Kediri, Skalainfo.net| Sungai adalah Jati diri kita; Sungai Serinjing merupakan Mahakarya dari Hyang Bagawanta Bhari. Tokoh Spiritual Penting yang literasi karyanya tertuang dalam Prasasti Harinjing 25 Maret 804 M. Prasasti Harinjing menjadi dasar penetapan Hari jadi Kabupaten Kediri, setiap tanggal 25 Maret. Kediri Jawa Timur, Rabu, 25 Maret 2026.
Fungsi sungai di era lama
yaitu:
-Mitigasi Bencana.
-Alat Transportasi.
-Sumber pengairan.
-Lambang Kemakmuran negri.
Sudah sepatutnya sungai terus terjaga kebersihannya dan kelestariannya bagi generasi penerus bangsa. Sebagai wujud Bhakti leluhur bagsa, warga Kediri Raya menggelar Metri Hyang Bagawanta Bhari ke 1222, yang berlokasi di bantaran sungai Serinjing dusun Kedungcangkring, Desa Jambu, Kediri.

Acara berlangsung tanggal 24 Maret jam 19.00 – selesai.
Acara di hadiri lintas komunitas, penggiat budaya, tokoh masyarakat, lintas agama, warga desa, penggiat sungai hingga penggiat budaya luar Kediri.
Terdeteksi hadir ada penggiat budaya Jombang, Mojokerto, Malang, Tulungagung, Blitar, Nganjuk, Jawa tengah.
Tujuan Kegiatan, “Kegiatan ini bertujuan untuk Merajut Kebhinnekaan Nuswantara,” ujar Zein Irfan selaku panitia acara.
Pesan Melestarikan Sungai dan kembali ke ajaran leluhur di sampaikan oleh Ki Maryani selaku sesepuh Budaya dalam sambutan acara.
Rangkaian acara Metri Hyang Bagawanta Bhari meliputi:
-Pembukaan.
-Pasujudan.
-Menyayikan lagu Indonesia Raya dan Pembacaan Pancasila.
-Sambutan tokoh.
-Ujub Dongo.
-Doa lintas Agama.
-Larung Sesaji.
-Ramah Tamah.
Penting nya mengenal sejarah Hyang Bagawanta Bhari dan sungai Serinjing, menjadi pesan dari Arif Fauzi selaku ketua Panitia dan penggiat Sungai. Seluruh acara berlangsung dengan khidmat dan sakral. Romantisme doa, pujian, Mocopat, hatur leluhur selaras dengan gemericik syahdu suara sungai Serinjing dan alam raya di sekitarnya. Hening malam yang merayap, menambah khusuknya acara Metri Hyang Bagawanta Bhari.
Larung Syukur, “Larung sesaji di sungai Serinjing, wujud Bhakti ke alam semesta,” ujar Bu Dwi.
Membuat Prasasti, sesi akhir acara di simbolkan dengan Tanam Pohon Pule dan Pohon Pancasila, sebagai wujud aksi Pulehnya Ajaran Leluhur dengan Gotong Royong, dalam bingkai perbedaan, pungkas Ari Hakim.
Terima kasih atas kerjasama semua pihak Semoga bermanfaat. (Red/Team/Guntur Bisowarno).

