Pasuruan, Skalainfo.net| Sesudah Jalan Pertama; Jalan Wayang, Kita lalui dan alami bersama, dalam kebersamaan berupa, Pagelaran Wayang Kulit Ringgit Purwo Klasik, di Oak Lawang Hotel, (Sabtu Malam, 14/2/206), dalam Rangka Hari Kasih Sayang dan Hari Cinta Tanah Air, oleh Dalang Tunanetra Ki Triya Handoko Desa Sumber Ngepoh Krapyakan Kecamatan Lawang Kabupaten Malang.

Dengan Lakon “Wahyu Katresnanne Sejati; Tumurunne Anugerah Cinta Kasih Sayang Sejati, yang sudah berhasil Kita lakukan bersama Oak Lawang Hotel. Skalainfo.net, Satgas Mata Air Nusantara, LMDH Cemara Indah, Yayasan Jamu Nusantara Indonesia, serta Universitas Airlangga Surabaya, Departemen Laboratorium Manusia, Budaya dan Ragawi. Ngadirejo, Kec. Tutur, Pasuruan, 18 Februari 2026.

Jalan Kedua: Jalan Batik, (Senen,16/2/2026), Bersama Bopo Tondo Budi, Sesepuh Kelurahan Candi Renggo Kecamatan Singosari, bersama Pimpinan Sanggar Batik Langsep, Ibu Titin Suhartini membahas potensi pengembangan motif batik berfilosofi  dengan teknologi grading.

Referensi Jalan Kedua, Jalan Batik.

Modern Batik Klasik;

Pidato Pengukuhan Guru Besar, Prof Dr. Agus Hery Supadmi Irianti, M.Pd., Guru Besar FT Ranting Ilmu/Kepakaran Kependidikan dan Pembelajaran Vokasional Bidang Busana, “Mempertahankan Makna Filosofi Motif Batik dengan Teknik Grading”. Kementrian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, 5 Februari 2026. Universitas Negeri Malang.

Jalan Ketiga: 18/2/2026. Jalan Satgas Mata Air Nusantara, Adanya 62 Lokasi Sumber Mata Air di Desa Ngadirejo Kec. Tutur Kab. Pasuruan, sedang dalam rangka Program Desa Binaan Universitas Airlangga Surabaya, Departemen Laboratorium Manusia,  Budaya, dan Ragawi, Pimpinan Prof. Dr. H. Muhammad Adib, Drs, M.A., maka, Mahasiswa-Mahasiswinya sebanyak 6-12 Orang, bakal meneliti berbasis (BBM) Belajar Bersama Masyarakat perihal, Kearifan Lokal dan Disiplin Ilmu Antropologi Lingkungan Desa Ngadirejo; untuk Saintifikasi Program Satgas Mata Air Ngadirejo berbasis Kearifan Lokal,  nama-nama dan maksud tujuan Pemberian nama-nama tersebut dan fungsi kegunanya di masa lalu, masa kini dan masa depan.

Pada Oktober 2013, telah terjadi 600 Mahasiswa Mahasiswi Universitas Airlangga Surabaya, Melakukan Program Study Excursie di Desa Tohari dan Desa Ngadirejo, Perihal Dialog Lintas Peradaban dan Kerukunan Umat Beragama.

Dalam perkembangan selanjutnya pada Tahun 2022 Kecamatan Tosari ditetap menjadi Kecamatan Bhinneka Tunggal Ika (Baca : Kerukunan Umat Beragama Hindu Bromo, Islam Bromo dan Nasrani Bromo. red.) oleh Bupati Pasuruan, Bpk. Irsyad dan Menteri Agama waktu itu, Pak Yakult.

Pencerahan Jalan dan 3 Hari Istimewa;

Berkat Pak Wawan Probo S. Tulisan di bawah ini, Kita dapatkan. “Refleksi atas Hari Imlek, Rabu Abu, dan Awal Puasa”.

Tanggal 17–18 Februari menghadirkan tiga momentum rohani besar yang seolah berbeda, namun sesungguhnya bertemu di satu titik yang sama: hati manusia yang sedang diajak kembali kepada Yang Ilahi.

  1. Imlek – Tahun Kuda Api;

Dalam tradisi Tionghoa, Kuda melambangkan energi, ketekunan, keberanian, dan gerak maju, sementara Api menandakan semangat, pemurnian, dan daya hidup. Namun Imlek bukan sekadar soal fortune atau prosperity. Imlek adalah undangan untuk memulai kembali. Membersihkan rumah, membereskan relasi, memulihkan hati.

A new beginning starts from within;

Tahun baru sejati bukan pertama-tama soal apa yang kita miliki, melainkan siapa kita sedang menjadi.

  1. Hari Rabu Abu Umat Nasrani – Kembali ke Hati;

“Ingatlah bahwa engkau adalah debu dan akan kembali menjadi debu”. Rabu Abu tidak mengintimidasi, tetapi menyadarkan. Abu di dahi bukan simbol kematian, melainkan tanda kerendahan hati dan keberanian untuk jujur.

Lent is not about becoming sad, but about becoming true.

Prapaskah mengajak kita untuk: •memperlambat langkah, •membersihkan motivasi, •dan kembali pada pusat hidup: Tuhan yang tinggal di hati.

Return to your heart and find Him there. (Santo Agustinus).

  1. Awal Hari Puasa – Menyucikan Diri;

Bagi saudara-saudari Muslim, awal puasa adalah latihan rohani: menahan diri, mendisiplinkan keinginan, dan membuka ruang bagi belas kasih dan solidaritas. Puasa bukan sekadar menahan lapar, tetapi mengasah empati dan melembutkan hati.

When the body fasts, the heart learns to listen.

Satu Pesan yang Sama Imlek, Rabu Abu, dan Puasa datang dari tradisi yang berbeda, namun menyuarakan satu panggilan yang sama: Berhenti sejenak. Bersihkan hati. Mulai kembali. Bukan dengan kesombongan, melainkan dengan kerendahan hati. Bukan dengan ego, melainkan dengan kasih.

Doa Penutup.

Tuhan, Engkau hadir dalam setiap pencarian manusia. Ajarilah kami untuk menghormati perbedaan, dan menemukan-Mu dalam ketulusan hati. Semoga setiap langkah pemurnian hidup membawa kami semakin manusiawi dan semakin ilahi. Amin.

Sapaan Penutup.

Semoga tiga jalan, tiga momentum ini menuntun kita semua apa pun iman dan latar belakang kita untuk menjadi pribadi yang lebih jujur, lebih rendah hati, dan lebih penuh kasih.

Salam damai dan sukacita, Tuhan memberkati. (Red).

KONG XI FAT CHOI.

Penulis: Mbah Openi (Praktisi Manusia Sastra Budaya Canggih).

By Admin

-+=