LMK Cempaka Putih Tmur, Kunjungi Tempat Pembudidayaan Maggot

LMK Cempaka Putih Tmur, Kunjungi Tempat Pembudidayaan Maggot


Jakarta, Skalainfo.net| Lembaga Musyawarah Kelurahan (LMK) Kelurahan Cempaka Putih Timur melakukan kunjungan tempat budidaya maggot di Dinas Lingkungan Hidup Kecamatan Cempaka putih, Jakarta Pusat, pada hari Jumat, 21/1/2022.

WhatsApp Image 2022 01 21 at 11.28.39
Foto executive

“Dalam kunjungan tersebut, LMK Kelurahan Cempaka Putih Timur yang diketuai oleh Ari Akman beserta anggotanya diterima oleh beberapa perwakilan dari Kasi Pemerintah serta anggota dari Dinas Lingkungan Hidup, Kecamatan Cempaka Putih”.

Maggot merupakan belatung pengurai yang dihasilkan dari lalat hitam atau Black Soldier Fly (BSF). Lalat ini berwarna sedikit kehijauan. Berbeda dari belatung biasa, belatung jenis ini tidak berbau. Budidaya Maggot bisa menjadi solusi persoalan sampah organik.

Supri selaku koordinator pengelolaan Maggot memberikan penjelasan dan pengarahan langsung mengenai budidaya maggot. Disebutkan bahwa yang harus dipersiapkan bagi pemula budidaya Maggot yang pertama adalah lahan untuk pengembangannya dan yang kedua adalah sumber sampah.

WhatsApp Image 2022 01 21 at 11.28.40
Executive

Abdul azis koordinator pembesaran maggot menjelaskan, bahwa pengolahan sampah ini melalui metode bio konversi dengan memilah sampah Organik. Maggot BSF ini juga bisa membantu permasalahan sampah organik yang menggunung. Sekitar 750 Kg, maggot BSF mampu mengurai sekitar 2 Ton, sampah organik hanya dalam kurun waktu 1 minggu. Sesuai dengan Pergub (77) sampah pemilihan dari sumbernya yang sekarang ini dijalani dari setiap RW untuk dipilah sampahnya yang di bawa ke LH Kecamatan Cempaka Putih untuk di proses menjadi makanan Maggot.

“Untuk mencapai hasil yang optimal, kebutuhan sampah untuk pakan maggot bisa mencapai 1, 4. Artinya, untuk 1 Kg maggot, diperlukan kurang lebih 4 Kg sampah organik. Angka tersebut tentunya bisa berubah sesuai kondisi yang dihadapi. Jika pembudidaya ingin meraih hasil lebih baik, asupan pakan bisa ditingkatkan, begitu pula sebaliknya,” ucap Azis.

Supriyono menambahkan bahwa setelah proses pemilihan sampah organik kita juga mempersiapkan kandang khusus pengembangan lalat BSF, untuk pembibitan magot, dan untuk produksi maggot.

Kandang pertama dibagi dua ruang untuk perkembang biakan lalat BSF. Di dalam ruangan berkelambu itu terdapat beberapa klaras atau daun pisang kering yang digantung. Di antara klaras itu dipasangi papan kayu yang dibentuk menyerupai kandang burung yang berguna untuk menampung telur. Terdapat kandang yang lebih luas yang khusus untuk pembibitan maggot.

Ada beberapa tahapan pengembangan bibit magot ini. Telur-telur maggot hasil dari kandang satu tadi sebagian disimpan untuk pembibitan. Butuh tujuh hari proses penetasan dari telur menjadi belatung kecil atau larva. Proses penetasannya membutuhkan saringan halus yang diletakkan ke dalam baskom atau pun boks plastik yang telah diisi serbuk kayu halus. Telur-telur itu akan menetas, dan larvanya akan turun ke bawah atau tersaring dengan sendirinya.

“Nah pada proses produksi baby maggot, akan diberi makan berupa Pur selama tujuh hari dan setelah proses tersebut, makanan maggot diganti. kita memberi pola makan 1,5,9 yaitu, hari 1 diberikan lima kilo makanan, hari ke 5 juga diberi lima kilo makanan dan hari ke 9 diberi lima kilo dan baby maggot yang berkembang besar, selanjutnya, maggot siap didistribusikan,” kata Supri.

Maggot banyak diminati untuk pakan ternak. Seperti ikan lele dan binatang jenis unggas, bebek, itik, ayam dan sebagainya. Selain bermanfaat sebagai pakan ternak, binatang pengurai ini dapat membantu menekan produksi sampah organik. (Red/Andi L).


Fokus Komunitas Millennial Terkini