Pasuruan, Skalainfo.net| Skenario Perjalanan Double Degree; Perjalanan akademik bukan hanya sekadar perpindahan ruang kelas, melainkan perpindahan pola pikir, mindset, pola pikir yang mau berpikir, sudut pandang, dan pandangan hidup yang secara utuh dan terus menerus menjadi lengkap seutuhnya dari Gambaran dari Arah dan Tujuan Skenario Perjalanan Pendidikan dan Jenjang Akademik yang bakal saya tempuh. Ngadirejo, Kecamatan Tutur, Kabupaten Pasuruan, Jawa Timur. Jumat, 27 Maret 2026.
Bagi saya, seorang mahasiswi Universitas Terbuka dengan Program Studi Pariwisata, kesempatan emas datang menyapa perhatian akademis dari Prof. Dr. H. Muhammad Adib, Drs, M. A., dari Universitas Airlangga Surabaya dan Bapak Guntur Bisowarno S.Si Apt yang menjadi perantara antara kita, berupa adanya Peluang yang bisa saya dapatkan ini bukan hanya sebagai penerima program beasiswa berbasis udara hasil penanaman 10.000 bibit Pohon Cemara Gunung di Kawasan Desa Ngadirejo Kecamatan Tutur Kabupaten Pasuruan Jawa Timur, melainkan sebuah jembatan untuk mewujudkan mimpi besar: yaitu meraih double degree, S1 UT Program Pariwisata dan S1 Etnosains Antropologi FISIP UNAIR serta dapat memberikan dampak nyata bagi perubahan kemajuan Peradaban Putra Putri Tengger di Desa Ngadirejo.
Dasar Kemandirian
Sebagai mahasiswa yang terbiasa dengan fleksibilitas sistem belajar mandiri di Universitas Terbuka, saya memandang kesempatan tersebut, untuk mendapatkan beasiswa dari Prof. Adib sebagai bentuk pengakuan atas adanya potensi lokal yang kerap kali luput dari perhatian. Bagi saya, kesempatan ini adalah sebuah validasi kualifikasi keilmuan yang sesuai dengan potensi saya, desa saya dan peluang kampus serta ruang belajar merupakan medan perjuangan belajar yang tidak terbatas.
Saya melihat peluang kuliah di Unair sebagai laboratorium yang bisa melengkapi, sinergi dan bisa berkolaborasi kedua ilmu double degree tersebut. Jika di Pariwisata UT saya belajar mandiri secara teori, maka di Unair saya berharap dapat menyerap ekosistem akademik yang lebih intensif, kronologis dan sistematis.
Cita-citanya untuk mengejar untuk menjalani double degree bukan hanya sebagai gelar semata, melainkan tentang mengkolaborasikan dan mensinergitaskan dua perspektif berbeda untuk memperkuat fondasi keilmuannya dalam membangun sektor pariwisata yang berbasis riset dan data, narasi beserta analisisnya bagi perbaikan,l penyempurnaan, pengembangan, serta pilihan ilmu dan berkesesuaian dengan kegiatan yang paling tepat untuk dikerjakan.
Satgas Peduli Mata Air Ngadirejo
Saya ditunjuk sebagai Ketua Satgas Mata Air Desa Ngadirejo, bagi saya hal ini sangat bermakna karena peran ini adalah implementasi dari konsep “Ethnoscience” yang menghubungkan kearifan lokal dengan pendekatan saintifik modern.
Komitmen Saya
Sebagai putri daerah yang berasal dari Desa Ngadirejo, saya memandang posisi ini dengan penuh rasa tanggung jawab yang mendalam
Kepemimpinan:
Saya menyadari bahwa sebagai warga lokal, saya memiliki modal sosial untuk menggerakkan masyarakat. Bukan orang asing yang datang hanya membawa instruksi, melainkan bagian dari Putri Peradaban Tengger yang berjuang menyelamatkan sumber kehidupan desa.
Sinergi Keilmuan:
Pengetahuan Etnosains dan Ilmu Pariwisata memberikan perspektif unik, bahwa sumber mata unir bukan hanya sebagai sumber air bersih, tetapi aset ekowisata yang harus dijaga kelestariannya agar tetap lestari (sustainable).
Jembatan antara Desa dan Kampus:
Bagi saya, saya adalah penerjemah Bahasa Akademik Unair ke dalam bahasa yang lebih praktis dan sederhana yang dapat mudah dipahami oleh masyarakat Desa Ngadirejo.
Saya akan mengusahakan bahwa seorang mahasiswa desa tidak harus memilih antara pendidikan tinggi atau pengabdian masyarakat. Keduanya bisa saling berjalan beriringan, tentunya dengan terus belajar dan berusaha mengembangkan potensi yang saya miliki. Dari ruang kuliah di Surabaya hingga tepian mata air di Ngadirejo, saya sedang menuliskan cerita tentang bagaimana pendidikan mampu mengubah seorang mahasiswa menjadi pemimpin masa depan.
Oleh : Miftahuz Zainiah Nia (19 Thn).
Editor: Guntur Bisowarno Ketua Satgas Peduli Mata Air Nusantara.
