Batusangkar, Skalainfo.net| Siang hari yang terik aktivitas di Pasar Raya Batusangkar mulai ramai, suara tawar-menawar bercampur dengan kesibukan para pedagang yang menata dagangannya. Diantara deretan lapak sederhana itu, tampak seorang perempuan paruh baya yang sibuk menyusun sayuran dan pisang di atas meja sederhana yang beralaskan terpal. Perempuan itu adalah Sugiati, seorang pedagang yang telah menghabiskan lebih dari tiga dekade hidupnya di pasar tradisional tersebut. Sejak tahun 1995, Sugiati menjalani profesinya sebagai pedagang sayur dan buah. Selama 31 tahun, pasar bukan hanya menjadi tempat mencari nafkah baginya, tetapi juga saksi perjalanan hidup, perjuangan, dan pengorbanannya sebagai seorang ibu sekaligus tulang punggung keluarga. “Saya sudah berjualan dari tahun 1995 sampai sekarang,” ujarnya. Kamis, 25/06/2026.
Ditengah perubahan zaman, menjamurnya minimarket modern, hingga berbagai tantangan ekonomi yang terjadi selama bertahun-tahun, Sugiati tetap memilih bertahan di pasar tradisional tersebut. Baginya, berdagang bukan sekadar pekerjaan, melainkan jalan hidup yang harus dijalani demi keluarga. Keputusan Sugiati untuk terus berdagang tidak terlepas dari kondisi keluarganya. Ia mengungkapkan bahwa suaminya tidak dapat bekerja sehingga kebutuhan rumah tangga sepenuhnya bergantung pada hasil dagangannya. Setiap hari, ia datang ke pasar untuk menjual berbagai jenis sayuran dan pisang. Dari keuntungan yang tidak seberapa itu, ia berusaha memenuhi kebutuhan sehari-hari keluarganya. Hasil kerja keras tersebut juga berhasil mengantarkan ketiga anaknya menempuh pendidikan hingga dewasa.
Kini, dua anaknya telah berkeluarga. Sementara satu anak lainnya telah menyelesaikan pendidikan dan merantau ke Kalimantan untuk mencari pekerjaan. Bagi Sugiati, keberhasilan anak-anaknya menjadi sumber kebahagiaan tersendiri. Meskipun penghasilannya sebagai pedagang pasar tidak selalu stabil, ia bersyukur karena mampu membesarkan dan mendidik anak-anaknya hingga mandiri. Perjalanan panjang itu menunjukkan bahwa pasar tradisional tidak hanya menjadi pusat aktivitas ekonomi masyarakat, tetapi juga menjadi ruang perjuangan bagi banyak perempuan yang memikul tanggung jawab besar dalam keluarga. berdagang di pasar tradisional selama puluhan tahun tentu bukan perkara mudah. Berbagai tantangan harus dihadapi Sugiati hampir setiap hari.
Salahsatu tantangan yang paling sering ia rasakan adalah ketika warga dari kampungnya membeli dagangan dengan harga yang sangat murah. Situasi tersebut sering kali membuat keuntungan yang diperoleh menjadi semakin kecil. Bagi pedagang kecil, selisih harga yang tampak tidak terlalu besar bagi pembeli justru dapat berpengaruh terhadap pendapatan harian mereka. Apalagi harga kebutuhan pokok, biaya transportasi, dan harga barang dagangan terus mengalami perubahan. Namun, Sugiati memiliki cara tersendiri untuk tetap bertahan. Ketika ada warga kampung yang menjual hasil kebun berupa sayuran atau pisang, ia membelinya terlebih dahulu untuk kemudian dijual kembali di pasar. Strategi sederhana yang membantunya menjaga ketersediaan barang dagangan sekaligus tetap memperoleh penghasilan. Cara ini juga menunjukkan adanya hubungan saling mendukung antara pedagang dan petani atau warga yang memiliki hasil kebun.
Di balik kesederhanaannya, langkah tersebut menjadi bentuk adaptasi ekonomi yang dilakukan pedagang kecil agar tetap bisa bertahan dalam persaingan pasar. Kisah Sugiati mencerminkan kenyataan yang dialami banyak pedagang pasar tradisional di Indonesia saat ini. Di tengah kondisi ekonomi yang terus berubah, pedagang kecil menjadi kelompok yang paling merasakan dampak kenaikan harga barang, biaya distribusi, dan menurunnya daya beli masyarakat.
Ketika harga kebutuhan pokok meningkat, masyarakat cenderung lebih berhati-hati dalam berbelanja. Akibatnya, pedagang harus menghadapi penurunan penjualan sekaligus tekanan untuk menjual barang dengan harga yang lebih murah. Di sisi lain, pasar tradisional masih memiliki peran penting sebagai penggerak ekonomi rakyat. Pasar menjadi tempat bertemunya produsen kecil, petani, pedagang, dan konsumen dalam satu rantai ekonomi yang saling bergantung.
Sugiati adalah salahsatu contoh bagaimana sektor ekonomi informal tetap menjadi penopang kehidupan banyak keluarga. Dari lapak sederhana yang ditempatinya setiap hari, ia mampu menjalankan peran ganda sebagai ibu rumah tangga sekaligus pencari nafkah utama. Perjuangannya juga menunjukkan besarnya kontribusi perempuan dalam perekonomian keluarga. Tidak sedikit perempuan yang harus bekerja keras untuk memastikan kebutuhan rumah tangga tetap terpenuhi ketika kondisi ekonomi keluarga menghadapi keterbatasan. Puluhan tahun beliau habiskan waktunya di pasar, Sugiati tidak memiliki harapan yang banyak. Ia hanya ingin para pedagang kecil memperoleh tempat berjualan yang lebih layak. “Saya berharap kami yang pedagang kecil ini memiliki lapak yang layak untuk berjualan, untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari,” tuturnya.
Harapan tersebut mungkin terdengar sederhana. Namun, bagi pedagang kecil, keberadaan lapak yang nyaman, aman, dan memadai sangat berpengaruh terhadap kelangsungan usaha mereka. Perbaikan fasilitas pasar bukan hanya soal infrastruktur, tetapi juga bentuk dukungan terhadap ekonomi masyarakat kecil yang selama ini menjadi salah satu fondasi perekonomian daerah.
Di tengah hiruk-pikuk Pasar Batusangkar, kisah Sugiati mengajarkan kita bahwa ketangguhan sering kali lahir dari kesederhanaan. Selama lebih dari tiga dekade, ia membuktikan bahwa kerja keras, ketekunan, dan tanggung jawab terhadap keluarga mampu menjadi kekuatan untuk menghadapi berbagai kesulitan hidup. Saat banyak orang berbicara tentang pertumbuhan ekonomi dan pembangunan, sosok seperti Sugiati mengingatkan bahwa perekonomian sesungguhnya juga bertumpu pada para pedagang kecil yang setiap hari bekerja sejak pagi demi memenuhi kebutuhan keluarga. (Red/Tim Media Skala Info Tanah Datar – Tifani Ardana).

