Perjalanan Menegakkan Seni Hidup Karya Indonesia

Perjalanan Menegakkan Seni Hidup Karya Indonesia

  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Bersama : Ki Ompong Soedharsono; Dalam Jagong Purnama Ngobrol Budaya

Temanggung, Skalainfo.net| Ada bahasa dan celethukan-celethukan… kecrek pathilan… thu  thuk an khas, sapaan spontan hingga Bahagia Seni Hidup Karya Indonesia Gasspoll tanpa Pedot dalam Respon Enerjologi Ki Ompong Soedharsono; Dalang Idola Semesta Raya bersumber Seni Hidup Bidang Garap alam semesta, Temanggung Jawa Tengah, 10 Agustus 2020.

Catatan Pertama : SETENANG BAROTO SENO ….# Ki Ompong Soedharsono … matur nuwun Bopo Guru Romo Bambang … Romo Sitras Tutup ngisor Dukun Magelang … Kang Mas Untung Sanggar Bangun Budaya Sumber Kecamatan Dukun Magelang.

Sungguh bersyukur atas jalinan perjalanan persaudaraan dan satuan kehadiran yang menegakkan Kebaikan Kebangkitan Peradaban dan Kebudayaan Seni Hidup Karya bersumber Bidang Garap Alam Semesta Raya.

Catatan Kedua : Semangat dan bahagia … Bumi Pala …# Ki Ompong Soedharsono … los … Aku Wayang Wayang Buyut Nusantara Asli Indonesia …

Identitas Geometrikal dan Esensi Substansi Jati Diri Kebangsaan yang sangat jelas dan sekuwat Wayang Seno; dalam Perjalanan Negara Republik Indonesia tergenapi 75 Tahun nyataNya,  yang ajeg dibangun dalam Seni Hidup Bidang Karya bersumber Bidang Garap Alam Raya dan Alam Pengalaman Perjalanan Sejarah Peristiwa Kisah dan Kejadian Kita masing-masing.

Catatan Ketiga : BAHAGIA SEMALAM RABU 5/8/2020 di Embung Ngropoh Kranggan Temanggung Jawa Tengah, Pentas Silahturahmi Kebangkitan Kebudayaan dan Peradaban Brangwetan “Jagongan Budaya, bareng dulur Bumi pala” di tepi Brangwetan …# Ki Ompong Soedharsono … semangat.

Catatan Ke-empat : Biarlah nafasku nafasmu masuk menyatu dengan perbedaan aneka Wayang Alamiahnya, aku yakin sifat karakter akan muncul terbentuk sesuai alam-alamnya dan Panggilan Jiwa Buananya. Percayalah kita sepakat bukan?. Sama-sama mencintai dan ingin menikmati syurga bukan,? …# Ki Ompong Soedharsono … jagongkan dengan mbudidoyo katresnan tanpo wates … tradisi yang begitu aneka Seni Hidup Bidang Karya yang ada pada Wayangku dan Wayangmu jangan hanya sekedar terjaga dan di jaga, Tapi KEMBANGKAN dengan Merdeka Mahardhika … tanpa batas tanpa sekat.

Catatan Kelima : PENTASKU ADALAH DOA KU … BUKAN LAH LOMBA dan LOBA … BUKAN PULA JELEK DAN BAGUS YANG TER- TUNJUKAN PADAMU LUR Para Saudaraku … TAPI MEMAKNAI DAN MEMPRAKTEKAN RASA SYUKUR DAN BAHAGIA … TERNYATA TIDAK DAPAT DINILAI DENGAN MANAJEMEN BUDGET NOMINAL …# Ki Ompong Soedharsono …

Tat Twam Asi … Tat Twam Astu … Panggung dan area pentasku adalah lelaku hidup di panggung pertunjukan dan panggung kehidupan nyata yang ter- ruang tanpa batas tanpa sekat … tanpa jeda … dan hanya dua senjataku.

  1. manut piwulang ajaran ilmu apapun yang di ajarkan para semua guru-guru padaku dan
  2. ngalap barokahe Guse minongko guru … lan selalu ber- syukur dan ber- doa pada Allah SWT dengan bermunajat aneka warna yang tak bisa kutulis dengan FB ini …

Pokok e uakeeeh broww pokok e Bahagialah lossss … manajemen lilla hi ta’ ala … lan ngopi nglinting ora lan ojo nganti lali … salam 5 jari … PANCASILA.

Seluruh Perjalanan Sejarah Peristiwa Kisah dan Kejadian di acara Jagong Purnama Ngobrol Budaya di tulis secara lengkap oleh Andy Yoes Nugroho di bawah ini.

DEMOKRATISASI DI JALAN KEBUDAYAAN

Temanggung Magelang, Jagong Purnama, Ngobrol Budaya. Apapun pembangunan harus adil. Jika ada yang tertinggal, ia harus mendapatkan perhatian agar bisa setara dengan yang lebih maju. Dalam hal kesenian, di Temanggung ada juga ketimpangan itu. Harus menjadi perhatian bukan semata karena keseniannya, melainkan karena ada faktor-faktor kompleks di balik kesenian itu. Bagaimana nanti seni bisa menjadi medium kultural untuk memajukan masyarakat yang tertinggal?.

Yang saya sebut tertinggal ini adalah perbandingan antara kesenian di wilayah timur Kali Progo (brangwetan). Di lokasi ini ada Kecamatan Pringsurat, Kranggan, Kaloran, Kandangan, serta Jumo dan Gemawang.

Perbandingannya dengan wilayah barat (brangkulon) yang lebih maju dibuktikan oleh banyaknya kegiatan kesenian, penggerak budaya dan termasuk dinamis dalam hal regenerasi pelaku seni. Salah satu indikasinya ialah banyaknya seniman-seniman muda yang serius mengembangkan bakat dengan menempuh pendidikan seni di ISI maupun SMKI.

Banyak kegiatan seni di kawasan Brangkulon yang kemudian sekarang kita lihat memiliki dampak bagus di masyarakat karena sudah mampu menjalankan praktik kesenian secara terorganisir. Inilah yang membedakan dengan keadaan kesenian di Brangwetan.

Ari Wani Ireng (dari Traju), seorang seniman Topeng Ireng mengambil inisiatif dengan mengajak beberapa seniman lain seperti Kang Walmin Sutejo dan Mas Ngasiran Ryan Nalla dari Desa Getasan (Kaloran) yang tahun lalu menggelar “Nyadran Perdamaian” serta teman-teman eks-panitia Festival Duren Ngropoh (Kranggan), seperti Bero Suroso dan Uswatun Nurul Ashofah, serta Mas Yudi Setiawan konseptor artistik salah satu penggagas Pasar Papringan, untuk menggagas forum diskusi selapanan. Forum diberi nama “Jagong Purnama, Ngobrol Budaya”. Tujuannya untuk memunculkan gerakan kesenian yang lebih dinamis.

Pertama kali forum digelar di Embung Abimanyu Desa Ngropoh, Rabu malam 5 Agustus 2020. Tiga puluh peserta dari 10 desa dari Kranggan dan Kaloran hadir di acara itu. Acara berjalan lancar berkat dukungan dari Pak Haryono, Kepala Desa Ngropoh dan tokoh masyarakat setempat dan berlangsung gayeng karena penampilan Dalang Blang-Bleng, Ki Ompong Soedharsono Dalang Idola Semesta Raya menegakkan Seni Bidang Karya Peradaban dan Kebudayaan berbasis Sumber Bidang Garap Alam Semesta Raya, Bahagia Gasspoll Tanpa Pedot.

Ada juga kedatangan rombongan dari Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Temanggung yang terdiri dari Kepala Dinas Edy Cahyadi, Kabag Kebudayaan Totok Purwanto, serta dua orang pamong budaya yaitu Mas Hanung Widanur dan Mas Waluyo. Kami merasa surprise karena diskusi tersebut memang tidak mengundang pejabat dari dinas tapi ternyata mereka tergerak menghadiri.

“Karena sudah lama tidak pergi malam-malam bersama-sama seniman. Acara ini sangat bagus dan harus dilanjutkan untuk saling belajar memajukan kebudayan,” kata Pak Edy mengapresiasi.

Peristiwa ini bagi saya bukan semata kegiatan budaya, melainkan juga bagian dari demokratisasi, atau cara masyarakat mengisi demokrasi secara produktif.  Kalau kita belajar dari pengalaman di wilayah brangkulon yang banyak terdapat tokoh penggerak kebudayaan yang secara aktif terlibat dalam pengambilan keputusan-keputusan di Desa dalam membuat kebijakan untuk perbaikan-perbaikan sosial. Lama kelamaan mereka yang tadinya hanya aktif di ranah kesenian akhirnya tampil menjadi penggerak di masyarakat sebagai agen perubahan sosial di Desa berbasis gerakan kewargaan.

“Brangwetan sedang berproses ke arah kemajuan itu. Inisiatif merintis inilah yang mesti dipahami sebagai kerja kebudayaan”.

Saya kutip dari AE Priyono, bahwa demokrasi bukan hanya soal identifikasi anggota Negara-bangsa, melainkan lebih pada soal kapasitas institusi publik dalam melayani dan memenuhi kebutuhan sehari-hari masyarakat sehingga mereka dapat menjalani kehidupan sosial yang adil. Masyarakat punya hak mendapat keadilan tersebut melalui gerakan kewargaan yang partisipatoris pada sektor-sektor yang bisa membawa perubahan di Desa. (Red/Andy YN).

Kompilasi dan Sinergitas Tulisan (Ki Gondo Tejo Kusumo).


  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
Budaya Edukasi Fokus Sosial Terkini