan harga menjadi salah satu alasan masyarakat lebih memilih berbelanja secara daring. Padahal, barang yang dijual di pasar tradisional memiliki kualitas yang dapat dilihat dan diperiksa secara langsung oleh pembeli. “Kalau beli langsung kan barangnya bisa dipegang, dilihat kualitasnya, ukurannya juga pasti. Tapi orang sekarang lebih tergiur karena harga online kadang lebih murah,” tambahnya.

Sementara itu, seorang pedagang sepatu, Edi (50), mengatakan bahwa perkembangan usaha yang dijalaninya mengalami pasang surut dari tahun ke tahun. Ia menilai perubahan perilaku konsumen menjadi faktor utama yang memengaruhi pendapatan para pedagang. “Dulu pembeli ramai, apalagi akhir pekan. Sekarang sudah beda, banyak yang lebih memilih belanja lewat aplikasi. Kami tetap bertahan karena sudah lama berjualan di sini,” tuturnya.

Edi berharap pemerintah dapat memberikan perhatian lebih terhadap keberlangsungan pasar tradisional melalui berbagai program pembinaan dan promosi agar masyarakat kembali tertarik berbelanja secara langsung. Selain menghadapi persaingan dengan pedagang online, para pedagang di Pasar Tradisional Batu Sangkar juga mengeluhkan menurunnya daya beli masyarakat yang menyebabkan omzet penjualan tidak menentu.

“Kadang sehari belum tentu ada pembeli. Kalau dulu satu hari bisa beberapa barang terjual, sekarang satu atau dua saja sudah syukur,” ungkap seorang pedagang lainnya.

Para pedagang menilai perbedaan harga antara barang yang dijual di pasar tradisional dengan produk yang ditawarkan secara online menjadi salah satu alasan masyarakat beralih ke belanja digital. Adanya berbagai promo, diskon, dan gratis ongkos kirim membuat konsumen lebih tertarik membeli melalui platform e-commerce. Para juga pedagang meyakini bahwa pasar tradisional masih memiliki keunggulan tersendiri, terutama dalam hal interaksi langsung antara penjual dan pembeli serta kepastian kualitas barang yang dibeli.

Menurut mereka, keberadaan pasar tradisional tidak hanya berfungsi sebagai pusat perdagangan, tetapi juga menjadi sumber penghidupan bagi banyak masyarakat yang menggantungkan perekonomiannya pada aktivitas jual beli secara langsung.

Ditengah berbagai tantangan yang dihadapi, para pedagang berharap masyarakat tetap memberikan perhatian terhadap keberadaan pasar tradisional dengan berbelanja secara langsung. Mereka juga berharap adanya dukungan dari pemerintah melalui program pemberdayaan dan promosi pasar tradisional agar mampu bersaing dengan perkembangan perdagangan berbasis digital. Meskipun dihadapkan pada berbagai tantangan, para pedagang tetap optimistis mempertahankan usaha mereka. Mereka percaya pasar tradisional masih memiliki keunggulan tersendiri, terutama dari segi interaksi langsung antara penjual dan pembeli serta kesempatan bagi konsumen untuk melihat kualitas barang secara langsung sebelum membeli.

Maraknya perdagangan digital memang membawa perubahan besar dalam pola konsumsi masyarakat. Namun, keberadaan pasar tradisional sebagai pusat ekonomi rakyat dinilai masih memiliki peran penting dalam menggerakkan roda perekonomian daerah. Oleh karena itu, diperlukan dukungan dari berbagai pihak agar pasar tradisional tetap mampu bersaing dan bertahan di tengah pesatnya perkembangan perdagangan berbasis digital. (Red/Tim Media Skala Info Tanah Datar – Silvia Rahmania).

By Admin

-+=