Tanah-Datar, Skalainfo.net| Sore itu aktivitas di Pasar Batusangkar masih berlangsung seperti biasa. Sejumlah pedagang terlihat menawarkan dagangan mereka, sementara pembeli lalu-lalang mencari kebutuhan sehari-hari. Cuaca yang masih terasa panas tidak mengurangi aktivitas masyarakat di pasar tersebut. Kamis, 25/06/2026.
Diantara deretan pedagang yang ada, perhatian penulis tertuju pada seorang perempuan lanjut usia yang duduk di depan sebuah pertokoan. Ia tampak sendirian menjaga dagangannya yang tersusun sederhana di dalam beberapa wadah plastik. Tidak ada kios besar ataupun lapak permanen. Hanya berbagai bumbu dapur dan hasil kebun yang ditata rapi di hadapannya.
Saat didekati, perempuan tersebut menyambut dengan senyum ramah. Awalnya ia mengira penulis datang untuk berbelanja.
“Mau belanja?” tanyanya sambil tersenyum.
Penulis kemudian menjelaskan bahwa kedatangan tersebut untuk keperluan tugas kuliah dan ingin melakukan wawancara singkat. Mendengar hal itu, ia langsung mempersilakan dan bersedia menjawab beberapa pertanyaan.
Perempuan yang diketahui berusia 75 tahun itu mengaku telah berjualan sejak masih muda. Namun, ia tidak lagi mengingat secara pasti kapan pertama kali mulai berdagang. Aktivitas tersebut telah menjadi bagian dari kesehariannya selama puluhan tahun.
Berbagai barang yang dijualnya merupakan hasil kebun sendiri. Di antaranya jahe, serai, rimbang, asam, dan beberapa bumbu dapur lainnya yang biasa digunakan masyarakat untuk memasak. Hasil kebun tersebut kemudian dibawa ke pasar untuk dijual kepada pembeli.
Meski usianya tidak lagi muda, ia masih rutin datang ke pasar. Setiap pagi sekitar pukul tujuh, ia berangkat dari rumah menuju Pasar Batusangkar dengan menggunakan ojek. Rutinitas tersebut terus dijalaninya hingga saat ini.
Selama wawancara berlangsung, penulis memperhatikan bahwa pendengarannya sudah tidak sebaik dulu. Beberapa pertanyaan harus diulang agar dapat didengar dengan jelas. Meski demikian, ia tetap berusaha menjawab dengan ramah dan sesekali tersenyum.
Di tengah percakapan, perempuan tersebut juga sempat bercerita mengenai anak-anaknya yang kini telah merantau. Meskipun pembicaraan tidak berlangsung lama, terlihat bahwa ia menikmati ketika diajak berbincang.
Keberadaan pedagang seperti dirinya menjadi bagian dari wajah pasar tradisional yang masih bertahan hingga saat ini. Di tengah perkembangan zaman dan semakin banyaknya pilihan tempat berbelanja, pasar tradisional tetap menjadi ruang ekonomi bagi masyarakat, termasuk bagi para pedagang kecil yang menjual hasil kebun mereka secara langsung.
Pasar bukan hanya tempat transaksi jual beli berlangsung. Bagi sebagian orang, pasar juga menjadi ruang untuk menjalani rutinitas yang telah dilakukan selama bertahun-tahun. Aktivitas sederhana yang dilakukan setiap hari membentuk hubungan yang erat antara pedagang, pembeli, dan lingkungan pasar itu sendiri.
Bagi penulis, pertemuan singkat dengan perempuan lanjut usia tersebut memberikan kesan tersendiri. Bukan karena besarnya usaha yang dimiliki, melainkan karena semangatnya yang masih terlihat di usia senja. Dengan lapak sederhana dan dagangan hasil kebun sendiri, ia tetap menjalani aktivitas yang telah menjadi bagian dari hidupnya selama puluhan tahun.
Ditengah ramainya aktivitas Pasar Batusangkar, perempuan berusia 75 tahun itu terus menunggu pembeli yang datang. Duduk di depan dagangannya sambil sesekali tersenyum kepada orang yang lewat, ia menjadi salahsatu potret kehidupan sederhana yang masih dapat ditemui di pasar tradisional hingga hari ini. (Red/Tim Media Skala Info Tanah Datar – Salma Nurjanah).
