Tangsel, Skalainfo.net| Mulai pelayanan tingkat dasar melalu lobby depan penjagaan serba ketat dan pertemuan dengan pejabat Dinsos Tangsel terikat dengan kata-kata apakah sudah janji serta pejabat yang ditemui sedang tidak ada ditempat. Silahkan anda buat janji lagi dan datang esok hari. Rabu, 14/10/2026.

Penjagaan Tingkat satu security sebagai pelayan yang memandu warga masyarakt yang datang mengurus data atau document yang perlu diperbaiki atau ditambahkan pada dokumen yang dibutuhkan. Standar Operasional Prosedur (SOP) yang diberikan kepada Masyarakat sesuai dengan ilmu atau yang dipelajari pada Lembaga atau Outsourcing yang melekat pada personal security di kantor dinas sosial kota tangsel.

Sangat disayangkan perlakuan dan pelayanan yang diberikan oleh security Dinsos Tangsel yang tidak sesuai dengan keinginan Masyarakat yang berkunjung ke kantor dinas sosial kota tangsel tersebut. Pemahaman yang diberikan oleh security dinas sosial kepada warga Masyarakat Tangsel tidak sepenuhnya mengacu pada pelayanan (SOP) yang mereka pelajari di lembaganya atau Outsourcing yang memperkerjakan mereka.

Karena, tidak semua warga Masyarakat Tangsel yang datang kekantor Dinsos itu untuk mengurus document atau data. Berbagai elemen Masyarakat datang berkunjung itu, mulai dari LSM, ormas, dan media pers terkadang hanya melihat-lihat saja juga memperhatikan tingkah-laku para pejabat sosial, apakah Dinas Sosial Tangsel itu bersosial Masyarakat atau hanya sebagai kamuflase saja supaya terlihat oleh warga betul-betuk bekerja pada kantor Dinsos Tangsel.

Hanafi adalah Salahsatu warga Tangsel juga sebagai Ormas Bersama rekannya datang berkunjung kekantor Dinsos Tangsel khusus untuk menemui Kepala Dinas Sosial yaitu Heli Slamet. Untuk beberapa kalinya ingin menemui kepala dinas sosial yaitu bapak Heli Slamet namun selalu tidak pernah ada di tempat begitu juga dengan sekretaris dinas sosial yaitu bapak Muslim Nur pun selalu tidak pernah ada ditempat.

Apakah kantor Dinsos itu hanya sebagai tempat pajangan saja yang dipenuhi oleh orang-orang berseragam dinas, tetapi tidak menunjukkan sifat-sifat sosial seperti yang di contohkan oleh Ki Hajar Dewantara. Di depan memberi contoh atau teladan. Di tengah membangun semangat, niat, atau prakarsa. Dari belakang memberikan dorongan moral, arahan, atau semangat. Yang dimaksud pada dorongan moral itu semestinya kantor Dinsos Tangsel ini meneladani Bahasa tut wuri handayani, namun pada kenyataannya dihadapan security yang memberlakukan (SOP) di lobby Dinsos ini jauh dari kata moral, jelas Hanafi.

Menempatkan pihak ketiga Outsourcing pada Tingkat dasar pelayanan Masyarakat dikantor dinas sosial Tangsel memang tidak masalah, juga memberikan lapangan kerja kepada pihak ketiga supaya terjalin sinergi bentuk Kerjasama pada pelayanan yang humanis terhadap Masyarakat Tangsel. Juga menjaga hubungan baik antara pegawai dinas sosial dengan pihak ketiga itu yaitu Outsourcing, supaya saling menghargai serta menjauhkan diri dari praktik kolusi, korupsi dan nepotisme.

Namun pada kenyataanya di lapangan tidak menunjukkan sifat-sifat mengayomi, berbalik Sembilan puluh serajat justru terlihat seperti tuan rumah dan pembantu, pemberi kerja dan diperkerjakan, akibat perbedaan seragam itu sehingga timbul sifat otoriternya kepada Masyarakat sipil. Ilmu yang di pelajari dalam kemah Lembaga Outsourcing itu lalu direalisasikan kepada pelayanan masyarakat sipil dikantor dinas sosial Tangsel, sungguh menyedihkan ucap Hanafi seraya menggrutu.

Lanjut Hanafi, perlu kalian sadari wahai pekerja dan pegawai dinas sosial bahwa kantor dinas sosial Tangsel itu, adalah kantor pelayanan Masyarakat yang bersosial tinggi, bukan tempat untuk saling meninggikan gengsi sesama pegawai negeri sipil di Pemkot Tangsel.

Pihak ketiga Outsourcing dikantor dinas sosial Tangsel juga harus menyadari bahwa kantor dinas sosial itu untuk rakyat dan kemaslahatan rakyat, bukan kantor Perusahaan swasta yang menerapkan (SOP) penjagaan ketat seperti semi militer. Tempat kalian bekerja itu bukan Gudang emas yang dijaga ketat takut maling dan takut dimasukin perampok, jelasnya.

Kantor Dinas Sosial yang disebut Masyarakat bersosial, ternyata jauh panggang dari api

Setelah beda pandang antara Hanafi bersama rekannya dengan pelayanan Tingkat dasar dilobby kantor dinas sosial Kota Tangsel tersebut, rekan Hanafi mencoba menghubungi kepala dinas sosial yaitu bapak Heli Slamet via telepon genggam, kendati terlihat berdering namun tidak diangkat oleh Heli Slamet.

Kemudian menulis via WhatsApp kepada Heli Slamet, ternyata mendapat tanggapan dari bapak Heli Slamet yaitu dengan jawaban “saya masih rapat bang”.

Kemudian dibalas lagi oleh rekanya Hanafi itu, berhubung pak Kadis Heli Slamet sedang rapat maka meminta arahannya untuk dapat dipertemukan dengan Sekdis Dinsos Tangsel atau bidang-bidang lain yang bisa menerima kedatangan Hanafi dan rekannya tersebut. Karena ada beberap temuan dan juga aspisari Masyarakat yang akan disampaikan kepada pejabat Dinsos Tangsel, WhatsApp rekan Hanafi kepada Kadis Heli Slamet.

Ditunggu-tunggu jawaban dari pak Kadis Sosial Tangsel atas jawaban yang diharapkan itu hingga detik ini dan saat ini. Ternyata ucapan dan keramahan rakyat via tulisan WhatsApp dari warga Tangsel kepada kepala dinas sosial Tangsel tidak digubris, bahkan tidak dianggap rakyat bersosial yang meng-sosialkan rakyat. Bahwa aspirasi dari warga itu tidak dihargai sama sekali, bahkan tidak sadar yang memberi gaji dan kendaraan operasionalnya para pejabat dikantor Dinsos Tangsel itu Adalah rakyat Tangsel, tutur Hanafi seraya kesal kepada Kadis Sosial Tangsel. (Red/Hasan).

Bersambung**

By Admin

-+=