Pasuruan, Skalainfo.net| Inilah 3 Manifestasi Jantung Detak Detik Jam Jaman MaNusantara Jaya Baru Kuno Modern HORAIZO Klasik. Hal ini bisa jelas dijelaskan dan dengan penjelasan yang logis dan rasional berbasis Ilmu Pengetahuan Sains dan Pengetahuan Ilmu Spiritual Warisan Leluhur Nusantara di bawah ini:
Minggu Wage, Angka Aksara Jawanologi ya adalah Minggu 5 dan Wage 4, sehingga 5+4=9, sembilan adalah lambang lubang sembilan dalam badan tubuh manusia, yang salah satu diantaranya adalah lubang alat kelahiran, yang berfungsi kodrat irodzatnya sebagai media dan rahim lahir kelahiran bangsa manusia di muka bumi ini, wajib menjalankan amanah agung bertumbuh dan berkembang biak lewat mendidik, melatih dan membangun kepribadian dan karakter, pikiran, ucapan dan tindakan yang bermindset, beretika norma moralitas dan berspiritual, yang berbudi bawa rasa luhur mulia, sebagai wakil Sang Maha Gesang Hidup, Allah SWT, Maha Benar Allah dengan segala ciptaan beserta segala isinya. Purwosari Pasuruan Jawa Timur, Minggu Wage, 17 Mei 2026.
Membaca Ulang Saresehan Roso Orep Sejati 17/8/2025
Pagelaran Wayang Godhong
Pada tanggal 17/8/2025, dalam Acara Saresehan Roso Orep Sejati diadakan Penyempurnaan dan Penggenapan Pagelaran Wayang 3 Godhong oleh Ki Tohari Pimpinan Sanggar Panuwunan Kasampurnane Budi Luhur Desa Cendono Kecamatan Purwosari Kabupaten Pasuruan Jawa Timur; dalam Pagelaran Wayang Kulit Ringgit Purwo Klasik oleh Ki Dalang Sudarto Carito Sanggar Sekar Sari Purwosari Pasuruan Jawa Timur sebagai Ki Dalang Wayang Gagrak Jawa Timuran dan Gagrak Jawa Tengahan oleh Ki Winarno Sabda Sanggar Budaya NWB Ngesti Wedharing Budaya Kebon Candi Gondang Wetan Kabupaten Pasuruan Jawa Timur, dengan Lakon Purba Kusuma untuk mengembalikan Burung Garuda Sakti sebagai Enerjologi dan Enerjolite Budaya Garuda Nusantara kembali Jejer Jejek di Bumi MaNusantara ini, pas 80 Tahun Indonesia Raya.
Merujuk 17/8/2025 Menuju 17/5/2026: Angka Sloka Sastra Realita 17
Sebuah perjalanan pematangan dan pendewasaan yang menempuh massa ruang waktu 1 Tahun 365 Hari dikurangi 3 bulan atau 90 hari, jadi 365 – 90 hari menjadi 275 hari, untuk menuju 20 Mei 2026, ditambah 3 hari jadi 278 hari, sehingga terkuaklah misteri angka 278 hari, diolah dan dianalisa dengan Telaah Kaidah Jawanologi menjadi 2+7+8 = 17, angka Sloka Sastra Realita Anugerah Ilahi, dalam Kajian Telaah Jawanologi tersebut yaitu 17= Pitu Las, Pitulungan dan Kawelasan nya Gusti Allah SWT, dan saksi menyaksikan dalam Pembukaan UUD Negara Republik Indonesia, berbunyi Atas Berkat Rahmat Tuhan Yang Maha Esa, maka lahirlah Negara Republik Indonesia yang menjaga dan melindungi kemerdekaan Bangsa Indonesia, yang sudah dirintis selama 17 tahun lamanya, dari 28 Oktober 1928 menuju 17 Agustus 1945. Angka 17 kembali berbunyi.
Semua Sudah Siap & DipersiapkanNya
Untuk mempersiapkan Transformasi Energi Spiritual Otentik, Transformasi Energi Ilahi dari Massa Sadar Berkesadaran Jiwa(Spirit) Nusantara yang kekal, abadi dan langgeng, yang setiap tahun di sebut dengan finish final definishinya adalah Memperingati Hari Kebangkitan Nasional, 20 Mei, Hari Kebangkitan Bangunlah Jiwanya Bangunlah Badannya, itulah Indonesia Raya, Pencerahan dan Pemuliyaan Jiwa(Spirit) Manusantara adaNya, untuk Membangun Budaya Peradaban Canggih Baru Kuno Modern HORAIZO Klasik adaNya.
Enerjologi dan Enerjolite Sloka Sastra Realita Angka Anugerah 17
Memang inilah yang akan Kita akses dan revitalisasi 278 hari sejak Jejer Jejek Kebangkitan Budaya Garuda Nusantara, 17 Agustus 2025 di Padepokan Panuwunan Kasampurnane Budi Luhur Desa Cendono Kecamatan Purwosari Kabupaten Pasuruan Jawa Timur, yaitu 20 Mei 2026, selama 3 Hari Anugerah Ilahi Rahmat Tuhan Yang Maha berupa Enerjologi dan Enerjolite Cinta Kasih Sayang Sejati Nya, yang sudah terakses oleh Para Leluhur MaNusantara dalam membangun Puncak Puncak Peradaban Dunia Agung MuliaNya dimuka Bumi Ini, Bumi MaNusantara adaNya.
Enerjologi dan Enerjolite 3 Hari Suci: 17 Mei – 20 Mei 2026
Kita memang melakukan Sinkronisasi Enerjologi dan Enerjolite dari Jiwa(Spirit) Leluhur MaNusantara, yang sudah bekerja aktif sejak dahulu kala pada jaman purba, jaman kerajaan, jaman perjuangan kemerdekaan, hingga jaman kekinian yang berbasis Teknologi Baru Kuno Modern HORAIZO Klasik Jaman Now ini.
Enerjologi dan Enerjolite Sloka Sastra Realita 3 Godhong Lambang Peradaban Manusantara Jaya Berjati Diri.
Sloka Sastra Realita Gondhong Jati
Gondhong Jati lambang Golek Dhong, mencari kesejatian dalam memahami dan mengerti, dalam understand, ngerti, ngeh, perihal: Babakan Sejatine Roso, Sejatine Orep, Sejatine Sejati.
Sloka Sastra Realita Gondhong Suruh Sirih
Godhong Suruh Sirih lambang Golek Dhong. Mencari dan belajar Sinau Kaweruh Babakan, Pas disuruh Juragan Kehidupan, alias mencari Pasnya, tepatnya pikiran, ucapan, dan tindakan Kita pada Juragan Pekerjaan (Baca: Profesi, Kepandaian, Keterampilan dan keahlian Kita. red.), serentak juga Kita seyogyanya juga Golek Dhong, mencari sampai menemukan PasNya pikiran, ucapan dan tindakan Kita dalam rasa sadar berkesadaran atas Pas Suruhan Sang Maha Hidup, Kita hakiki nya adalah Suruhannya Sang Maha Gesang, yang menyuruh dan menyuluh Kita untuk lahir, kelahiran dan berketurunan, melahirkan generasi demi generasi manusia di muka bumi ini, jadi manusia bukan golongan vegetatif, yang tidak mau menikah, yang tidak mau bersuami isteri dan yang tidak mau berketurunan, justru Kita bangsa manusia sudah dikodrat irodzat kanNya memiliki gen genetik generatif, untuk mengalami dan menjadi mahluk manusia yang bisa berkeluarga dan beranak cucu dst, karena manusia adalah mahluk sempurna yang mempunyai organ generatif yaitu alat kelamin sepasang yang berfungsi untuk melahirkan keturunan, bukan semata mata alat untuk berkenikmatan dan berkesenangan semata mata.
Sloka Sastra Realita Godhong Simbokan
Godhong Simbokan adalah lambang bahwa semua manusia punya ibu rahim, ibu kandung, tidak ada manusia manapun lahir berasal diluar rahim ibundanya, dan diluar tali pusar kandungan ibunya, setiap manusia punya mbok, punya si mbok, si ibu kandungnya.
Referensi Jawanologi Wayang Kulit Ringgit Purwo Klasik
Di Pagelaran Wayang Kulit Ringgit Purwo Klasik Jawa Kuno, Daun atau Godhong Simbokan adalah Simbol Lambang Perwakilan Sosok Bayangan Semar Bodronoyo, yang mempunyai sifat keibuan dan kebapakan, sosok bayangan pamong Tanah Jawa, Bumi Jawa, Bumi Nusantara dan Bumi Semesta ini, karena Hakekat MakrifatNya dari Enerjologi dan Enerjolite Semar Samar Ghoib Indah ini memang sebesar Jagad Alam Semesta Raya beserta segala isinya yaitu yang menjaga, memelihara dan mengawasi manusia Jawa, ngerti, ngeh, understand, bukan sebatas merujuk pada suku Jawa, Jawa itu justru pengertiannya manusia holistik, komprehensif dan meliputi, ya sebagai manusia sempurna, sempurnanya manusia; itulah Manusia Jawa beserta segenap anak cucu keturunannya atas restu dan ridhoNya.
Orang Tualah Manifestasi Tuhan di Muka Bumi ini
Sangat jelas dalam Sloka Sastra Realita ini adalah Ibu Bapak Kita, Umi dan Abah Kita, Ibu Ayah Kitalah yang melahirkan, memelihara, menjaga dan mengawasi Kita manusia anak cucu nya, Mereka berdualah Lambang Manifestasi Tuhan bagi Kita semua, Khususnya Ibu, Ibu dan Ibulah, Induk dan Biyung Peradaban Kita Manusia di Muka Bumi ini.
Diarsipkan di Perpustakaan Baru Kuno Modern HORAIZO Klasik Kawasan Gunung Arjuno Induk Peradaban Dunia. (Red).
Oleh: Guntur Bisowarno Ketua Bamboo Spirit Nusantara Support System.
