Pasuruan, Skalainfo.net| Sinergi Gerak; Intelektual Akademik & Adat Spiritual Bromo Tengger, bersamaan dengan acara Saresehan Ekonomi Hijau dan Inisiasi Dana Abadi Pendidikan di Desa Ngadirejo bersama Unair, Perhutani, LMDH Cemara Indah, Jurnalis Etnosistem Bali Nusantara, Satgas Peduli Mata Air Nusantara, Pendampingan Jurnalis Media Indepence Skalainfo.net pada (28/3/2026) lalu.
Di malam harinya Jumat Sabtu 28-29 Maret 2026 berlangsung juga Pagelaran Wayang Kulit Ringgit Purwo Klasik di Desa Wonokitri Tengger Bromo dengan Ki Dalang Winarno Sabda NWB Ngesti Wedharing Budaya.
Pagelaran Gesang Kasunyatan Pandu Swarga
Ki Dalang Ki Winarno Sabda Sanggar NWB Ngesti Wedharing Budaya Kebon Candi Gondang Wetan Kabupaten Pasuruan Jawa Timur, memberikan narasi perihal proses perjalanan hidup kehidupan dalam lakon ini, sebuah cermin bagi Kita semua, bahwa Wayang adalah salah satu Bukunya Manusia Jawa, ya Manifestasi Massa Kesadaran Manusia Jawa dalam mengenali, memahami dan mengerti arti makna diri dan hidupnya, tujuan hidup dan membaca realitas hidupnya serta belajar mengerti hidupnya sampai pada kesadaran utamanya dalam menghayati jejer sosok bayangan rasa hidup sejati itu adaNya (Hikmah Bersama dalam Saresehan Kaweruh Batin Tulis Tanpa Papan Kasunyatan, Padepokan Pasuruan 1, (Sabtu Minggu, 4-5/4/2026).
Babat Pandu Swarga “Pandu Swarga”
Raden Werkudara pergi dari kasatryannya, untuk bertapa di Gua Paminta untuk melaksanakan tapa brata dalam artian untuk mahas ing asamun artinya ngraga sukma menuju ke kahyangan bertemu dengan Sang Hyang Guru, artinya Sang Bratasena ingin mengajak ayahnya prabu Pandu dan Dewi Madrim yang berada di Neraka (belum di alam langgeng). Karena sudah lama Prabu Pandu dan Dewi Madrim lama di neraka, perjalanan Sukma nyawanya belum sampai ke Swarga Loga/ Alam Langgeng, maka oleh Sang Hyang Guru memperkenankan Prabu Pandu dan Dewi Madrim untuk naik ke swarga loka, atas permintaan dari Raden Bratasena.
Perjuangan Tata Brata Seorang Anak Pada Orang tuanya
Namun perjalanan Sang Bratasena menemui Sang Rama Prabu Pandu dan Dewi Madrim tidak semudah yang dibayangkan harus melalui rintangan dan cobaan, namun karena kekuatan Sang Bratasena sudah bertekat bulat ingin menyuwargakan Sang ramanya, ayahandanya, yaitu Prabu Pandu dan Sang Ibu Dewi Madrim, apapun yang terjadi tetap dilaksanakan. Akhirnya, Raden Bratasena dengan ketekunan, kegigihan dan keyakinannya yang kuat pada Sang Maha Gesang dan diridhoiNya laku tapa bratanya dan laku bakti luhurnya pada kedua orang tuanya tersebut, sehingga Prabu Pandu dan Dewi Madrim berhasil naik Sukma Nyawanya menuju ke alam Swarga Loka.
Demikian sekilas ceritanya. Tradisi Tengger Bromo: Hajad Entas Entas & Tugel Pucung.
Tujuan Entas Entas
Entas-entas adalah merupakan adat orang Tengger Bromo yang selalu dilestarikan secara turun tumurun. Entas-entas mengandung makna mengentaskan leluhur yang sudah meninggal untuk menuju ke swarga loka/alam langgeng.
Mengentaskan para leluhur untuk menuju ke alam langgeng dan minta kemulyaan agar para putra wayah bisa menikmati hidup didunia penuh dengan kedamaian.
Media Entas Entas
Entas-entas perlu adanya banyak banten atau Yadnya istilah Sastra Sansekerta Prasadham artinya mohon ampunan dosa agar Dewata Agung mengampuninya dan memberikan kemulyaan kepada para putra wayah.
Praktek Filosofi
Filosofis dari entas-entas adalah agar leluhurnya yang di entas kembali ke Alam Langgeng / Swarga Loka semua prasarana dari Entas Entas yang berupa yadnya tadi dipuja oleh Romo Pandeta Dukun sebagai orang yang mempunyai Sastra Sastra Weda atau Japa Mantra istilah orang Tengger Bromo Mantra Japa Dikun.
Diperuntukkan kepada siapa
Untuk pengertian Tugel Kuncung adalah diberikan kepada anak yang mau menginjak dewasa artinya dipotong rambutnya atau dipangur giginya (dibersihkan).
Tugel Kuncung juga mengandung arti membersihkan balak sangkal agar kelak tidak ada yang akan mengganggu ketentraman anak tersebut.
Demikian sekilas pengertian Entas Entas dan Tugel Kuncung. (Red).
Oleh : Guntur Bisowarno Praktisi Manusia Sastra Budaya Canggih.

