Pasuruan, Skalainfo.net| Kawasan Petani Tengger Bromo adalah Salah Satu Pilar Budaya Peradaban Jawa Timur dan Nusantara. Kawasan Tengger Bromo adalah penghasil sayuran yang berada di hamparan lahan subur dengan ketinggian 1.600 – 2.300 mdpl. Pertanian dan perkebunan di daerah Tengger Bromo menjadi sumber pokok kehidupan bagi ribuan petani yang memasok komoditas seperti kentang, bawang prei, kubis, dan wortel ke berbagai Pasar Induk Indonesia. Ngadirejo, 9 April 2026.
Kelimpahan Yang Ironis
Namun dibalik keberlimpahan sumber daya alam daerah Tengger Bromo, tersimpan ironi yang berulang setiap musim. Seperti anjloknya harga sayuran hingga pada titik terendah yang menyentuh angka Rp. 500 – Rp. 1000 per kilogram. Fenomena ini bukan hanya sekadar masalah ekonomi, melainkan krisis literasi dan distribusi yang memerlukan diplomasi kolektif informasi terpadu terjamin terpercaya dan akurat, yang memerlukan Diplomasi Kolektif berbasis Massa Kesadaran yang Berkesadaran, dan memiliki Kesadaran Jiwa Agung, DUR Dignity Universal Responsibility, Bermartabat Tanggung Jawab Universal adaNya.
(Baca: Inilah Keterlibatan Langsung dari Bamboo Spirit Nusantara Support dengan Keahlian Utamanya, Komunikasi Diplomasi Literasi Multipihak Multifungsi dan Multidimensional, berbasis Riset Kualitatif Partisipasipatory Active Research. Partipasi Terlibat Aktif Mengenal Akunya aku, Bahagia Dalam Takdir, Manusia, Antropologi, Etnobiostem, Sains Teknologi, Transformasi Informasi Energi Spiritual, 2022. red.).
(Baca: Narasi di bawah inilah Paparan Kinerja berbasis PAR Partisipasipatory Active Research, Riset Partipasi Terlibat Aktif dari Media Jurnalist Indepence yaitu Skalainfo.net. red).
Akar Permasalahan Yang Dibiarkan
Akar permasalahan pada kasus ini adalah mengapa harga selalu terjun bebas? Anjloknya Harga sayuran di lereng Bromo jarang sekali disebabkan oleh faktor tunggal. Berdasarkan fakta lapangan, terdapat tiga penyebab utama yaitu:
- Overproduksi dan Panen Raya Serentak: Kurangnya literasi manajemen tanam menyebabkan petani cenderung menanam komoditas yang sama secara bersamaan. Saat tiba waktunya panen, pasar dibanjiri pasokan melimpah (over supply), sehingga mengakibatkan harga jatuh sesuai hukum pasar.
- Rantai Distribusi yang Terlalu Panjang: Petani Tengger Bromo sering kali dianggap berada pada posisi tawar yang lemah. Sayuran harus melewati tengkulak, pengepul tingkat desa, pengepul tingkat besar, hingga pedagang pasar induk sebelum sampai ke tangan konsumen. Oleh karena itu, keuntungan terbesar jarang dinikmati oleh para petani.
- Keterbatasan Literasi Pasca Panen: banyak sekali para petani Lereng Tengger Bromo yang belum memahami cara pengolahan produk turunan yang tepat. Ketika harga sayuran jatuh mereka lebih memilih membiarkan sayuran membusuk di lahan atau dibuang, karena bagi mereka modal awal lebih mahal daripada harga jual.
Diplomasi Literasi dalam konteks ini berarti menjembatani kesenjangan pengetahuan petani dengan akses pasar. Ini bukan hanya sebagai tugas petani, tetapi tanggung jawab bersama antara pemerintah, akademisi, sektor swasta, dan konsumen.
(Baca: Paparan di bawah ini adalah Bidang Garap Bamboo Spirit Nusantara Support System, sebagai Badan Riset dan Pengembangan Indepence yang mempunyai Program Susun Saiki 2026, based on OR&R Operasional Riset & RealPolitika. red).
Literasi Keuangan dan Manajemen Risiko
- Manajemen keuangan pertanian: mengedukasi Petani Tengger Bromo untuk mencatat modal dan pendapatan secara digital, agar tahu persis ambang batas kerugian.
- Diversifikasi Tanaman: literasi untuk tidak menanam satu jenis sayuran yang sama secara serentak agar tidak over supply di pasaran.
- Diversifikasi Produk: mengedukasi petani agar agar dapat membagi lahan untuk tanaman pangan lainnya yang berbeda musim panennya.
Literasi Pengolahan Pascapanen
- Edukasi Pengemasan (Packaging): literasi untuk mengemas sayuran dengan kemasan yang lebih menarik dan higienis agar dapat masuk ke supermarket, bukan hanya pasar tradisional.
- Diversifikasi Tanaman: literasi untuk tidak menanam satu jenis sayuran yang sama secara serentak agar tidak over supply di pasaran.
- Diversifikasi Produk: mengedukasi petani agar agar dapat membagi lahan untuk tanaman pangan lainnya yang berbeda musim panennya.
(Baca: Inilah Peluang buat Jurusan Antropologi Laboratorium Manusia Budaya dan Ragawi FISIP UNAIR yang sudah menetapkan Desa Ngadirejo Tengger Bromo Kecamatan Tutur Kabupaten Pasuruan Jawa Timur, sebagai Desa Binaannya, Maret, 2026. red).
Bangkitnya Massa Kesadaran Putri Putra Peradaban Tengger Bromo
Peristiwa ini cukup meresahkan para petani Tengger. “Harga sayuran sekarang murah, tetapi kebutuhan hidup tambah mahal, kita juga tidak tahu keadaan seperti ini kapan berakhir” ujar salah satu Petani Tengger Bromo.
Saya, sebagai salah satu generasi muda Putri Peradaban Tengger Bromo, cukup sedih melihat keadaan seperti ini. Berangkat pagi pulang sore pun tidak menjamin hasil yang maksimal. Berharap agar semua keadaan bisa kembali stabil dengan langkah-langkah kecil yang mulai terbentuk dari bangkitnya massa kesadaran berkesadaran dari para Petani Tengger Bromo ini.
Peringatan Dini Yang Sering Diabaikan
Harga sayuran turun drastis adalah sebuah peringatan dini bahwa sistem pertanian di daerah Tengger Bromo belum sepenuhnya berpihak pada produsen kecil. Melalui diplomasi Literasi ini, kita tidak hanya memberitahu “apa” yang harus ditanam, tetapi juga “bagaimana” mengelola ekosistem pertanian dari hulu ke hilir.
(Baca: Bersinergitas Hilir ke Hulu, Program Hilirisasi Jatim Melaju, 2026. red).
Menjaga kesejahteraan Petani Tengger Bromo adalah bagian dari menjaga keberlangsungan Peradaban Pariwisata Tengger Bromo itu sendiri. Tanpa petani yang berdaya, lanskaping hijau Bromo yang elok bisa berubah menjadi lahan kritis yang ditinggalkan. Saatnya Kita tergerak dan bergerak untuk Bersama-sama memegang tanggung jawab bersama sesuai bidang keterpanggilan yang sudah tersadarkan menyadari amanah ilahi alami atas keahlian profesi dan legalitas yang sudah terverifikasi dari lembaganya masing-masing demi Martabat Kemanusiaan berupa pemenuhan gizi bermutu Bersama-sama dan ketahanan ekonomi berdampak sistemik berupa ketangguhan kantong Petani Tengger Bromo yang terisi secara rasional, logis, akademik, spiritual bermartabat mulia adaNya.
(Baca: Sebab Petani, Ibu dan Guru adalah Induk Peradaban Dunia (BSN 2022).
(Red/Miftahuz Zainiah ‘Nia’).
Editor : Guntur Bisowarno Ketua Bamboo Spirit Nusantara (BSN) Support System.
