Malang, Skalainfo.net| Tulisan ini hasil dialog dengan Bapak Guntur Bisowarno S.Si. Apt. Setiap tahapan dan detail tulisan ini atas ijin Allah, restu dawuh Kanjeng Ratu Ken Dedes, dan Eyang Tati almarhum. Singosari, Rabu, 18/02/2026.
Ada 3 Karya Untuk Bakti Batik Singosari;
Pertama: Song Song Garudeya. Filosofi dari Motif Song Song Garudeya ini, Catra, Song song/payung, sebuah pesan agung yang anggun dari masa lampau. Pada masanya Song song/payung terbagi menjadi 3 tingkatan, tingkatan pertama adalah Raja, tingkatan ke 2 adalah kesatria dan tingkatan ke 3 adalah masyarakat atau rakyat biasa.

Song song sebagai simbol penghargaan kepada para Raja;
Song song/payung juga melambangkan pengayoman, kesejahteraan, dan perhatian yang bijaksana seperti dalam sebuah kata bijak “Payung tidak dapat menghentikan hujan, tetapi payung mampu mengantarkan anda sampai ke tempat tujuan”.
Kedua: Motif Jejeg Saliro. Motif ini saya ciptakan untuk menggambarkan sebuah komitment. Dimana kita harus berdiri tegak mempertahankan prinsip, tidak hanya pada ikatan suci perkawinan, tetapi Jejeg Saliro juga mempunyai makna, harapan untuk bangsa dan negara, bersatu dalam bingkai yang cantik, yang menggambarkan kesatuan dalam sebuah perbedaan.
Ketiga: Motif Gelung Pramesti. Filosofi Motif ini, Gelung; Rikmo/rambut yang di ikat membentuk sanggul/konde untuk wanita Jawa.
Pramesti: Putri Permaisuri/Ibu; Gelung Pramesti menggambarkan bahwa mahkota bukan hanya intan, berlian dan permata yang di letakkan di atas kepala, Rikmo / rambut adalah mahkota yang sebenarnya bagi semua wanita dan sebuah bentuk penghargaan bagi sosok seorang ibu yang mana do’a-do’a ibu kepada anaknya yang mampu menembus langit ke tujuh.
Karakter Motif Yang Dituangkan;
Motif saya kebanyakan mempunyai 2 (dua) sisi yang sama…, untuk menggambarkan sebuah keadilan, karena yang Maha Pencipta juga menciptakan serba 2 (dua) dalam sebuah pilihan.
Iyaa…, biarpun karya saya tidak sebanyak seperti pembatik-pembatik yang lain, tapi kejujuran dan ketulusan hati yang tetap saya jaga, bagaimana saya mencintai batik sebagai warisan leluhur dengan mengangkat ornamen dan candi yang ada di Singosari. Mudah-mudahan atas ijin Eyang Tati & Eyang Kanjeng Ratu Kendedes, Singosari bisa menjadi barometer Batik yang ada di Malang Raya, tentunya Bersama-sama bergerak dengan potensi para pembatik yang ada di Singosari.
Prinsip Dalam Membatik;
Batik harus jaga kejujuran, ketulusan, kesucian dan kerendahan hati, karena batik bukan dunia tipu- tipu. Sehingga karena dasar landasan utama dari seorang Pembatik seperti di atas itu, maka sewajarnya itulah upaya menjadikan sefrekuensi, sevibrasi, segelombang dengan dzatNya, sifatNya, perilakuNya yang bersifat langgeng, untuk menjadikan dan menetapkan keberadaan wujud perwujudan dari Warisan Batik adalah Warisan Budaya Nusantara, Kini Baru Kuno Modern (HORAIZO) Klasik. (Red).
Penulis: Listyorini Gayantri
Editor : Mbah Openi (Praktisi Manusia Sastra Budaya Canggih).
