Pasuruan, Skalainfo.net| Kamis, 8/1/2026, Banjir di Desa Andonosari wilayah Dusun Besuki, Sekarkuning, dan longsor di Wewe Sugro Kecamatan Tutur Kabupaten Pasuruan. Terjadi banyak titik longsor dikawasan hutan lindung yang masuk Kawasan RPH 22 Sugro. Akibat hujan yang sangat deras serta di picu dari penggarapan lahan di atasnya untuk pertanian serta ada yang menggunakan penutup plastik mulsa, dampak yang akan terjadi pemukiman penduduk Dusun Besuki akan terancam karena ada di bawah kawasan tersebut. Senin, 09/02/2026.

Ketika curah hujan yang tinggi menjadi salah satu penyebab terjadinya longsor di Dusun Sawahtalun Desa Andonosari, Kecamatan Tutur, Kabupaten Pasuruan. Bencana tersebut terjadi sekitar pukul 14.30 WIB pada hari jum’at, 6 Februari 2026.

Jalan utama penghubung antara Desa Andonosari, Kecamatan Tutur dengan Desa Janjangwulung Kecamatan Puspo ini tidak dapat dilalui oleh kendaraan roda empat, dikarenakan kondisi jalan cukup sempit akibat komponen longsor yang mengikis.

Pentingnya Sosialisasi SOP;

Berbicara mengenai Pedoman Teknis SOP Bencana Longsor, tulisan ini mengajak pembaca untuk flashback kedalam acara Sarasehan Satgas Mata Air Nusantara di Desa Ngadirejo, Kecamatan Tutur. Obrolan mengalir kesana kemari, dilengkapi dengan hidangan, buah-buahan dan minuman yang menghangatkan suasana serta tubuh yang yang memulai beradaptasi dengan kesejukan udara Desa Ngadirejo.

Saresehan Roso Orep Sejati Satgas Mata Air Nusantara;

“Kabut dan hujan deras menutupi langit yang indah, hanya langit yang tertutup, hati dan pikiran Kita tetap terbuka dan peka terhadap kondisi alam sekitar”. Ya Buku Panduan Teknis SOP sosialisasi di lapangan butuh wawasan dan buku pedoman petunjuk arahannya untuk terapannya di lapangan, ujar pak Guntur Bisowarno.

Beliau juga bilang “Berdasarkan buku pedoman teknis pusat tersebut, sangat perlu untuk diterjemahkan secara sektoral, teritorial, kawasan yang tentunya memiliki tantangan situasi dan kondisi lapangan yang berbeda. Dimana sebagian masyarakat cenderung abai dan minat membaca cukup rendah.

Eksistensi ini hanya terbatas pada kalangan tertentu saja, seperti kelompok lembaga Swadaya Masyarakat, yang juga mendorong percepatan dan menjadi jembatan bagi masyarakat dengan tingkat SDM yang masih rendah di beberapa daerah.

Hal ini adalah sebuah tantangan yang harus dihadapi dengan cara mengajak untuk meningkatkan minat baca dan pentingnya sosialisasi pada setiap bidang yang diturunkan SOP, baik SOP banjir, SOP longsor, dan SOP gempa. Setiap daerah memiliki perbedaan SOP secara geografis dan pola yang sedang terjadi.

Para akademisi juga perlu kajian pada bidang keilmuan masing-masing. Fenomena yang terjadi saat ini adalah pandangan masyarakat terkait produk SOP yang kurang menarik. Mereka menganggap bahwa ini adalah tanggungjawab petugas, padahal seharusnya masyarakat memiliki kesadaran dan menerima edukasi tentang SOP bencana alam. Pola pikir ini harus diubah karena penanggulangan bencana bukan sekadar SOP, melainkan tanggungjawab moral berbasis kemanusiaan dan menjadi kepedulian bersama.

Potensi dan Peluang Generasi Muda;

Generasi muda harus mampu menjembatani kesenjangan antara nilai-nilai tradisional yang sudah menjadi warisan (silsilah/ adat), dengan pola yang mau berpikir, pola pikir baru yang lebih rasional dan independent, untuk membawa perubahan positif meskipun dihadapkan dengan pada situasi sosial budaya yang cukup rumit dan minimnya pengalaman.

Goal Kelestarian, Kebersamaan dan Kesejahteraan Bersama;

Berdasarkan data fakta, tindakan nyata dari Bu Ike & Team, ternyata  sudah tersedia SOP bencana longsor, khususnya yang terjadi di Andonosari, bahkan Kepala Desa Ahmad Pujianto beserta perangkat desa Pemerintah Kecamatan turut andil dalam bencana tersebut. Juga dihadiri oleh Candra dari Dinas BMBK dan Bu Ike Pratiwi dari Pihak Kecamatan Tutur.

Longsoran tersebut sudah ditangani, sementara dengan cara ditutupi terpal agar longsoran tidak semakin tergerus air hujan. Lalu bencana ini segera dilaporkan ke dinas terkait seperti BPBD (Badan Penanganan Bencana Daerah) dan BMBK (Bina Marga dan Bina Konstruksi).

Tantangan dan Kendala Sosialisasi SOP;

Tetapi terdapat kendala kurangnya sosialisasi dan literasi mengenai Pedoman Teknis SOP tersebut. Sehingga adanya upaya bersama Praktek Bu Ike & Team dan juga sikap tanggap dan sigap dari LMDH Cemara Indah yang membeli bibit mandiri serta berkolaborasi dengan pemerintah Desa, Kecamatan, Kabupaten, Forkopimcam, Lembaga Swadaya Masyarakat, Media, terutama pihak akademisi, dari Departemen Manusia, Budaya dan Ragawi yang dipimpin oleh Prof. Dr. H. Muhammad Adib, Drs, M.A., dari Universitas Airlangga Surabaya dan Satgas Mata Air Nusantara yang dipimpin oleh Guntur Bisowarno S.Si.,Apt, menjadi teratasi secara bertahap dan berjenjang terkait persoalan kesenjangan SOP dari Pemerintah dan TNI.

Dengan adanya kolaborasi dan sinergitas tersebut, setiap kendala akan terpecahkan karena kekuatan kebersamaan dan kekompakan. Sehingga, kurangnya literasi, materi, dan material dari SOP sudah terkendali oleh LMDH Cemara Indah, Prof. Adib, Satgas Mata Air Nusantara yang dipimpin oleh Guntur Bisowarno S.Si., Apt bersama tim media Skalainfo.net.

Mereka semua memiliki karakter yang; “terbuka, toleran dan “momot” dalam bahasa Jawa yang berarti kebersamaan, satu persatu, persatuan, kesatuan untuk memecahkan masalah dan menemukan solusi demi solusi. Tentunya sesuai kondisi SDA dan SDM yang ada, dengan kesediaan untuk saling memberikan ilmu dan skill yang dikuasai, demi ‘Memayu Hayuning Bawana, Nusa Bangsa dan Jagad Raya’.

Praktek Penanganan 10.000 Bibit Pohon Cemara;

Gerakan Penanaman 10.000 Pohon Cemara. Aksi kolaboratif ini berpusat di Petak 22 RPH (Resort Pemangkuan Hutan) Sugro, Desa Ngadirejo, Kecamatan Tutur, Kabupaten Pasuruan, yang merupakan kawasan penyangga air penting di lereng pegunungan Bromo.

Dari peristiwa ini, dapat disimpulkan bahwa kerjasama, kebersamaan dan solidaritas itu sangat penting dalam memecahkan suatu masalah. Bukan lagi tentang daerah mana yang paling maju, atau daerah mana yang ketinggalan, bukan lagi era persaingan.

Sekarang sudah era berkolaborasi, saling tukar pikiran, dan bekerja sama untuk menghadapi suatu tantangan. Rasa kemanusiaan juga menjadi dasar moral, saling berpegangan tangan, berjalan beriringan, membentuk suatu negara yang tangguh dan alam yang utuh. (Red/Team Nia Miftahuz Zainiah).

Editor: Mbah Openi (Praktisi Manusia Sastra Budaya Canggih).

-+=