Pasuruan, Skalainfo.net| Kita semalaman mengalami proses kejadian naturalisasi aliran energi leluhur, dan semesta raya kembali telah merestui, hal ini digenapi dengan tanda jeda hawa rasa, ruang alam sekitar sekelebat, hening sunyi, menjadi nyenyet, sunya ruri, udara berasa berhenti geraknya sejenak, sekitar jam 00.00 di sela-sela pembicaraan yang bergelombang fase rasa momentumnya, dari berdua, bergeser bertiga, bergeser berempat, hingga terakhir genap berlima.
Hingga kembali berdua, total durasi waktu mencapai 6 jam nonton, waw pecah rekor ngobrol via teknologi wa call, dari Purwosari, Mojokerto, Tangerang, Hingga Kabupaten 50 Kota, Bukit Tinggi Sumatera Barat, ditandai bunyi suara Ayam Jago berkluruk, tengah malam itu kembali bersahut sahutan, sebuah tanda kesakralan energi suci murni sedang rawuh, hadir mendampingi, merestui kerja-kerja budaya hidup kehidupan Manusantara Massa Kini. Purwosari Pasuruan, Senen, 13 April 2026.
Inilah anugerah alam alami; detik detak nit menit jam jaman jantung kesadaran peradaban yang Kita dapatkan berlima selama 6 jam tersebut.
Dipimpin oleh Realitas Hikmat Kebijaksanaan Alam Ilahi
Kita berangkat dari realita perjalanan sejarah wawasan kebangsaan yang besar, di bumi nusantara; berbasis gerak dan kehendak alam, sinergi, tersinergi, bersinergi, bersihnergi dengan penggenapan dari tanda-tanda jaman keemasan Manusantara Indonesia Raya.
Terbukalah Epik Baru
Wah, Semacam bacaannya berat nih! Tapi keren juga, kayak puisi epik!
Kita sedang membahas tentang pentingnya memahami dan menghargai sejarah, kebudayaan, dan kearifan lokal Nusantara untuk mencapai kemajuan dan keemasan bangsa.
Leluhur Itu Open Mainded, Toleran, Terbuka dan Momot
Enerjologi Solidaritas Kebijaksanaan Leluhur itu kayak konsep memanfaatkan energi dan kebijaksanaan leluhur untuk membangun masa depan yang lebih baik.
Gerak dan kehendak alam, sinergi, bersinergi, bersihnergi… semua itu kayak konsep harmoni dan keseimbangan antara manusia, alam, dan semesta. Tanda-tanda jaman keemasan Manusantara Indonesia Raya itu kayak visi dan harapan untuk masa depan yang lebih cerah dan sejahtera.
Epik Epos Besarnya
Kandungan Keutuhan Kebijaksanaan Leluhur, Terbaca Utuh dalam Satu Persatuan Berkesatuan Utuh, yaitu “Sloka Sastra Realita”.
Apa Itu Sloka, Sastra dan Realita
Kita bertahap dan berjenjang, melangkah dengan pasti sudah memasuki ke ranah filsafat bahasa dan sastra nih!
Sloka itu kayak puisi atau syair yang mengandung makna filosofis atau spiritual, biasanya dalam tradisi Hindu atau Buddhis. Sastra itu karya tulis yang memiliki nilai kemurnian, keindahan, kesucian, dan makna yang mendalam hingga ketemu realita Ghoib nyatanya, bisa berupa puisi, prosa, drama, epik, epos, dll.
Realita itu kenyataan atau keadaan yang sebenarnya, bisa berupa fisik atau non-fisik, tak kelihatan (Ghoib). Siji (Satu) Kurang, Loro (Dua) Ganjil, Telu (3) Ganep : TriTunggal, Telu Telu Ngatunggal; Siji Ora Dadi, Loro Ora Kanggo, Telu Mlaku. Ketika Kita berhenti dan terjebak hanya sampai Sloka, Perumpaan, Simbol simbol, pembelajaran dan pencarian Kita belum jejer, lanjutkan ke langkah berikutnya.
Ketika Kita hanya berhenti sampai “Sloka Sastra”, Kita jadinya hanya Ngejer Melonkolis, Nangis Histeris terjebak massa lalu dan massa depan, Jiwanya Meronta Batinnya tidak otentik, kekinian ambyar tertelan emosi perasaan, reaktif tidak proaktif, sensitif tidak peka rasa, hingga paling parahnya Kita takkan sanggup bertemu dengan Realita. Kita sejujurnya telah melarikan diri dari Realita Gesang Kasunyantan adaNya; Ketika Kita sempurna memasuki Jenjang Ketika Utuh, ‘Jejer Jejek TriOKSI Sloka Sastra Realita” baru Kita menjadi menuju bulat Sempurna adaNya.
Selamat Anda memasuki Alam Nyata TriOKSI Sloka Sastra Realita wes JEJEK, baru JEJER !!!
Jenjang Tahap Mengolah dan Menggunakannya
Resonansi terenonansi dan beresonansi tanpa void tanggung gelombang apapun, semua nampak gamblang, menjadi terurai dengan sendirinya, teranalisa, terolahan…
Sampai fase ini Kita kayak sedang membahas tentang proses menganalisis dan mengolah kata-kata, bahasa, dan makna. Bahan baku, kata dasar, punya kata fungsi dan kata kerja… itu kayak komponen-komponen bahasa yang digunakan untuk menciptakan makna.
Saat saat itu adalah moment yang istimewa, untuk Kita membahas tentang bagaimana bahasa dan sastra bisa digunakan untuk memahami dan mengungkapkan realita.
Keutuhan Kata, Fungsi Kata dan Kerja Kata
Dalam Kita sadar Berkesadaran akan adanya “Segitiga Struktur Sistem Hidup Kehidupan” tersebut harus selalu ada, baru segala hal menjadi lebih mudah terurai fungsi dan kerjanya, ketika hilang salah satu diantaranya, tidak utuh ketiganya, meski nampaknya tiga (3) disebut angka ganjil, namun justru itulah ganep genap, ada nya tiga (3) prinsip Di dalam setiap Kata benda, ada kandungan Kata Fungsi dan Kata kerjanya, kalau satu kesatuan utuh pasti jadi filosofi itu, filosofi itu bahasa kesatuan satu yang menyatu menjadi satu itulah disebut kata, simbol, batik yang tingkat filosofi tersebut.
Penjelasan Trioksi Kebijaksanaan Leluhur
Kita memasuki jenjang selanjutnya ke ranah filsafat bahasa yang lebih mendalam!
Segitiga sistem struktur hidup kehidupan… Kita sepertinya membahas tentang konsep triadik, yaitu tiga komponen yang saling terkait dan membentuk satu kesatuan. Hilang salah satu, tidak utuh… benar sekali, karena ketiga komponen itu saling melengkapi dan membentuk satu sistem struktur hidup kehidupan yang utuh.
Dari Dualitas Menuju Tak Dualitas
Dalam ganjil dan genap… Kita sepertinya membahas tentang konsep dialektika, yaitu proses interaksi antara dua atau lebih komponen yang membentuk satu kesatuan yang lebih tinggi. Sementara dalam kelengkapan keutuhan kebijaksanaan leluhur, Angka Tiga (3) yang Angka ganjil itu justru inilah ganepnya genap dua (2).. bisa dibilang begitu, karena tiga komponen itu membentuk satu kesatuan yang utuh dan seimbang.
Literasi Bakunya
Filosofi itu bahasa kesatuan satu yang menyatu… benar sekali, filosofi itu berasal dari kata Yunani “philosophia”, yang berarti “cinta akan kebijaksanaan”Selanjutnya, Kita sedang membahas tentang bagaimana bahasa dan konsep bisa digunakan untuk memahami dan mengungkapkan kebijaksanaan dan kebenaran sesungguhNya.
Keutuhan Kebijaksanaan Leluhur Pertama
Contoh konkret tentang konsep triadik dan filosofi bisa dilihat dalam konsep “Tri Hita Karana” di Bali, yang berarti “tiga sumber kebahagiaan”. Konsep ini membahas tentang tiga aspek yang harus seimbang dalam kehidupan, yaitu:
- Parahyangan (hubungan dengan Tuhan).
- Pawongan (hubungan dengan sesama manusia).
- Palemahan (hubungan dengan alam).
Keutuhan Kebijaksanaan Leluhur Kedua
Ketiga aspek ini harus seimbang dan harmonis, sehingga kehidupan menjadi utuh dan bahagia. Orep Urup Urap… sepertinya itu adalah konsep filosofis dalam budaya Jawa, yang berarti “hidup adalah proses menjadi”.
Orep (hidup) -> Urup (menjadi) -> Urap (terwujud)
Konsep ini membahas tentang bagaimana hidup adalah proses terus-menerus menjadi dan berubah, sehingga kita harus terus belajar, berkembang, dan beradaptasi.
Sinergitas Keutuhan Diantara Keduanya. Orep Urup Urap + Trioksi (Sloka, Sastra, Realita).
Sepertinya Kita sedang membahas tentang bagaimana konsep Orep Urup Urap itu terkait dengan tiga aspek, yaitu:
- Sloka (kata-kata, bahasa, konsep).
- Sastra (karya tulis, ekspresi, kreativitas).
- Realita (kenyataan, kehidupan, pengalaman).
Dengan demikian, Orep Urup Urap menjadi konsep yang lebih utuh, yaitu proses menjadi dan berubah dalam konteks bahasa, ekspresi, berpikir, berucap, bertindak, dan kenyataan.
Keutuhan Leluhur Kebutuhan Manusiawi
Kita dii bawa ke ranah yang lebih praktis nih!
Orep Urup Urap + Trioksi (Sloka, Sastra, Realita) + Kebutuhan Papan, Sandang, Pangan. Sepertinya Kita sedang membahas tentang bagaimana konsep Orep Urup Urap itu terkait dengan kebutuhan dasar manusia, yaitu:
– Papan (tempat tinggal, keamanan).
– Sandang (pakaian, identitas).
– Pangan (makanan, kesehatan).
Dengan demikian, Orep Urup Urap menjadi konsep yang lebih aplikatif, yaitu proses menjadi dan berubah dalam konteks memenuhi kebutuhan dasar manusia.
Risalah Sejarah Keutuhan Bambu Leluhur Jawa
Dalam Sloka Sastra Realita ,”Teken Tekan Tekunnya, wasilah ilmu Ngelmu perihal bBmbu, Pring Bambu peringatan, Tiyang Bambu tiying tiyung, sampai balung bambu, ruas Ros rosone Deling-sun, Susunan Sumsum, sari pati, inti sari pati, inti ROSO OREP SEJATI Bambu.
Perjalanan Mencari Inti Realita
Wah, Kita memasuki ke ranah spiritual dan filosofis yang dalam!
Bambu… simbol kekuatan, fleksibilitas, dan kesederhanaan. Pring Bambu peringatan… sepertinya Kita membahas tentang bagaimana bambu bisa menjadi pengingat untuk hidup yang lebih sederhana dan kuat.
Tiyang Bambu tiying tiyung… bisa dibilang itu tentang proses hidup yang terus berlanjut, seperti ruas bambu yang satu demi satu tumbuh dan berkembang. Balung bambu… sumsum, sari pati, inti sari pati… klita sepertinya membahas tentang bagaimana inti dari hidup itu ada di dalam diri kita sendiri, yaitu ROSO OREP SEJATI (rasa hidup sejati).
Menemukan Hidup Diri Sejati
Bagaimana Kita bisa menemukan inti hidup sejati dengan memahami diri sendiri dan alam sekitar? Bisa dibilang, itu tentang proses introspeksi dan koneksi dengan alam. Kita harus memahami diri sendiri, kekuatan dan kelemahan Kita, serta bagaimana kita terkait dengan alam sekitar. Dengan demikian, kita bisa menemukan keseimbangan dan harmoni dalam hidup, serta mencapai rasa hidup sejati.
Tapi, itu semua tergantung pada kepekaan rasa sudut pandang perspektif dan pandangan pengalaman keluasan holistik komprehensif nya masing-masing orang. (Red).
Oleh : Guntur Bisowarno Praktisi Manusia Sastra Budaya Canggih.
