Tangsel, Skalainfo.net| ‘NGONSEB’ (Ngobrol Santai Seni Budaya) kali ini mengupas tentang keseharian serta peradaban sejak berdirinya Kota Tangerang Selatan yang didominasi oleh kaum pendatang. Obrolan pun semakin hangat setelah dua orang narasumber menyampaikan visi misi dari sebuah ikon yang terdapat pada logo Tangsel. Minggu, 09/08/2026.

Ngobrol santai yang viral dengan Historia Tangsel, Part-14 tahun 2026, ini sudah menjadi agenda rutin. Pada sore menjelang senja itu mengambil tema: ‘Merangkul Perbedaan, Merajut Kebersamaan dalam Kearifan Lokal’, sejatinya mengingatkan kita tentang kebersamaan itu mampu mewujudkan mimpi dan bisa membentuk negeri walaupun beragam etnis seperti di Kota Tangerang Selatan ini.

Sebagai moderator yaitu: Indah Arlie, Narasumber:

  1. Anggota DPRD Tangsel Komisi 4 Fraksi Golkar HM. Salman Faris, SE.,
  2. Anggota Tim 9 Perumusan Lambang Daerah Kota Tangsel Fahrudin Juhri,
  3. Kabid Pemuda Olahraga Dispora Kota Tangsel Ilham Suyatno,
  4. Ketua Yayasan Historia Tangsel Agam Pamungkas Lubah,
  5. Tokoh Masyarakat saudara Inue,
  6. ketua GCP Kota Tangsel Daeng Rahmat,
  7. pemerhati Masyarakat saudara Orcar dan tamu undangan lainnya.

Dalam diskusi yang semakin hangat di sore hari itu, tepatnya di teras Tambi Historia dalam kawasan kampung keramat Pulo, Kelurahan Pamulang Timur, Kecamatan Pamulang.

foto exclusive skalainfo tangsel

Mengupas tentang budaya, HM. Salman Faris menyampaikan pandangan positifnya yang saat ini selalu terjaga di Kota Tangsel ini. Dalam logo Tangsel itu ada symbol Belandongan, dan itu Adalah suatu budaya dan kearifan local yang terus kita tonjolkan untuk mempersatukan berbagai kehidupan dalam kebersamaan didaerah Tangsel ini, katanya.

Lanjut Salman Faris, bahwa penduduk Kota Tangsel saat ini sudah 1,5 juta jiwa, dibandingkan dengan awal berdirinya Tangsel itu hanya sekitar 800-an jiwa dan warga Betawinya itu sekitar 30% saat itu. Sekarang ini penduduk Tangsel sudah bertambah dan tentunya ada perubahan budaya oleh karena itu kita harus menjaga dan melestarikan budaya. Secara pribadi saya sangat mendukung acara Ngonseb pada Historia Tangsel ini, wadah ini lah yang akan mengembangkan dan mempersatukan budaya-budaya di tanah air kita ini, dari berbagai etnis yang berada di Kota Tangsel, tuturnya.

Dipenghujung dialognya Salman menegaskan, dalam motto Tangsel yang tertulis Cerdas, Modern, Relegius itu sesungguhnya, Allah SWT itu mengetahui praduga dan perilaku hambanya, Allah SWT itu mengikuti dan memberikan apa yang diinginkan dan lakukan hambanya. Kemudian kata bijak yang ada dalam hadis atau dalam kitab, kalau tahun ini sama dengan tahun kemarin kita harus evaluasi diri, kalau tahun akan datang elok dari pada tahun sekarang kita akan tertipu. Nah,..disini lah kita lebih mawas diri dan kembali sesuai motto Tangsel cerdas modern relegius, tutupnya.

Ditempat yang sama Fahrudin Juhri dalam maklumatnya, bilamana kita berada Kota Tangsel betul-betul kita sadari, bahwa masing-masing kita ini memiliki skil atau potensi, Kemahiran, pengalaman, kita mamfaat semaksimal mungkin untuk mengambil bagian membantu pemerintah Kota Tangsel ini dalam memajukan masyarakatnya dan warganya, semakin cerdas dan semakin modern dan semakin relegius, katanya.

Ini Adalah protab kami dalam menyampaikan pandangan, bersyukur, bersholawat kemudian menukik kepada bagian daripada isi. Apa sih yang disebut cerdas itu, saling menghargai, saling menghormati. Lalu modern itu secara international maupun nasional pepatah mengatakan Dimana bumi dipijak disitu langit dijunjung. Lalu relegius itu seperti apa, sejatinya janganlah kamu mempersoalkan Aqidah orang lain lebih baik memperbaiki dulu aqidahmu itu sendiri, jelasnya.

Berbicara logo Tangsel lanjut Fahrudin, bahwa memang terjadi pertikaian secara akademis yang sangat luar biasa Ketika itu dalam mencari warna untuk ikon local daripada logo Tangsel ini. Mengapa harus warna biru muda dan lain sebagainya, semua itu mengandung arti bukan mengambil warna sembarangan.

Yang ingin saya pertegas dalam diskusin ini lanjut Fahrudin, ada dua (2) ikon utama dalam logo itu Adalah: pertama Belandongan dan kedua Adalah perisai cerdas modern relegius. Mengapa Belandongan yang dijadikan sebagai logo Tangsel? Ternyata Belandongan atau bangunan yang serupa itu ada diseluruh pelosok Nusantara, contoh di Betawi bangunan itu disebut sebagai bale, dan di Sumatera disebut lapau, kalau di Jawa disebut Joglo.

Makna hakikinya apa, Belandongan itu Adalah sebagai wadah, tempat yang besar dalam wilayah itu untuk mufakat, atau disebut musyawarah keluarga besar secara legaliter atau kesetaraan. Kemudian makna dari (CMR) Cerdas Modern Relegius bahwa, cerdas itu tidak terikat dari Pendidikan formal, siapapun bisa cerdas asalkan dia mau belajar. Oleh karena itu mari kita menjadi Masyarakat yang cerdas, pandai menghormati sesama manusia punya adab dan tahu diri, jelasnya.

Penutup maklumatnya, acara Ngonseb Historia Tangsel Part-14 itu Fahrudin menyampaikan keberadaan dirinya di FKDM (Forum Kewaspadaan Dini Masyarakat). Secara pribadi mengawali dari nol lagi karena konflik itu luar biasa, tugas pokok dan fungsi kami Adalah mencegah setiap potensi yang akan mengganggu tertib kenyamanan aman dan damai.

Dan jangan ada tantangan gangguan terhadap proses layanan pemerintah terhadap Masyarakat dan Pembangunan pemerintah untuk kemaslahatan Masyarakat Kota Tangsel. Maka saya sepakat dengan pak Dewan Salman tambahnya, bahwa Historia ini maju terus, jangan merasa kecil, karena kecil itu Adalah indah, teruslah berjuang untuk menyuarakan Kota Tangsel, tutupnya.

Sesi akhir menutup acara Historia Tangsel menjelang senja itu Agam Pamungkas selaku budayawan dan sejarawan Kota Tangsel mengatakan, Ketika pembuatan logo ikon Tangsel tersebut melibatkan banyak lintas seniman dan akdemisi namun secara demokrasi disetujui memakai rumah kebaya atau belandongan dalam logo ikon Tangsel itu. Menyemangati Historia Tangsel Agam Pamungkas Lubah menitipkan pesan terbuka bahwasanya para pelaku Sejarah itu salahsatu profesi, dengan para pelaku Sejarah itu kita dapat mengerti apa yang terjadi pada masa lampau.

Sekaligus aspirasi ini menjadi perhatian juga oleh anggota legislative Salman Faris, semoga dapat disuarakan dikantor DPRD Tangsel. Kami minta tolong jangan di generalisasikan antara pelaku sejarah, pelaku seni dan pelaku budaya karena ini sangat berbeda profesi. Meskipun juga didalam diri budaya ada unsur sejarahnya dan di pelaku seni ada unsur budaya nya, tetapi mereka itu tidak didalam satu sebenarnya.

Pelaku Sejarah itu bergerak dengan Nurani, kita bergerak itu dengan hati, kita bergerak itu dengan program dengan sebutan Fastabi’ul-khairath. Hanya Allah SWT mencintai orang-orang yang selalu istiqomah dijalanNya. Historia Tangsel ini menjadi bagian dan pilihan, konsekwensi talenta yang Allah SWT titipkan, tidak boleh kita anggurkan hanya karena persoalan tidak ada dana. Kita sudah berjalan, pungkasnya. (Red/Alfi).

By Admin

-+=