• November 29, 2020
 “MENU MANU” Pembelajaran Membuat Mandala Batu Penjuru Menyongsong Hari Mata Air Dunia 29/07/2020.

Menggenapi Persiapan Menuju Hari Mata Air Dunia 29072020.

Purwosari, Skalainfo.net| Kedatangan Ki Erwin dari Ngawi memberi warna warni, episentrum baru dan rasa baru dalam sesi Ekspedisi ARJUNO dan Ekspedisi “Program Pertama Air Permata Air” dengan memperagakan bentukan formasi mandala batu-batu yang ada di sekitar sumber dan sendang mata air Belik Gantung Lakemar, Martapuro, Purwosari, Pasuruan terhadap perjalanan pergerakan sinar matahari, sore hari itu dari jam 14.30 hingga jam 17.00. Jum’at, 24/7/2020.

Ki Erwin juga melakukan sinkronisasi dengan Sejarah Misteri Daya Hidup dan Kehendak Tuhan Sang Pencipta di area dan Bioregion. Kawasan Wilayah Area Sedang Sumber Mata Air Belik Gantung, Lakemar Martopura Purwosari, Pasuruan, Jawa Timur.

Dampak dan Rasa Manfaat dari Tata dan Tatanan Letak Kedudukan Formasi Mandala Batu Penjuru tersebut langsung di doakan dan buktikan oleh Guntur Bisowarno S.Si., Apt Ketua ASJI (Apoteker Saintifikasi Jamu Indonesia,) yang sangat membutuhkan kepastian ketersediaan sumber mata air, sumber mata air untuk kelestarian alam dan sumber ketersediaan keanekaragaman hayati dan sumber bahan baku Jamu-Jamuan Perjamuan Agung Indonesia Lahir Baru Jagad Renovasi 2020, serta pertumbuhan kemampuan sumber daya manusia, yang bersedia belajar tentang esensi dan substansi ENERJOLOGI dalam RAGAM JENIS Jamu-Jamuan tersebut, salah satu kurikulumnya adalah belajar kepekaan rasa, rasa kita pada alam yang murni, hening dan bersih, suci.

“DHARMA adalah Puncak Hidup dan BAKTI adalah Puncak Peradaban Cahaya” [Ki Gondo Tejo Kusumo].

“Batu dan Candi berbicara pada kita dan pada mereka yang terpanggil untuk belajar rekaman memori informasi hingga kegunaan esensi substansi batu untuk membangun Peradaban Cahaya, terutama Peradaban Pendharmaan Manusia menjadi manusia yang sungguh-sungguh bermanfaat sebesar-besarnya untuk kebaikan-kebaikan yang nyata, nyata-nyata berguna untuk sesama yang tumbuh dan sesama yang hidup”. Pembicaraan Ki Tondo Budi dari Singosari yang berhasil direkam esensi substansinya oleh Guntur Bisowarno, Ketua ASJI.

“Bagaimana kita memberi Respon ENERJOLOGI : energi bejo ~ logi, energi petunjuk hidayah ~ logi, energi hikmah ~ logi; dari apa yang ada di dalam hingga di balik batu dan formasi mandala batu, bebatuan tersebut, jika kena angin, air, sinar cahaya hingga hujan angin guruh gemuruh gledek guntur kilat halilintar”.

Itulah PR yang di berikan Ki Pandan Sari Pemandu Sumberejo Kaki Lereng Gunung Arjuno dan Ki Erwin Ngawi kepada Kita dan sudah di wayangkan “Wayang Ketemu Wayang” Wayang Serawung Wayang, oleh Ki Ompong Soedharsono, menunggu Lakon “WAYANG Ketemu WATU BATU PENJURU PERADABAN CAHAYA” di sumber sumber mata air mata air lereng Gunung Arjuno Jawa Timur.

“Secara kontinyu dan berskala ukuran atas perjalanan ruang, waktu dan massa, Suku Jawa Kuno, Bali Kuno, Lombok Kuno dan Sunda Kuno dan lain-lain, yang menganut adanya penanggalan dan hitungan nama-nama tahun, bulan, hari dan jam, pasti bakal sewajarnya ilmu pengetahuan pengetahuan ilmu dan kameruh nya tersebut, membuat kita paham bahwa yang paling pasti dalam perjalanan bentukan dan membentuk batu sampai arsitektur tata mandala formasi batu demi batu adalah menerima dan merekam hingga mengaktivasi memori informasi matrikulasi holografis dalam medan keberadaan batu beserta formasi bentukan mandala batunya. Adalah hubungan batu dan formasi mandala batu demi batu dengan keberadaan pergerakan sinar matahari serta cahaya rembulan hingga sinar bintang terutama datangnya beragam sudut sinar matahari, sinar bintang dan cahaya rembulan menerpa batu batuan dalam bentuk formasi mandala batu batuan,” tandas Ki Pandan Sari dan Ki Erwin dari Ngawi.

“Bahasa adalah Puncak Sastra dan Aksara adalah Puncak Budaya” [Ida Bagus Oka Granoka Gong : Maha Bajra Sandhi].

Ki Warno, Pemandu Budaya Jawa Kuno, Jawa Klasik dari Purwosari Pasuruan juga sudah menyampaikan dan menemukan adanya tulisan nama-nama Eyang di makam Desa Pager Kelurahan Sumberejo Kecamatan Purwosari, terkait Eyang Dewi Ukoro Wati, yaitu Kita belajar penguatan makna nilai ungkap bahasa dan bahasan di dalam kata dan ukara, “ukoro”, terutama KATA UKORO BATU dan UKORO Mandala Batu serta AKSARA Mandala Batu.

“Seiring dengan perbaikan fasilitas sarana prasarana, dan kebutuhan untuk mengenal esensi substansi, apa maksud tujuan Tuhan menciptakan beragam jenis batu, apa bagaimana dan kenapa menjadi pertanyaan dan pernyataan yang sungguh-sungguh sangat menantang untuk dikaji dan tersajikan bagi pertumbuhan pengembangan fungsi sesungguhnya dari batu. Para batu, batu penjuru hingga formasi mandala batu bebatuan hingga desain formasi batu-batu penjuru dalam rangka Peradaban Cahaya yang sudah berhasil menggunakan dan memanfaatkan, energi memori matrikulasi holografik, semoga setiap makhluk berbahagia.

Karena Bahagia Sejati sesungguhnya adalah dasar terkuwat, untuk manusia menjadi semakin bermanfaat bagi sebanyak mungkin makhluk Tuhan Sang Pencipta, adaNya, wadahNya dimanapun Kita berada, Kita Mampu Berbahagia dan Tenang Damai untuk semakin bermanfaat,” temuan Hidayah dan Hikmah Ilahi dari Pak Slamet Haryanto Pembina PPMAL2 Penghijauan Perlindungan Mata Air Lawang dan Lanjutan, semalam terjadi perbincangan dan perenungan sangat mendalam tersebut, 22-23/07/2020. Itulah kebangkitan Peradaban CahayaNya yang kita tunggu-tunggu dan kita doakan setiap harinya. (Red/Moch Cholil).

Narasumber : Ki Gondo Tejo Kusumo.