• October 23, 2020

Gagal Dapat Bantuan Bedah Rumah Warga Pituruh Pasrah Rumah Roboh

 Gagal Dapat Bantuan Bedah Rumah Warga Pituruh Pasrah Rumah Roboh

Gagal Dapat Bantuan Bedah Rumah Warga Pituruh Pasrah Rumah Roboh

PURWOREJO, skalainfo.net |
Program tahunan milik Kementrian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR), Bantuan Stimulan Perumahan Swadaya (BSPS). Salahsatu warga, Supariyo (63) yang tinggal di RT 01, RW 03 No. 6, Sutogaten, Pituruh, Purworejo, pasrah dan miris dengan digagalkan mendapatkan program “Bedah Rumah”.

Pasalnya, dimana program bedah rumah dari pemerintah mencapai bantuan dana hingga Rp. 35 juta untuk memperbaiki hunian pada Masyarakat Berpenghasilan Rendah (MBR), masih ada rumah warga yang tak layak huni dan hampir rubuh karena kayu- kayu rumah sudah rapuh dimakan rayap.

Supariyo mengaku, sempat ditawarkan oleh Desa Pituruh melalui Kadus Tumingan, untuk mendapat Bantuan Bedah Rumah. Namun ditolaknya karena bantuan tersebut dalam bentuk bahan bangunan material senilai Rp. 12.500.000,- dan jasa tukang senilai Rp. 2.500.000,-  bila ada kekurangan biaya dalam proses membangun bedah rumah kami disarankan untuk menggadaikan surat rumah atau menjual ternak.

“Saya dan anak- anak menolak, karena uang bantuan itu harus dipakai untuk membangun satu rumah utuh dengan merubuhkan rumah kami yang lama, bila kurang biayanya kami yang menanggung sisa perbaikan rumahnya. Kami dipertanyakan apakah memiliki ternak  atau tabungan, kami tidak ada apa-apa yang dapat kami jual, hanya memiliki Sertipikat Hak Milik (SHM) dan disarankan menjaminkan ke bank untuk menutupi kekurangan bedah rumah saya, saya tidak sanggup mencicilnya nanti ke bank” keluhnya, saat ditemui di rumahnya, Sabtu (3/10/2020).

Disisi lain, Suswanto sebagai anak tertua pun mengeluhkan atas saran yang ditawarkan untuk menggadaikan SHM rumahnya. Dirinya mengaku, pekerjaanya saat ini hanya bisa membantu untuk kebutuhan sehari-hari.

“Kami bayar pakai apa Pak, cicilannya nanti, sedangkan saya kerja jadi OB di Puskesmas Pituruh hanya gaji pas untuk hari hari makan,” terang Suswanto.

Sebagai kepala keluarga, Supariyo sudah menempati gubuk tersebut dari tahun 1989, bersama Istrinya Warsih (57) dan ke empat orang anaknya yang semua putus sekolah.

Warsih pun lebih memilih tinggal seadanya dan menaruh kekhawatiran jika harus rela menggadaikan rumahnya ke bank.
“Kami lebih baik rumah seperti ini Pak, dari pada kami tidak sanggup bayar hutang dengan mencicil dan rumah kami pasti akan disita, maka itu kami menolak, dari mana kami cari kekurangannya, lalu kami memohon kepada Kadus/ Bayan Tumingan untuk Bantuan dalam bentuk material dipergunakan untuk memperbaiki sisi rumah yang bolok dan rusak, akan tetapi tidak digubris” pungkasnya.

Bahkan anak saya Karyati yang sudah menjadi warga Sutogaten Pituruh yang ikut menumpang di belakang rumah dengan sudah mempunyai Kartu Keluarga sendiripun tidak mendapatkan bantuan apapun dalam Pandemi Covid – 19, baik bantuan dana tunai dan sembako, sedangkan warga yang mungkin taraf hidupnya lebih dari anak saya mendapatkannya” keluh Warsih kembali sebagai ibu kandungnya

Pihak keluarga menolak atas bantuan desa yang ditawarkan, dengan alasan bantuan tersebut terkesan dipaksakan dan rumah harus jadi walau dengan bantuan yang sangat minim. Dan mereka lebih ikhlas tinggal ditempat itu, akan tetapi tidak mempunyai beban hidup.

Dilain pihak, Kadus Sutogaten Pituruh Tumingan membenarkan atas pengalihan bantuan bedah rumah yang diberikan kepada keluarga Supariyo. Dirinya mengaku, pihak penerima bantuan menolak lantaran tidak ada biaya untuk menambahkan biaya renovasi ketika kuota bantuan sudah terpakai.

“Memang benar ada bantuan bedah rumah dari desa, terpilih adalah Supariyo tetapi ditolak, karena memang bila warga yang terpilih dibantu tidak dapat menomboki sisa renovasi untuk bedah rumahnya sendiri, maka di batalkan dan di alihkan ke warga lain yang mau dan dapat menutupi kekurangan bedah rumahnya pakai uang pribadi dan harus menjadi rumah utuh agar dapat saya pertanggung jawabkan kepada desa,” tandasnya.

Sedangkan, pengakuan Ketua RT. 01, Sutogaten, Desa Pituruh Mardi menjelaskan, bahwa seharusnya Program Bedah Rumah dapat dipakai untuk renovasi dan tidak harus membongkar keseluruhan bentuk rumah, jika memang anggaran tersebut minim dan dapat disikapi dengan solusi bantuan material yang digunakan untuk memperbaiki sisi rumah yang rusak.

“Harusnya jika memang anggaran tersebut minim dapat disikapi oleh Kadus/ Bayan Tumingan dengan solusi bantuan material yang digunakan untuk memperbaiki sisi rumah yang rusak, jadi tidak harus seluruhnya dibongkar, seperti warga lainnya yang dapat bantuan tersebut, apalagi harus nombok memakai anggaran pribadi yang dipaksakan,” jelasnya.

“Saya sangat prihatin dengan kondisi rumah Supariyo, seharusnya Kepala Desa Pituruh menyikapi masalah ini, saya akan coba mencari solusi dan berbicara dengan kepala Desa Pituruh dan Aparatur Desa Pituruh, seperti Camat Pituruh dan Danramil terkait agar ada solusi” imbuh salah satu tokoh masyarakat yang tak berkenan disebutkan namanya, ketika mengunjungi rumah Supariyo. (Novi/Rls / red)