WhatsApp Image 2022 02 14 at 12.07.13

Oleh: Muhammad Ramadhan

Praktisi dan Akademisi Universitas Janabadra

Skalainfo.net|

“Quatre journaux hostiles sont plus à craindre que mille baïonnettes” yang artinya empat surat kabar musuh lebih menakutkan daripada seribu bayonet musuh, Ucapan seorang kaisar perancis Napoleon Bonaparte (1769-1821M). Sebuah berita yang tersiar disaentero belahan bumi  bukan layaknya air hujan yang turun begitu saja dari langit melainkan hasil kemasan dari ketajaman mata, kelincahan pena, dan insting dari seorang (jurnalistik) wartawan.

 

          Bayangkan jika tidak ada wartawan didunia yang mengolah berita untuk disiarkan, maka kebutaan informasi dari seluruh pelosok dunia, terlebih lagi bagi bangsa Indonesia, mungkin tidak akan pernah mimpi menjadi kenyataan untuk merdeka, sebab dengan adanya berita kekelahan Jepang dan menyerah kepada sekutu, disitulah titik balik bangsa kita untuk segera memerdekakan diri.

 

          Pentingnya informasi dari berbagai belahan dunia dapat membangun suatu peradaban, kebenaran suatu informasi yang diolah sedemikian rupa menjadikan suatu pelajaran yang berharga bagi pembacanya. Oleh karena itu dibutuhkannya keterampilan seorang wartawan dalam mencari, mengumpulkan dan mengolah infromasi tersebut dengan goyangan pena  menjadi suatu berita yang layak dikonsumsi. Idiom yang sudah sering kita kenal “tajamnya pena wartawan lebih tajam dari pada silet”.

 

          Hal tersebut erat kaitanya dengan informasi yang diperoleh oleh seorang wartawan, bagi sebagian orang berita yang dibuat oleh wartawan memberikan dampak positif dan ada pula berdampak negatif kepada sebagian orang ketika seorang wartawan megungkapkan sebuah kebenaran.

 

          Tidak hanya itu saja, berita yang ditulis dari tangan kreatif seorang wartawan dapat dengan mudah menjatuhkan sesuatu yang telah berdiri tegap sebagaimana ungkapan yang telah disampaikan oleh kasira perancis yang berkuasa pada tahun 1800an bahwa pisau musuh hanya menyerang pada tubuh dan menyebabkan luka yang dapat disembuhkan tetapi tidak pada berita yang dapat merasuki pikiran dan hati seseorang sehingga menimbulkan suatu kebencian dan pada akhirnya akan menjatuhakan sesuatu yang telah berdiri tegap.

 

          Pencarian informasi yang dikemas menjadi sebuah berita bukanlah hal mudah yang dapat dilakukan oleh semua orang. Proses pencarian infromasi yang dilakoni oleh wartawan dilakukan dengan banyak lika-liku cobaan dan rintangan bahkan nyawa menjadi taruhannya.

 

          Tercatat oleh AJI (Aliansi Jurnalis Independen) sebanyak 43 kasus kekerasan sepanjang 2021, kasus kekerasan yang diterima oleh wartawan terkadang berujung kepada kematian dalam upaya pencarian informasi suatu kebenaran. Setidaknya sepanjang sejarah tercatat tidak kurang dari enam kasus kematian wartawan tidak terungkap hingga saat ini. Hal ini menggambarkan betapa tingginya resiko yang harus diterima oleh profesi seorang jurnalistik/ wartawan.

 

          Resiko yang dihadapi oleh para wartawan bukanlah resiko ringan bagi dirinya sendiri dalam upaya pencarian informasi, tetapi juga merupakan resiko yang dapat dterima oleh keluarga maupun kolega wartawan itu sendiri. Rasa takut akan selalu menghantui paraa wartawan, namun hal itu bukan menjadi pemadam api semangat wartawan dalam mencari suatu kebenaran informasi melainkan sebagai cambuk semngat dalam menyiarkan berita kebenaran yang harus disiarkan bagi seluruh pelosok dunia.

         

Wartawan melawan Pandemi C-19

          Diakhir tahun 2019 seluruh dunia dibuat gempar dengan adanya virus mematikan yang dapat membunuh banyak orang, Virus yang dikenal dengan Corona Virus (SARS-CoV-2) atau lebih akrab dengan C-19 menjadi momok yang menakutkan bagi seluruh umat manusia, hingga diseluruh penjuru dunia menerapkan kebijakan lockdown demi menjaga warga negaranya.  Virus corona yang menyerang hampir diseluruh negara yang ada dimuka bumi tidak padang bulu dalam menginfeksi manusia baik usia muda hingga tua dari masyarakat marjinal hingga pejabat terkonfirmasi terpapar virus C-19 tidak terkeculi para wartawan.

 

          Data yang tercatat oleh PEC (Press Emblem Campaign) dengan angka terendah sebanyak 2000 orang jurnalis dari seluruh dunia dinyatakan meninggal dunia diakibatkan terpapar virus corona, di Indonesia sendiri yang terdata oleh AJI (aliansi Jurnalis Independen) setidaknya terdapat 381 pekerja media terinfeksi virus C-19 dan  9 orang diantaranya harus tutup usia.

 

          Terpaparnya para pekerja media tersebut tidak terlepas dari profesi yang digelutinya sebagai pencari berita yang harus terus meliput berbagai permassalahan yang ada, baik didalam maupun luar negeri, baik berita seputar olah raga hingga berita politik serta berita tentang kesehatan.  Pencarian informasi yang penuh tantangan tidak semudah membalikkan telapak tangan terlebih pada masa pandemi C-19, para wartawan harus berjibaku dengan wabah corona yang selalu menghantui para wartawan, artinya para wartawan harus lebih extra dalam menjaga kondisi dan stamina dalam tubuh.

 

          Pencarian informasi berita pada masa pandemi khususnya perkembangan terhadap virus C-19 saat ini sangat dibutuhkan oleh masyarakat luas oleh karena itu peranan dari wartawan dalam pencarian informasi berita sangat penting. Peran wartawan dalam penyiaran berita mengenai perkembangan virus corona harus di support oleh instansi pemerintah maupun stakeholder sebagai bentuk upaya penyelamatan para wartawan dari paparan C-19. Dalam pemberian dukungan bagi wartawan sebagai upaya preventif pencegahan virus corona, diharapkan bagi perusahaan media agar menberi fasilitas pada para wartawan dengan alat perlindungan diri untuk mencegah penularan virus corona, serta pemberian penghargaan setinggi-tingginya bagi para wartawan.

 

          Peran pemerintah kepada wartawan untuk dapat membuat kebijkan yang berpihak bagi keselamatan dan kesejahteraan wartawan disaat masa pandemi. Serta peran stakeholder dalam membantu menerapkan protokol kesehatan bagi para waratwan untuk memberikan ruang dalam pencarian informasi.

 

          Pentingnya profesi wartawan dimasa pandemi sebagai penyambung informasi terkait penyebaran virus corona sangat dibutuhkan masyarakat dunia khususnya bagi masyarakat Indonesia, sehingga sudah selayaknya profesi wartawan yang berjibaku dengan virus corona saat ini dapat menjadikan profesi wartawan sebagai profesi yang mulia dan terhormat (officium nobile).           

 

(Red)

By Admin

-+=