Pasuruan, Skalainfo.net| Menimbang Komitmen dari Guntur Bisowarno, Ketua Satgas Peduli Mata Air Nusantara, yang sudah dikukuhkan di Oak Lawang Hotel (Sabtu Malam Minggu, 31/1/2026). Sesudah beliau selama seminggu berjuang dalam proses menemukan solusi transformasi inovatif kreatif terpadu dari perencanaan menuju tahapan dalam menyusun alur mekanisme kerangka kerja; untuk menjadi landasan dari keputusan multipihak untuk melakukan proses perubahan yang inovatif dan kreatif, sesudah dilakukan diplomasi dan negosiasi dalam memastikan adanya konfirmasi yang positif oleh Beliau kepada Prof. Dr. Agus Hery Supadmi Irianti, M.Pd dari Universitas Negeri Malang, yaitu kesediaan Prof dalam menggunakan Penemuan Sains Teknologi Batik Berfilosofi dengan Teknik Grading, sebagai responsilitas proses hilirisasi pencapaian bidang keilmuannya, sebagai tanggapan Beliau atas kehadiran tulisan mekanisme berpikir dari saya, kepada Putri Peradaban Tengger Bromo, yaitu tulisan Miftahuz Zainiah (Nia) Ketua Satgas Peduli Mata Air Ngadirejo di bawah ini:
Ngadirejo Kec. Tutur Kabupaten Pasuruan, Selasa, 23/2/2026.
Berdasarkan dokumen Petunjuk Teknis Banpem Fasilitasi Pemajuan Kebudayaan Tahun 2026 (Baca: sudah ada dalam bentuk buku foto kopi cetakan di tangan saya red), yang menjadi fokus utama ialah upaya Pemajuan Kebudayaan untuk meningkatkan ketahanan budaya, termasuk bidang spesial dan khusus yang disebut dengan istilah Membangun Peradaban Ekonomi Hijau berbasis Kredit Karbon di Desa Ngadirejo dari bukti kehadiran dan keberadaan; Budaya Kearifan Lokal Universal dalam Bidang Ketahanan Pangan dan Sandang berbasis Kekayaan Sumber Daya Alam Hutan Kawasan Desa Ngadirejo serta bangkitnya masa kesadaran masyarakat desa hutan Ngadirejo dalam membangun budaya gotong-royong dan kerukunan untuk melakukan adaptasi daya tahan atas perubahan iklim lingkungan hidupnya, yaitu sudah mendesaknya bencana tanah longsor di Kawasan Desa Kami; melalui pemanfaatan, pengembangan, dan perlindungan objek kebudayaan, dalam hal ini adalah Perlindungan Mata Air Ngadirejo sebagai 62 Titik Sumber Mata Airnya, berbasis Penanaman 10.000 Bibit Pohon Cemara Gunung di Kawasan terkena bencana banjir longsor. Selasa, 03/03/2026.

Bantuan pemerintah ini juga membuka peluang dan ruang bidang garap berbasis budaya lokal universal dalam memfasilitasi pendanaan untuk kegiatan kebudayaan kepada pelaku budaya; dalam hal ini masyarakat desa penyangga hutan Bromo desa Ngadirejo.
Batik Sebagai Objek Pemajuan Kebudayaan;
Berdasarkan dokumen Petunjuk Teknis Banpem tersebut; Fasilitasi Pemajuan Kebudayaan Tahun 2026 tersebut, adalah seni dan pengetahuan tradisional adalah objek yang sangat diprioritaskan. Dalam ini Karya Batik bukan hanya sekadar kain, tetapi sebagai warisan budaya yang memiliki filosofi dan mengandung nilai moral serta spiritual yang tinggi secara teoritis dan praktis, sehingga memenuhi kriteria objek yang perlu dikembangkan dan dilindungi.
Penggunaan teknik grading adalah cara yang tepat untuk pengembangan kebudayaan, karena cukup relevan atau fleksibel dengan tantangan zaman (modernisasi) tanpa kehilangan jati diri bangsa.
Seperti yang Kita ketahui, para generasi muda mungkin sudah mulai tidak peduli terhadap nilai dan makna dari filosofi karya batik warisan para leluhur bangsa Nusantara Kita. Ini adalah salah satu upaya untuk tetap melestarikan dan mewariskan budaya karya batik terhadap generasi selanjutnya.
Kearifan Lokal Ngadirejo;
Usulan Motif Batik yang mengangkat ikon-ikon lokal universal seperti “Godhong Cemara Gunung” dan “Simbol Mata Air” merupakan implementasi nyata dari merawat dan menjaga nilai nilai luhur serta kearifan budaya lokal universal desa Ngadirejo.
Dari adanya perencanaan dan penyusun alur mekanisme kinerja aplikasi tersebut, dibawah bimbingan dan pengarahan langsung dari Guru Besar Universitas Negeri Malang yaitu Prof. Dr. Agus Hery Supadmi Irianti, M.Pd., pasti terdapat beberapa kegiatan yang akan dilaksanakan, seperti:
- Dokumentasi karya budaya seperti pendokumentasian filosofi, makna, warna, bahan dan nilai batik, serta hubungannya dengan air dan sumber mata air serta simbol khas Desa Ngadirejo.
- Workshop/ Sarasehan sebagai upaya untuk mengedukasi mengenai makna filosofis batik khas Ngadirejo kepada masyarakat desa Ngadirejo khususnya, dan masyarakat pada umumnya atau penggiat fashion di Kalangan Kecamatan Tutur dan Kabupaten Pasuruan serta Propinsi Jawa Timur.
- Pemberian Apresiasi dalam bentuk Pameran apabila hasil teknik grading tersebut dipamerkan sebagai bentuk solusi transformasi inovatif kreatif dari pelestarian budaya lokal universal Putra Putri Peradaban Tengger Bromo.
Potensi Penerimaan Bantuan;
Dukungan dan Kedatangan langsung ke Desa Ngadirejo Kami di Bulan Syawal Tahun 2026 berupa Program yang dipimpin oleh Prof. Dr. Muhammad Adib dan Para Dosen yang telah terpanggil untuk terlibat langsung bersama 6 orang mahasiswa jurusan Antropologi Lingkungan dari Laboratorium Manusia, Budaya dan Ragawi FISIP UNAIR, bersama Kepala Perhutani Divisi Regional Jawa Timur (Baca : Pertemuan Sinergitas Kolaborasi Unair dan Perhutani Divisi Regional Jawa Timur, Senin, 2 Maret 2026. red.), dapat dikategorikan sebagai kelompok atau lembaga yang mampu membuat SOP (Standar Operasional Prosedur) dalam melakukan kegiatan di bidang riset teoritis dan praktis model kepemimpinan transformasi ekonomi hijau inovatif kreatif berbasis kredit karbon di Kawasan RPH 22 Sugro, mendaya gunakan 10.000 Bibit Pohon Cemara Gunung; Berbasis kebudayaan Lokal Universal, khususnya Budaya Peradaban; Putra Putri Peraadaban Bromo Tengger, untuk mengajukan proses pemajuan dan melajunya solusi transformasi inovatif kreatif Kebudayaan Desa Ngadirejo tempat Kami tinggal ini.
Perencanaan Pembuatan Sprei BATIK ‘Homestay’ Ngadirejo Berbasis Teknik Grading, merupakan contoh konkret dari Implementasi Solusi Transformasi Inovasi kreativitasnya dari Pemajuan Kebudayaan yang dimaksud dalam dokumen Juknis di atas. Inovasi Teknik Grading pada Motif Batik Klasik Berfilosofi merupakan upaya perawatan & pelestarian yang mengkolaborasikan teknologi serta nilai tradisional Lokal Universal; yang mana kegiatan seperti ini sangat berpeluang untuk mendapatkan Fasilitasi dan Pendanaan Pemajuan Kebudayaan Tahun 2026.
Penulis : Miftahuz Zainiah (Ketua Satgas Peduli Mata Air Desa Ngadirejo).
Editor: Guntur Bisowarno Ketua Satgas Peduli Mata Air Nusantara.
