Pasuruan, Skalainfo.net| Inilah Perjalanan Sadar Berkesadaran dalam Kepekaan Rasa atas Peranan Enerjologi, Energi+Bejo (Untung)+Logi dari Guntur Bisowarno, sehingga dapat terurai dan terhubung, inti sari, sari pati Gunung Arjuno Puncak Indrokilo dengan inti sari, sari pati I Gusti Untung Suropati Pasuruan Kota Untung Suropati dan Kabupaten Pasuruan Jawa Timur. Purwosari Pasuruan Jawa Timur, Senen Pahing, 20 April 2026.
Sadar Berkesadaran Menyadari Momentum Itu
Momentum yang mendorong lahirnya Pencerahan Timur Raya sebagai upaya bersama untuk Pemulihan dan Pemuliyaan Budaya Peradaban Nusantara adalah:
Pemulihan Pemuliyaan Budaya Peradaban Nusantara
Menghargai dan Merawat Al Ilmu Nya, berupa Ilmu Kaweruh Kebijaksanaan Leluhur, dalam hal ini adalah arti makna, maksud yang dimaksud dari Nama Nama Tokoh, Nama Gunung, Senjata, Dusun Dukuh Desa, Kecamatan, Kabupaten, Kota dan Propinsi di Seluruh Kawasan Indonesia Raya Kita semua ini, Kita mulai dari Nama Puncak Gunung Arjuno, Pahlawan Nasional Kota dan Kabupaten Pasuruan, karena ada Kisah Sejarah Peristiwa Kejadian Kirab Budaya Pasoeroean Tempo Doeloe.
Kolaborasi Kreatif Inovatif Transformatif
Kejadian Pertama; Pasca Acara bersama di Kirab Budaya Pasoeroean Tempo Doeloe (4/4/2026) antara Bopo Robani dengan Guntur Bisowarno, menetapkan Ketetapan dan Keputusan Gagasan Sederhana berdampak sistemik, secara bertahap dan berjenjang yaitu Pasuruan Kota Suropati (Minggu Legi, 19 April 2026).

Kejadian Kedua; Dengan Joko Pasopati Cakra Nusantara, Guntur Bisowarno, menetapkan Hubungan Pasopati Cakra dengan Untung Suropati. Hubungan Joko Pasopati Cakra Nusantara dengan Bopo Robani, Untung Suropati, Pasuruan Kota Surapati. Keduanya bertemu dan Kirab Budaya Pasoeroean Tempo Doeloe (4/4/2026).
Joko Pasopati Cakra Nusantara adalah Ketua DPC Dewan Pimpinan Cabang Lembaga Pasopati Cakra Nusantara Kota Pasuruan. Sedangkan Bopo Robani adalah Sekretaris LP2BN Lembaga Pelindung Pelestari Budaya Nusantara, Kota Pasuruan.
Saksi Kesaksian Partisipan Terlibat Langsung di Acara Kirab Budaya Pasoeroean Tempo Doeloe, Sabtu, 4/4/2026 adalah: Guntur Bisowarno Ketua Bamboo Spirit Nusantara Support System Purwosari Kabupaten Pasuruan Jawa Timur.
Sloka Sastra Realita
Keduanya memiliki Sloka Sastra Realita, yang sama yaitu Kata PATI, bisa berarti sari pati, inti sari, purwo sari dan bisa berarti Pati Tepung, Tepung bisa menjadi Tepang dalam Kaidah Putaran dan Pergantian Huruf Hidup A,I,U,O,E dalam Disiplin Ilmu Manusia Sastra Budaya Canggih dari Arsip Perpustakan Baru Kuno Modern HORAIZO Klasik Kawasan Gunung Arjuno Induk Peradaban Dunia (10/4/2026).
Dasar Berkesadaran Pertama
Mengingat Kembali Puncak Indrokilo Gunung Arjuno; Panah Pasopati adalah senjata sakti berbentuk panah berujung bulan sabit milik Arjuna dalam wiracarita Mahabharata. Senjata ini dianugerahkan oleh Dewa Siwa (Pasupati) setelah Arjuna bertapa di Gunung Indrakila, dan dikenal sangat mematikan karena hampir tidak pernah meleset dari sasaran. Pasopati digunakan untuk membunuh raksasa Niwatakawaca, serta tokoh kuat seperti Jayadrata dan Karna.
Berikut poin-poin penting mengenai Panah Pasopati:
Asal-usul: Astra (panah sakti) dari Dewa Siwa sebagai bentuk anugerah.
Kekuatan: Merupakan salah satu dari enam jenis senjata Mantramukta yang sulit ditangkis.
Fungsi dalam Cerita: Digunakan Arjuna untuk memenangkan perang Baratayuda dan mengalahkan musuh-musuh kuat.
Konteks Modern: Sloka Sastra Realita nya
Konteks Modern: Dalam konteks Bapenda Jabar, PANAH PASOPATI digunakan sebagai nama aplikasi untuk penelusuran kendaraan bermotor yang menunggak pajak (Penelusuran Penunggak Pajak, Sopan, Akurat, dan Simpati).
Metafora Sloka Sastranya
Secara metafora, panah ini melambangkan ketepatan, kekuatan, dan fokus.
Dasar Berkesadaran Kedua
Siapa Untung Suropati; Untung Suropati (1660-1706) adalah Pahlawan Nasional Indonesia asal Bali (Nama Aslinya ada I Gusti Untung Suropati, keturunan Bangsawan Bali, ada gelar I Gustinya, tapi dijadikan budak oleh Belanda, red.). Sehingga yang awalnya budak VOC lalu berbalik melawan kompeni Belanda. Ia memimpin perlawanan besar di Jawa Barat dan Jawa Timur, membunuh Kapten Tack, serta menjabat sebagai Bupati Pasuruan (Adipati Aria Wiranegara) sebelum gugur di Bangil, Pasuruan.
Berikut adalah poin penting mengenai Untung Suropati:
Asal dan Nama Asli: Lahir di Bali dengan nama Surawiraaji, ia kemudian dijadikan budak oleh perwira VOC bernama Van Baber di Batavia.
Julukan “Untung” Nama “Untung” diberikan karena ia dianggap membawa keberuntungan bagi pemiliknya, Moor, sebelum akhirnya melarikan diri.
Perlawanan terhadap VOC: Ia berbalik melawan Belanda karena tidak tega melihat rakyat ditindas dan harga dirinya direndahkan. Perlawanannya terkenal karena berhasil merebut banyak wilayah dan menewaskan Kapten Francois Tack pada tahun 1686.
Adipati Pasuruan: Setelah perlawanan di Batavia, ia melarikan diri ke Jawa Timur dan menjadi penguasa di Pasuruan (1686-1706) dengan gelar Adipati Aria Wiranegara.
Pahlawan Nasional: Untung Suropati ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional Indonesia melalui SK Presiden No. 106/TK/1975 pada 3 November 1975.
Meninggal pada 3 November 1975.
Meninggal: Ia gugur dalam pertempuran melawan VOC pada 5 Desember 1706 di Bangil, Pasuruan. Ia dikenal sebagai sosok cerdik yang ditakuti VOC dan dihormati sebagai pejuang antikompeni di wilayah Jawa Timur.
Tepang Tepungnya PATI
(Terurailah Intisari Sari Pati, I Gusti Untung Suropati, Purwosari Pasuruan BSN 2026).
Suropati, Saripati Tepung Tepangnya Arjuno Pasopati dan Untung Suropati, ada di Sloka Sastra Realita: Kata Bahasan Bahasa PATI, adaNya.
Hakekatnya PATI, PAsuruan SejaTi
Sloka Sastra Realita Pas suruh an, Pas disuruh Tuhan dan Pas disuruh Tuan, Tuan apa yang Hakekat nya paling pasti, ya Al Ilmunya Tuhan Allah SWT. Karena orang beruntung adalah orang yang selalu tetap dapat petunjuk dari Allahnya (Surat Al Quran, Al Bskoro ayat ke 5), yaitu:
- Teks Arab
اُولٰۤىِٕكَ عَلٰى هُدًى مِّنْ رَّبِّهِمْۙ وَاُولٰۤىِٕكَ هُمُ الْمُفْلِحُوْنَ
- Latin
Ula’ika ‘ala hudam mir rabbihim wa ula’ika humul-muflihun.
Terjemah (Kemenag RI), “Merekalah yang mendapat petunjuk dari Tuhannya dan mereka itulah orang-orang yang beruntung”. (Red).
Oleh : Mbah Openi Praktisi Manusia Sastra Budaya Canggih.

