Tangsel, Skalainfo.net| Melukis adalah salah satu cabang seni rupa yang paling ‘tua’ diantara cabang seni lainnya. Seiring dengan berkembangnya seni, mulai bermunculan berbagai macam aliran seni dari waktu ke waktu. Sedangkan yang membedakan aliran seni tersebut antara lain, gaya visual, teknik pewarnaan dan pesan yang ada didalamnya. Aliran seni lukis merupakan sebuah gaya, genre dan paham yang diikuti oleh individu ataupun kelompok tertentu untuk menciptakan seni lukis. Beberapa macam aliran seni lukis terbesar yang ada di dunia: romantisme, naturalisme, realisme, impresionisme, fauvisme, ekspresionisme, kubisme, dadaisme dan surealisme.
Ekspresionisme akan kita kupas sebagai salah satu dari aliran seni lukis di dunia. Aliran ini mengedepankan ekspresi individu seniman itu sendiri terhadap apa yang mereka lihat, ingat dan rasakan. Ekspresionisme tidak akan membebankan ketelitian dan juga kesulitan di dalam karyanya. Beberapa pelukis dunia beraliran ekspresionisme antara lain, Vincent van Gogh, Edvar Much, Affandi, S.Sudjojono dan Kartika (putri Affandi). Di Indonesia salah satu pelukis senior ekspresionisme, Maestro Udin Choiruddin telah banyak menghasilkan karya lukisan yang menjadi langganan warga negara asing yang berkunjung ke Indonesia.

“Aliran ekspresionisme adalah aliran yang ingin mengemukakan segala sesuatu yang bergejolak dalam jiwa,” ungkap Udin Choiruddin disela-sela obrolan sore kemarin, Sabtu 28 Desember 2024 di galeri lukisnya.
Udin Choiruddin yang berdarah Pekalongan, Jawa Tengah ini sedari kecil sudah berprestasi dalam seni lukis di sekolahnya. Cita-cita beliau sejak kecil untuk menjadi seorang pelukis sedikit terhambat karena kondisi ekonomi keluarganya di tahun 1970-an itu. Udin Choiruddin juga sudah terbiasa membantu ibundanya dalam membatik di Pekalongan. Pada tahun 1984 beliau masuk Kota Jakarta mengerjakan hasil disainer-disainer senior seperti Poppy Dharsono, Adjie Notonegoro, alm. Prayudi, Susan Budihardjo dan Harry Darsono, untuk membuat lukisan batik dalam hasil karya para disainer tersebut. Sebagai seorang seniman, beliau membuka galeri seni barang antik di Kemang Jakarta. Saat itulah Udin Choiruddin lebih fokus kepada barang seni dibanding lukisan, walau tetap masih mengerjakan lukisan batik bagi para disainer. Menekuni melukis secara serius mulai tahun 1985, sejak dipanggil Esterliana salah seorang pengrajin batik yang belajar di luar negeri.
“Sejak saat itu saya benar-benar menekuni lukisan sampai saat ini. Walau saya menjual barang antik tetapi warga negara asing tertarik dengan karya lukisan yang saya buat untuk dibeli dan dibawa ke negaranya,” pungkas Udin Choiruddin.
Keinginan beliau ingin membuat lukisan yang berseri menjadi impiannya untuk pameran tunggal berikutnya. Inspirasi lukisan ekspresionisme hadir setelah beliau terkadang melihat barang antik yang dipajang atau lingkungan sekitarnya.
Pengalaman beliau dalam membatik dan melukis, menjadi modal untuk menjadi mitra utama para disainer adi busana Indonesia untuk memberikan ‘sentuhan’ lukisan batik pada beberapa hasil disainer mereka. Udin Choiruddin ‘berkiblat’ kepada salah satu pelukis ekspresionisme Indonesia yaitu Affandi, sebagai acuan karya-karya beliau. Walau tidak akan sama dengan karya pelukis senior Affandi.
Sebagai salah satu pelukis senior dan pembatik, keinginan beliau mengajarkan membatik dan melukis bagi anak-anak sekolah, agar mereka yang memiliki bakat dalam seni yang satu ini akan dapat terlihat dan diasah untuk menjadi salah satu pelukis handal dan memiliki originalitas sebagai seorang pelukis dan pembatik, pungkasnya. (Red/Billy).

