Oleh : Lilis N (Ketua DPP LPHE)
Subang, Skalainfo.net| Kalaupun pemerintah mampu memberikan lapangan kerja berarti pemerintah hanya mampu mencetak sarjana yang siap-siap jadi buruh, yang harus pergi pagi pulang petang, yang tidak bisa berlibur kecuali sakit. Menjadi mesin pencetak uang. Kita akan kembali pada lingkaran setan kapitalisme. Ujung-ujungnya kita yang mengundang investor-investor (kapitalis) yang siap menguras sumber daya alam Indonesia.
Jika para sarjana berbondong-bondong ingin jadi buruh apa yang sebenarnya salah?
Yang salah adalah pendidikan baik dari strateginya, sistem dan kurikulum. Pendidikan sangat strategis dalam mencetak manusia. Apa yang selama ini kita tanamkan pada siswa-siswa kita sehingga mereka salah melangkah?
Mereka menjadi generasi yang hidupnya tergantung pada kebaikan pemerintah dan atau para kapitalis?
Mungkin perlu revolusi dalam tubuh pendidikan. Seharusnya siswa-siswa di didik menjadi manusia-manusia mandiri yang mampu menentukan hidupnya dan siap bertempur terhadap apapun dengan segala resikonya.
Semestinya siswa dilatih dalam cara berfikir dan dibekali skillnya. Jadikan generasi muda ini generasi yang siap bertempur untuk masa depannya. Kita lihat banyak pelatihan-pelatihan motivasi di luar sekolah yang berhasil mencetak para pengusaha.
Tapi sayang, pesertanya umumnya di usia 40 tahunan yang notabene yang sudah gagal. Seharusnya itu diterapkan pada siswa-siswa SMP dan SMA. Apa yang menarik dari pelatihan-pelatihan motivasi itu?
Mereka bisa mengubah cara berfikir seseorang hanya dalam beberapa kali pertemuan. Sedangkan disekolah bertahun-tahun hanya melahirkan generasi yang sibuk mengemis pekerjaan.
Penting bagi kita untuk mengadakan revolusi pendidikan. Para pemikir berkumpul kembali untuk membuat konsep yang terbaik untuk Indonesia ke depan. Mencetak Generasi mandiri. (Red).
