Malang, Skalainfo.net| Bertepatan dengan Hari Raya Imlek (17/2/2026), Tahun Kuda Api, Kuda Jaran, Ajaran Api Brahma, Api Penciptaan BATIK dari Jaman Ke Jaman, sekarang Jaman Peradaban Baru Kuno Modern (HORAIZO) Klasik. Singosari, Selasa, 17/02/2026.

Catatan: Jaman Kini (Sak Iki/Sekarang), Horaizo artinya Hora Bisa, Tidak Bisa. Sedangkan di Jaman Monggolia Kuno Aksara itu artinya Horaizo itu, semua ada sesuai fungsi dan peruntukannya.

Kunonya Kita Menengok Tokoh Besar Ini: Tati Soephi Hajar Niwati adalah Maestro BATIK SINGOSARI.

Beliau biasa di sebut eyang Tati S. Hajar. Beliau sangat di hormati di Singosari, Kabupaten Malang sebagai kunci dibalik Pelestarian Batik Tulis. Beliaupun aktif sebagai Ketua “Karang Werda Pandu Dewanata” di Desa Randuagung, Singosari tempat beliau menciptakan berbagai Motif Batik termasuk Batik Wangsa Singhasari yang terinspirasi dari Seni Ukuran Candi.

foto exclusive skalainfo

Sang Maestro Eyang Tati S. Hajar, berpulang ke Rahmatullah pada Kamis Kliwon,4 Desember 2025, meninggalkan Warisan Budaya Batik yang sangat berharga bagi Malang Raya, pusat kegiatan di Perum Alam Hijau, Kelurahan Randuagung, Kecamatan Singosari, Kabupaten Malang.

“Beliau di kenang sebagai sosok penuh karya dan teladan yang berjuang keras mempertahankan Warisan Batik bertaraf Internasional”.

Perpaduan Motif dan Sanggar Wangsa;

Wangsa Singosari bukan sebatas motif,  tetapi juga merupakan Tanda Branding dari Kelompoknya Eyang Tati, sebelumnya bernama Bulan Asri, semenjak Eyang meninggal, saya masih belum tau seperti apa kelanjutan Kelompok Karang Wreda Wangsa Singosari, dulu saya di Bulan Asri, sekitar tahun 2018 juga akhirnya tergabung di Paguyuban Batik Kecamatan Singosari (PBS), Wangsa Singosari juga di bawah naungan PBS, demikian penjelasan Bu Listyorini Gayantri, selaku murid langsung dari Eyang Tati, yang punya Sanggar Padma Catra di Song Song. Jalan Imam Bonjol 7, Karangjati Ardimulyo Singosari.

Dunia BATIK SINGOSARI;

Dunia batik SINGOSARI adalah perpaduan unik antara Warisan Sejarah Kerajaan SINGOSARI yang agung dengan kreativitas modern masyarakat Malang Jawa Timur. Adapun Sejarah Batik Singosari berakar pada kekayaan Sejarah Singosari yaitu Arca, Candi dan kisah-kisah kerajaan masalalu.

Di Candi Singosari dan Candi Kidal terlahir diriset Arkeologis terhadap Arca dan Ornamen. Ciri-ciri motif utama Batik Singosari memiliki karakter yang kuat dengan perpaduan warna yang berani khas Jawa Timur. Motif Teratai dan Singa melambangkan keperkasaan dan keindahan.

Sejarah Kerajaan SINGOSARI (1222 -1292) di Malang Jawatimur didirikan oleh Ken Arok yang bergelar “Sri Rajasa Bantara Sang Amur wa bumi,” setelah menaklukan Kerajaan Kediri, bercorak Hindu-Buddha Kerajaan ini mencapai Puncak Kejayaan di bawah Raja Kertanegara.

Motif Batik Mahkuto Rojo adalah Tanda Regenerasi Itu;

“Motif ini berawal pada saat saya mulai menerjuni Dunia Batik Tulis, karena pada saat itu di dalam benak saya, saya harus meminta ijin dulu kepada leluhur yang berada di Singosari, karena saya ingin mengangkat Motif-Motif Klasik yang ada di Singosari. Saya ceritakan keinginan saya kepada Guru membatik saya, Beliau biasa di panggil dengan Eyang Tati, yang baru saja berpulang dalam usia 92 tahun di Tahun 2018, tidak tau kenapa saya memilih sowan ke Makam Leluhur di Sumbersuko dan berinteraksi melalui media dengan memakai raga anak saya dan didampingi oleh seorang spiritual.

Berangkatlah saya pada malam itu, malam Jum’at Legi selepas Maghrib dalam cuaca baru selesai turun hujan, jalan masih licin dan gelap gulita, hanya di terangi oleh lampu dari satu (1) handphone, di dampingi oleh guru. Saya sholat Maghrib terlebih dahulu di sekitar lokasi makam, selesai sholat, tapi Guru belum beranjak dari tempatnya, Beliau memejamkan mata, tafakur, dalam keadaan hening seketika, Beliau, kaget, tiba-tiba di pangkuannya sudah terdapat sebuah Kuluk (Mahkota Raja) spontan Kuluk tersebut di serahkan kepada saya.

Tapi posisi saya saat itu sudah beranjak ke makam, karena proses mediasi sudah mulai berlangsung, dari situlah anak saya duduknya seperti Raja…, dan spiritual menyampaikan maksud saya untuk meminta ijin membatik terutama Motif Batik Klasik, dan dalam gerakan, anak saya mengangguk angguk, bisa diartikan di ijinkan.

Lalu Kuluk tersebut (tidak berupa benda) yang jatuh di Pangkuan Eyang Guru, sesampai di rumah di coret-coret untuk membuat sket, lalu saya perbaiki menjadi motif dan saya beri nama “Mahkuto Rojo,” tutur Bu Listyorini Gayantri.

Bukti Mahakarya Regenerasi Eyang Tati;

“Bu Listyorini Gayantri pernah menjadi Juara 1, bersanding dengan Sang Guru, Eyang Tati, dengan Motif Batik Garudeya, Bersama Camat Singosari”.

Inilah Kisah Peristiwanya: Cerita lagi, sewaktu saya Presentasi Motif, yang menjadi Juara 1 itu, tanpa saya sadari, saya trans…, masuknya gak terasa…, tapi saat yang meminjam raga saya keluar saya terasa…, kaget, tersentak seperti baru bangun tidur…, keluarnya halus, hanya memberi pertanda saja kepada saya supaya sadar sadar dan mengetahuinya, tiba-tiba sebelum menerangkan motif tersebut, saya berpidato, nadanya tegas, berwibawa saya, saya nggumun/ tertegun….,

“Beliau menyampaikan apa?” Sebagaimana Kanjeng Ratu Kendedes melahirkan Para Raja…, “Beliaupun berharap pada Kita semua untuk melahirkan karya-karya terbaik demi nama besar Singhasari”, itu yang selalu saya ingat.

Jadi kalau saya ingin meninggalkan Batik sepertinya tidak bisa…, selalu ingat Wejangan tersebut. Waktu itu tempatnya di lokasi Wisata. Pentungan Sari…, Sumber Mata Air juga di Desa Toyomarto.

Kesaksian Bu Listyorini Gayantri;

Eyang Tati, sosok yang sederhana, pembudaya, Guru, Maestro Batik, Singosari dan Kabupaten Malang. Jujur, tidak hanya dari segi materi tapi jujur dari hati atas pilihan hidupnya, dalam mengungkapkan fakta, baik itu motif dan filosofinya, Beliau menciptakan motif yang beliau paling banggakan yaitu Motif Adiluhung.

Beliau tidak berbisnis, Beliau motivator untuk generasi muda, untuk lebih mencintai batik…, tidak hanya generasi muda…, Beliau juga memberdayakan para lansia…, supaya bisa mempunyai penghasilan sendri…, supaya bisa menghidupi dirinya sendiri dan tidak bergantung kepada anak cucu.

Modern Batik Klasik;

Pidato Pengukuhan Guru Besar, Prof Dr. Agus Hery Supadmi Irianti, M.Pd., Guru Besar FT Ranting Ilmu/Kepakaran Kependidikan dan Pembelajaran Vokasional Bidang Busana, “Mempertahankan Makna Filosofi Motif Batik dengan Teknik Grading”. Kementrian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, 5 Februari 2026. Universitas Negeri Malang. (Red).

Penulis: Guntur Bisowarno (Praktisi Manusia Sastra Budaya Canggih).

-+=