Ngadirejo, Skalainfo.net| Kembalinya Peradaban; Sadar Berkesadaran dengan Memperkuat Etnosains; Kearifan Lokal untuk membangun satu kesatuan hidup untuk kelangsungan hidup bersama, atas azaz keadilan dan kesejahteraan hidup. Ngadirejo, 19 April 2026.

Etnosains Kuno Di Lereng Arjuno

Di Perpustakaan Baru Kuno Modern HORAIZO Klasik Kawasan Arjuno Induk Peradaban Dunia, ada arsip tentang Prasasti Katinden di Desa Ketindan Kecamatan Lawang Malang Utara, yang berisikan Maklumat Dari Raja Terakhir, yaitu Bhre Wirabumi Kerajaan Brawijaya Majapahit, tentang kewajiban masyarakat untuk menjaga hutan dari bahasa kebakaran, artinya Kerajaan pada jaman itu sangat peduli rakyat dan keamanan hutan, ini bisa menjadi sumber diplomasi literasi untuk dan bagi masyarakat Tengger Bromo, khususnya Desa NgadIrejo, karena pada Jaman Dahulu, Tengger Bromo adalah Tanah Ilah Ilah, Tanah Masyarakat Spiritual di Jaman Kerajaan Brawijaya Majapahit.

Memperkuat Etnosains

Kebakaran hutan yang terjadi di wilayah Bukit Keciri, Desa Ngadirejo, bukan sekadar bencana ekologi tahunan. Terjadinya peristiwa kebakaran hutan ini merupakan titik temu yang kompleks antara fenomena alam, aktivitas manusia, dan sistem pengetahuan lokal yang disebut Etnosains.

Kepekaan Rasa dan Rasa Berkesadaran

Memahami peristiwa tersebut dalam sudut pandang Etnosains berarti menggali bagaimana masyarakat Tengger berinteraksi dengan lingkungan mereka, dan bagaimana kearifan lokal tersebut dapat menjadi solusi sekaligus tantangan dalam mitigasi bencana. Bagi masyarakat Ngadirejo Tengger, Bukit Keciri bukan hanya hamparan vegetasi, melainkan bagian dari ekosistem yang mendukung kehidupan agraris mereka.

Faktor Penyebab

Berdasarkan data lapangan, kebakaran yang terjadi di Bukit Keciri sering kali dipicu oleh beberapa faktor yang sangat beragam, seperti:

  1. Faktor Klimatologi: Fenomena El Nino yang mengakibatkan kekeringan berkepanjangan di lereng Bromo dan juga memicu kebakaran di hutan Bukit Keciri.
  2. Topografi: Kemiringan Bukit Keciri yang cukup terjal membuat api merambat dengan begitu cepat secara vertikal. Hal ini dapat menyulitkan proses pemadaman manual oleh oleh relawan dan petugas.
  3. Aktivitas Manusia: Data menunjukkan bahwa beberapa titik api berasal dari kelalaian manusia dan aktivitas perburuan yang membuang putung rokok sembarangan.

Kearifan Lokal dalam Mitigasi Bencana

Etnosains memainkan peran ganda dalam peristiwa kebakaran hutan di Bukit Keciri. Di satu sisi, modernisasi dapat mengikis kepatuhan terhadap peraturan adat. Tetapi di sisi lain, pembaruan etnosains terbukti secara nyata menjadi alat mitigasi yang efektif. Seperti:

  1. Sekat Bakar Tradisional: Praktik pembuatan “larikan” atau pembersihan lahan di setiap perbatasan ladang dan hutan. Hal ini dapat meminimalisir terjadinya bencana agar waktu kebakaran tidak terlalu luas.
  2. Sistem Peringatan Dini Berbasis Alam: masyarakat lokal sering kali mengetahui potensi kebakaran hutan dengan cara mengamati perilaku satwa yang turun gunung.
  3. Kearifan Spiritual: Ritual adat yang dilakukan masyarakat Ngadirejo Tengger yang dapat berfungsi sebagai mekanisme kontrol sosial. Penghormatan terhadap alam yang ditanamkan sejak dulu melalui nilai-nilai kepercayaan dan tradisi luhur menjadikan masyarakat merasa memiliki tanggung jawab moral untuk menjaga kelestarian hutan.

Penguatan Kapasitas Etnosains Masyarakat

Peristiwa kebakaran Hutan di Bukit Keciri, Ngadirejo, Tengger memberikan pelajaran berharga, bahwa mitigasi bencana bukan hanya sekedar kesiapan alat dan teknologi. Tetapi perlu adanya kesadaran dan sinergi masyarakat lokal untuk tetap menjaga dari kerusakan ekosistem.

Menempatkan masyarakat Ngadirejo bukan hanya sebagai korban, melainkan sebagai subjek  penjaga hutan yang dibekali dengan pengetahuan leluhur. Ini adalah kunci utama untuk menjaga kelestarian Bukit Keciri dan keberlangsungan hidup masyarakat Ngadirejo. Sudah sepatutnya kita sebagai manusia untuk berterima kasih kepada alam yang telah memberikan kehidupan. Jika manusia bisa menjaga alam, alam pun bisa menjaga manusia. (Red).

Penulis: Miftahuz Zainiah/ Nia.

-+=