Malang, Skalainfo.net| Perjalanan Transformasi Maha Karya Berkelanjutan; Bagaimana perjalanan seorang Pembatik Klasik Berfilosofi dalam mendapatkan inspirasi baru?
Semua itu ada alirannya di rasa pikir, akal, jiwa dan batin serta gerak badan tubuh yang sewajarnya memimpin jadinya dengan mengalir, berjalan mengikuti dawuh, titah, arahan gurunya yaitu guru alam, guru batin, data fakta situasi dan kondisional yang hadir. Singosari Malang Utara. Rabu, 18 Maret 2026.

Jadilah Arah Yang Mengarahkan
Secara tunggal majemuk, satu persatu dalam persatuan kesatuan yang utuh, perbagian hingga keseluruhan tersebut mampu mengarahkan sebuah ‘benang merah’, yang bisa di tarik secara perlahan, dalam Motif Batik Berfilosofi yang sudah saya buat di awal dengan Motif Batik, berupa desain gambar Arca Dwarapala Pringgodita (Perempuan)…,
Pencerahan dalam Pergumulan dan Perenungan Mendalam
Kenapa diriku ini, hanya tertuju pada arca Pringgodita…, lalu kenapa tidak ada Arca Pringgodaninya sebagai pendamping dan pasangannya?…, dan ini ada sesuatu yang salah, bagaimana bisa Pringgodita tanpa Pringgodani, apa jadinya, bagaimana hampanya…?!? (Baca: Pringgodani & Pringgodita di gambarkan seperti gambaran sepasang dan pasangan dengan Kesadaran Tinggi tentang Esensi Lingga Yoni. red.) Kenapa diriku ini menggambar di Motif Batik, hanya Pringgodita saja? Dan perlahan serta sekelebat, diri ini seketika tersadarkan bahwa ternyata inilah salahnya.
Jatuhnya Peradaban Karena Melawan Kodrat IrodzatNya
Sebuah jawaban bahwa Lingga saja tanpa Yoni adalah kosong, dan juga sebaliknya, peradaban tidak akan berlanjut atau terhenti !?!.
Jagad Jawa Dwipa
Di jagad raya ini, kodrat irodzatnya adalah berpasangan pasangan, apa saja berdimensi Dwi, ya DwiPa; Jawa Dwipa; Jawa adalah Jagad Wahyu dan Jalannya Wahyu, selalu berpasang pasangan kodrat irodzatnya.
Proses Introspeksi, Mawas Diri dan Pencerahan Kesadaran Diri
Dari sinilah saya tersadar apapun di dunia ini selalu berpasangan, menciptakan suatu keseimbangan…Lalu terbersit lah sebuah arca peninggalan sejarah di Bumi suci Kerajaan Singhasari yaitu “Lingga Yoni Surya Candra”, yang berada di depan Pendopo Kawedanan Baru Kuno, di depan Pasar Singosari sebagai jawabannya.
Narasi dan Analisis Lingga Yoni Surya Candra
Surya: artinya matahari / mentari / Bagaskara merujuk pada benda langit yang menerangi bumi, sekaligus melambangkan kemuliaan, cahaya.
Candra: berarti bulan yang bersinar atau terang. Keduanya sering di gambarkan dalam konteks untuk menggambarkan keindahan, ketenangan dan cahaya di tengah kegelapan malam
Candra juga di asosiasi kan dengan pikiran, emosi dan intuisi, ini menunjukkan, Candra tidak hanya merujuk pada keindahan fisik bulan, tetapi juga pada pengaruh transformasi informasi energi spiritual dan psikologis yang mendalam, memberi dimensi makna yang lebih kompleks dan agung.
Esensi Pembatik Tulis Berfilosofi
Beda dengan Pembatik (Tulis Tulus) Klasik Berfilosofi, yang Fokus kepada pesan – pesan dan peninggalan sejarah…apa keuntungan, arah tujuan, dan fokus Pembatik Berfilosofi dan Pembatik Bebas? Pembatik Bebas lebih mudah dan luas dalam mendapatkan / mencapai fokusnya pada tujuan hal ekonomi semata mata…, kalau Pembatik (Tulis Tulus) Klasik Berfilosofi lebih mencari lebih esensial ketimbang sebatas kebutuhan dan keinginan fisik semata wayang, ada kekayaan lain yang Kita perjuangkan yaitu ‘Kepuasan Batin’ yang tidak bisa di nilai sebatas perolehan materi.
Lahirnya Maha Karya Baru
Sinergitas Spirit Wujud Batik Singosari Berfilosofi Lingga Yoni Surya Candra dan Pringgadani Pringgadita, dimana rasa perhitungan Kita, 20-21-22 Maret 2026. Pas di Hari Raya Kemenangan Idul Fitri Tahun Ini bisa selesai proses penggarapannya. (Red).
Penulis : Listyorini Gayantri.
Editor : Guntur Bisowarno Praktisi Manusia Sastra Budaya Canggih.

