Tangsel, Skalainfo.net| Komunitas HISTORIA Tangerang Selatan menggelar HISTORIA The Series Part.24 dengan tema “Harmoni Tradisi Dan Literasi. Menakar Masa Depan Pendidikan Berbasis Kultur” di Basecamp Tambi Historia Tangsel. Agenda mingguan yang telah berjalan sejak Desember tahun lalu ini memasuki part ke-24. Diskusi ini menjadi bagian penting dari rangkaian panjang menuju closing dan persiapan penyusunan buku “Tangsel Bercerita di Usia 18 Tahun” yang akan merangkum perjalanan dari part ke part. Minggu, 18/10/2026.

Pada Part-24 ini, panitia mengagendakan Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Tangerang Selatan, Deden Deni, SE, S.AP, MM, MA sebagai pembicara utama. Kehadirannya diharapkan dapat memberikan perspektif kebijakan dan roadmap pendidikan berbasis kultur dari sudut pandang pemerintah daerah.

Namun, hingga acara dimulai, yang bersangkutan tidak hadir di lokasi, tanpa memberikan konfirmasi ketidakhadiran maupun menugaskan perwakilan dari unsur Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Tangerang Selatan.

Kondisi tersebut sempat menimbulkan kekecewaan di kalangan pengurus dan peserta yang telah hadir. Roby Kharisma, salah seorang anggota HISTORIA Tangsel menyampaikan kekecewaannya, Kami sangat menyayangkan tidak adanya komunikasi dari pihak Dinas, mengingat tema yang diangkat sangat berkaitan erat dengan tupoksi Dinas Pendidikan dan Kebudayaan.

Ketua kami sudah melakukan komunikasi dengan pak Kadis jauh hari. Bahkan sehari sebelum giat dimulai. Dan pak kadis bersedia untuk hadir. Kami memahami kesibukan beliau, namun setidaknya ada konfirmasi atau perwakilan yang dikirim. Ini soal etika dan komitmen terhadap wacana pendidikan berbasis kultur yang sedang kita dorong bersama, ujar Roby.

Klarifikasi Ketua Umum Yayasan HISTORIA Tangsel

Menanggapi hal tersebut, Ketua Umum Yayasan HISTORIA Tangsel Agam Pamungkas Lubah, memberikan klarifikasi agar duduk persoalan menjadi berimbang. Menurut Agam, sebenarnya Pak Kadis sempat melakukan konfirmasi awal melalui chat pribadi.

“Sebenarnya Pak Kadis sudah konfirmasi by chat yang mengatakan bahwa kondisi beliau lagi berada di klinik. Asam lambungnya kumat,” ungkap Agam.

Namun setelah konfirmasi sakit tersebut, komunikasi terputus. Ketika panitia menanyakan kembali apakah masih memungkinkan untuk hadir pada sore harinya, tidak ada jawaban lanjutan.

 

“Ketika ditanyakan apa bisa menghadiri acara nanti sore, tak ada konfirmasi balik dari Pak Kadis. Di telpon gak aktif, di japri gak dibalas. Bahkan salahsatu pengurus mencoba menghubungi Kepala Seksi Pak Sugeng untuk menanyakan kabar mengenai acara yang akan segera dimulai. Tapi teleponnya gak diangkat,” jelas Agam.

Agam menambahkan, kekecewaan teman-teman pengurus adalah hal yang wajar

“Ya wajar saja kalau teman-teman merasa kecewa. Seharusnya jika Pak Kadis berhalangan karena faktor kesehatan, seharusnya mengirimkan perwakilannya untuk mengkonfirmasi,” jelas Agam.

Ia menekankan, HISTORIA The Series bukanlah acara seremonial semata. Acara Historia The Series ini bukan acara yang sifatnya seremonial semata. Ini berlangsung setiap minggu dari bulan Desember tahun lalu dan sekarang sudah sampai pada part yang ke-24. Tinggal satu part lagi acara ini akan kita closing untuk persiapan pembuatan buku Tangsel Bercerita Di Usia 18 Tahun, yang isinya perjalanan dari part to part, tambah Agam.

Acara Tetap Berjalan

Untuk menghindari rasa kecewa yang berlebihan di kalangan peserta, acara tetap dilanjutkan dan dipandu oleh Ibnu Farhan, anggota Historia Tangsel sekaligus pelaku ekonomi kreatif. Ibnu kemudian membedah makna pendidikan berbasis kultur sebagai upaya mengharmonikan tradisi dan literasi. Menurutnya, literasi tradisi adalah kemampuan membaca ulang nilai leluhur untuk menjawab tantangan zaman, bukan sekadar tambahan muatan lokal di kurikulum.

Dalam kesempatan tersebut Ilham Prayitno yang akrab dipanggil Kak Ilham juga menyampaikan pendapatnya bahwa, pendidikan berbasis kultur bukan sekadar memasukkan muatan lokal ke dalam kurikulum, melainkan membangun kesadaran kolektif bahwa tradisi adalah sumber pengetahuan.

Literasi tidak hanya baca tulis. Literasi tradisi adalah kemampuan kita membaca ulang nilai-nilai leluhur untuk menjawab tantangan zaman. Kalau pendidikan tercerabut dari kultur, kita akan melahirkan generasi yang pintar secara akademik tapi asing dengan akar budayanya sendiri,” jelas Ilham di hadapan peserta.

Diskusi menjadi hidup saat salah seorang anggota yang hadir, Eka Haidir, melontarkan pertanyaan kritis. “Kita di Tangsel ini kan secara historis dan kultural tidak bisa dilepaskan dari akar Budaya Betawi. Seharusnya muatan lokal Budaya Betawi juga bisa menjadi salahsatu sistem pendidikan kita hari ini. Karna mayoritas penduduk asli Tangsel adalah suku Betawi itu sendiri. Semisal contoh, pencak silat, tarian, pantun, dan lain-lain. Tidak hanya sekedar acara seremonial. Jika perlu bisa menjadi sesuatu yang lebih fundamental untuk karakter anak-anak Tangsel?” tutupnya. (Red/Hasan).

By Admin

-+=