Padang Panjang, Skalainfo.net| Suasana semarak dan penuh antusiasme menyelimuti pembukaan pertunjukan dramatic reading naskah drama “Perempuan di Persimpangan” karya Syafriwan yang digelar pada Sabtu malam, 17 Januari 2026 pukul 20.00 WIB, di depan Gedung Teater Arena Institut Seni Indonesia (ISI) Padang Panjang.

Sejak awal acara, ratusan tamu undangan dan penonton yang hadir telah dipikat oleh suguhan pembuka yang berbeda. Penampilan dari Sanggar Seni Tigo Sapilin, yang berasal dari Nagari Koto Laweh, Kecamatan X Koto, Kabupaten Tanah Datar, berhasil mencuri perhatian dengan sajian seni tradisional gandang tambua yang energik dan penuh daya magis.

Habibullah, S.E., sebagai ketua sanggar mendampingi sanggar tersebut tampil dengan penuh kekompakan dan semangat. Dentuman gandang tambua yang bertalu-talu menggema di ruang terbuka, menciptakan suasana yang tidak hanya meriah, tetapi juga sarat makna budaya. Irama yang dinamis seolah menjadi panggilan kolektif yang menghidupkan kembali semangat tradisi Minangkabau di tengah panggung seni modern.

Penampilan tersebut disambut dengan tepuk tangan meriah dari para penonton. Banyak di antara tamu undangan yang tampak terpukau, bahkan larut dalam suasana yang dibangun oleh ritme kuat dan harmonisasi alat musik tradisional tersebut. Momentum ini menjadi pembuka yang sempurna sebelum memasuki inti pertunjukan dramatic reading.

Acara yang digelar di area depan Gedung Teater Arena ini berlangsung dalam suasana yang ramai dan hangat. Kehadiran penonton dari berbagai kalangan, mulai dari mahasiswa, seniman, hingga masyarakat umum, semakin menambah semarak malam pertunjukan tersebut.

Pertunjukan utama, yakni dramatic reading “Perempuan di Persimpangan”, merupakan karya sekaligus tugas akhir Syafriwan, mahasiswa Jurusan Seni Teater ISI Padang Panjang. Naskah ini mengangkat tema yang dekat dengan realitas kehidupan, yakni pergulatan batin seorang perempuan dalam menghadapi pilihan-pilihan hidup yang kompleks dan penuh dilema.

Melalui pendekatan dramatic reading, penonton diajak menyelami emosi, konflik, serta kedalaman makna yang disampaikan melalui dialog dan penghayatan para pemain. Meskipun tanpa tata panggung yang kompleks, kekuatan naskah dan interpretasi aktor mampu menghadirkan pengalaman teater yang intim dan menyentuh.

Kehadiran Sanggar Seni Tigo Sapilin dalam pembukaan acara ini menjadi bukti bahwa kolaborasi antara seni tradisional dan seni pertunjukan modern dapat berjalan harmonis. Tidak hanya memperkaya nilai artistik, tetapi juga menjadi bentuk nyata pelestarian budaya lokal di tengah perkembangan zaman.

Pertunjukan ini tidak sekadar menjadi ajang akademik, melainkan juga ruang pertemuan antara tradisi dan kreativitas, antara warisan budaya dan eksplorasi artistik generasi muda. Malam itu, dentuman gandang tambua dan lantunan kata dalam dramatic reading berpadu menjadi satu kesatuan yang menghadirkan pengalaman seni yang berkesan bagi seluruh yang hadir. (Red/Safriwan).

By Admin

-+=