Mojokerto, Skalainfo.net| Rutinitas Liwetan Asparagus Jatim kali ini, diadakan di Mojokerto yang bertempat di Villa Samawa – Pacet Mojokerto oleh koordinator Asparagus Mojokerto Gus Khoirul Wafa dari Tawar Gondang Mojokerto, (Putra dari Alm. Mbahyai Afandi). Liwetan Asparagus di buka oleh Gus Hilal dari Sumenep dengan diiringi Maqalul Qiyam secara berjamaah. Senin, 09/02/2026.

Tidak jauh dari lokasi tersebut ada makam keramat yaitu, Sunan Pangkat sebelah barat dari Lokasi Asparagus Nasional yang saat ini koordinatornya Gus Wahab Yahya dari Pondok Pesantren Tambak Beras, Jombang dan saat ini sedang berhalangan hadir dikarenakan lagi menjalankan ibadah umroh bersama keluarga nya, ucap Gus Khoirul Wafa Afandi.

Yang hadir pada malam hari ini ada Gus Sofa dari Ponpes Roudlotul Ulum Kencong Pare Kediri, ada Gus Rokim dari Ponpes Babussalam Jombang (Yang diasuh langsung oleh Gus Salman Wabup Jombang), Ada Gus Imam Khabir dari Surabaya, Gus Fukh dari Malang, Gus Likh dari Bangkalan.

Mauidhoh Hasanah oleh Gus Miftahul Munir dari Ponpes Jombangan Pare Kediri, bercerita tentang awal berdirinya tahun 2007, Ketika itu sedang pergi berjalan-jalan dengan almarhum H. Legowo Kadri ke Purworejo, ceritanya.

Keliling door to door di Jawa Timur dan Jawa Tengah, setiap daerah Gus Munir bermukim selama 1 Minggu bahkan pernah di Malang hampir 12 hari tinggal di hotel Samawa tersebut. Pak Totok sebagai saksi dari Djarum super. Dan tidak mudah untuk memperkenalkan tentang Asparagus itu.

Membangun atau merintis itu lebih sulit dari pada mempertahankan dari komunitas Asparagus, yang dimulai dari blackberry, “Tujuannya untuk ta’aruf, untuk saling membantu antar keluarga pesantren itu sendiri,” tutur Gus Munir, senior Asparagus Nasional.

“Sambutan terakhir dari Gus Imam Khabir menjelaskan untuk indentitas atau legal formal pondok pesantren, beliau bisa membantu pengurusan dokumen dibawah naungan Dirjen Pesantren”.

Hadir pada malam ini beberapa Gus, diantaranya Gus Heri dari Darul Ulum Jombang, Gus Fahmi Fauzi, Agus Sahari, Gus Hilal Ponpes Al Husainiyah, Gus Anas ponpes Al Azizi dari Sumenep Madura, Gus Masfuk Zuhri dan Gus Asbah ponpes Darunnajah Malang, Gus Habib M.H. dan Gus Saikhu dari Ponpes Sabilunnajah dari Watutulis Sidoarjo, Gus Masrukhan dari Nganjuk dan beberapa Gus dari Pandaan Pasuruan, Tulungagung, Ringinagung Kediri, Gus Arifin ponpes Al Khoiriyah Wonoayu Sidoarjo, Gus Heru Sulthon Ponpes Al Ikhlas Suwaluh Balongbendo, Gus Fuad Ponpes Darul Fatihin dari Badas Kediri..

Dari Mojokerto Raya sendiri ada Gus Ali Nasikh Ponpes Al Istiqomah Dlanggu, Gus Khoirul Wafa Ponpes Darunnajah Jatirejo, Gus Nawawi, Gus Asmawi dari Mojosari, Gus Atho’ ponpes Al Khoiriyah Gondang, juga Gus lainnya dari Ponpes se-Mojokerto Raya yang hadir serta hadir Gus Andrias Wahyu juga Gus Khoirul dari Djarum Super Mojokerto dan Jombang,

“ASPARAGUS”

Asparagus adalah singkatan dari Aspirasi Para Gus, pemilihan nama ini didasari karena mudahnya penyebutan yang diharapkan mudah diingat dan sebutkan, Gus adalah sebutan yang jamak disematkan pada putra pengasuh pesantren yang berada di wilayah Jawa khususnya Jawa Timur.

ASPARAGUS sebagai organisasi generik yang memposisikan sebagai pendukung dari organisasi-organisasi yang dibentuk oleh Nahdlatul Ulama, jadi keberadaan ASPARAGUS bukanlah organisasi formal seperti layaknya lembaga atau badan otonom NU, karena ASPARAGUS adalah organisasi informal maka tidak ada ketua atau pun sekretaris dengan masa jabatan tertentu melainkan ketua dan pengurus “adhoc” yang diputuskan secara musyawarah untuk melaksanakan kegiatan kegiatan Asparagus.

Dan masa jabatannya berakhir setelah kegiatan tersebut selesai, hal tersebut dimaksudkan untuk proses regenerasi dan pengkaderan dengan eskalasi yang cepat. Mengingat semua anggota ASPARAGUS adalah pribadi yang harus siap menampuk kepemimpinan di pesantren masing-masing dimana sebagaimana lazimnya bahwa Pesantren adalah pertahanan Nahdlotul Ulama.

Aturan yang tak tertulis dari ASPARAGUS adalah dzurriyah atau keturunan dari pengasuh pesantren alaa sunnah waljama’ah annahdliyah. Asparagus tidak terikat oleh organisasi politik apapun namun membebaskan anggotanya untuk berkiprah melalui pintu dan warna apapun dengan berpegang teguh kemaslahatan bagi nilai-nilai ahlussunnah waljamaah.

Asparagus menggunakan Sistem Kerja korda-korda untuk wilayah-wilayah karasidenan dengan fungsi keeptouch atau menjalin silaturrahim. “ASPARAGUS adalah didasari atas kesamaan tanggung jawab dan beban amanah yang ditanggung oleh seluruh anggota, dengan bergabungnya didalam Asparagus diharapkan bisa saling memberikan masukan dari masing-masing pesantren yang memiliki kekhasan dan permasalahan yang hampir sama walaupun dalam hal-hal tertentu pasti ada perbedaan.

Tiap pesantren memiliki karakterisistk dan keunggulan yang berbeda-beda oleh karena itu keberadaan Asparagus bermanfaat sebagai media komunikasi dan silaturrahim sambil menimba dari kekurangan serta kelebihan masing-masing pesantren.

“MOTTO ASPARAGUS”: Menjalin Silaturrahim Melestarikan Tradisi, paparan Gus Misbahul Munir dalam wawancara dengan awak media ini. (Red/AM Aminoto).

(AM Aminoto Alumni PP Roudlotul Ulum Kencong Pare Kediri).

Editor : Guntur.

-+=