• January 24, 2021

Makin Tergerusnya Nilai Moral, H. AS Tamrin Terus Gemakan Pentingnya Nilai PO-5

 Makin Tergerusnya Nilai Moral, H. AS Tamrin Terus Gemakan Pentingnya Nilai PO-5

Baubau-Sultra, Skalainfo.net| Walikota Baubau Dr. H. AS Tamrin, MH terus menggemakan pentingnya nilai-nilai PO-5 dalam kehidupan sehari-hari. Pasalnya, pengaruh budaya luar semakin tak terbendung, hal ini seiring dengan perkembangan zaman dan meningkatnya teknologi menjadikan nilai-nilai Moral, Akhlak, dan Budaya semakin tergerus.

Nilai-nilai tersebut kembali digemakan oleh H. AS Tamrin, MH. saat menggelar pertemuan bersama satgas pelopor PO-5 di Kantor Kementerian Agama (Kemenag) Kota Baubau di aula Kemenag Baubau, Jum’at, (8/01/2021).

“Pertemuan ini dihadiri oleh kepala Kemenag Baubau H. Rahman Ngkaali bersama seluruh jajarannya yang tergabung dalam Satgas Pelopor PO-5”.

Melalui sambutannya H. AS Tamrin mengungkapkan, tujuan utamanya dalam menggarap nilai-nilai PO-5 dari Sara Patanguna yang merupakan warisan leluhur, ialah karena mulai tergerusnya nilai-nilai moral di masyarakat. Menurutnya, tergerusnya nilai-nilai budaya tersebut disebabkan oleh meningkatnya pengaruh budaya luar akibat dari perkembangan teknologi.

“Ini berawal dari keprihatinan atas merosotnya kepercayaan masyarakat terhadap pemimpinnya, banyak pemimpin yang tidak layak lagi dijadikan teladan atau panutan, maraknya KKN, penyalahgunaan wewenang. Bentrok antara pelajar dan mahasiswa, konflik di masyarakat, KDRT, infiltrasi budaya luar,” ujarnya.

Ditambahkan, melihat kondisi tersebut maka perlu penyadaran secara masif kepada seluruh lapisan masyarakat, khususnya para pemimpin guna terwujudnya kedamaian, kondusifitas dan stabilitas. Pasalnya, tanpa kedamaian, kondusisfitas dan stabilitas maka upaya pemerintah dalam meningkatkan pembangunan dapat terhambat.

Dalam pertemuan tersebut orang nomor satu di Kota Baubau ini juga menjelaskan tentang makna yang terkandung dalam nilai-nilai PO-5. Ia juga memaparkan, nilai-nilai PO-5 adalah nilai yang sudah mendarah daging di masyarakat Buton yang selama ini dituangkan dalam Sara Pataanguna (dalam Mukadimah UUD Martabat Tujuh Kesultanan Buton).

“Bagian pertama dalam mukadimah UU Martabat Tujuh Kesultanan Buton adalah hubungan interaksi bermasyarakat yang berlandaskan pada filsafat Rasa “Binci – Binciki kuli” yang berarti saling mencubit kulit, kemudian dimanifestasikan dalam empat Nilai dasar,” imbuhnya.

Lebih lanjut Walikota dua periode ini menjelaskan, empat nilai dasar tersebut terdiri dari; Pertama Pomaamasiaka yang artinya saling sayang menyayangi. Kedua, Popiapiara artinya pelihara atau rawat, pengertiannya saling memelihara, saling merawat atau saling mengayomi.

Ketiga, Pomaemaeaka, artinya rasa malu, maknanya saling menanggung rasa malu, jika melakukan perbuatan tercela yang malu bukan saja yang bersangkutan tapi seluruh keluarga, orang tua dan komunitas akan turut merasa malu. Keempat, Poangka- angkataka, artinya saling mengangkat martabat, saling menghormati, saling menghargai.

“Pobinci binciki kuli, (Binci berarti cubit, kuli: kulit, binciki kuli, cubit kulit) pengertiannya saling mencubit kulit suatu ungkapan kiasan atau perbuatan yang menyakitkan orang lain akan sama halnya dengan ketika kita disakiti. Jika kita cubit kulit kita akan terasa sakit tentu kita tidak suka begitupun orang lain, jika kita tidak suka disakiti maka jangan pula menyakiti orang lain,” pungkasnya.

Sementara itu Kepala Kemenag Baubau H. Rahman Ngkaali yang juga selaku ketua Dewan Penasihat Satgas Pelopor PO-5 ini mengungkapkan, pembentukan Satgas Pelopor PO-5 lingkup Kantor Kemenag Baubau tersebut sebagai wujud untuk membantu Pemerintah Daerah dalam menciptakan kedamaian di Kota Baubau. Menurutnya, kedamaian adalah kunci utama dalam menyukseskan pembangunan.

H. Rahman Ngkaali juga mengakui, PO-5 merupakan falsafah hidup yang berakar dari nilai kearifan lokal masyarakat Buton dan selaras dengan nilai-nilai Agama dalam membentuk karakter unggul bermartabat. Selain itu, secara operasional Ka Kanwil Kemenag Sultra juga selalu menyerukan untuk saling mengayomi dengan saling menyayangi, menolong, membantu, mengisi dan menghargai.

“Seperti apa yang disampaikan pak Walikota Baubau, bahwa ini sejalan dengan nilai-nilai Keagamaan kita. Sehingga kita terpanggil menampakkan peran ini di tengah-tengah masyarakat. Ikut memperkenalkan nilai-nilai kearifan lokal yang merupakan warisan luhur kesultanan Buton ini. Dimana di dalamnya mengandung nilai-nilai luhur yang patut kita pertahankan,” ujarnya. (Red/Rachmat).

Autentikasi : DINAS KOMINFO BAUBAU.