Oleh: Mukhlis ST Ameh

Bengkulu, Skalainfo.net| Menelaah kembali kepada Nagar kita atau Feedback Nagari Sulit Air yang kita tercinta dalam menghadapi kenyataan dimasa akan datang. Perbaikan dan perubahan adalah sebuah proses belum tahu sesuatu itu akan terjadi kerena itu semua Adalah hidayah dari Allah SWT. Jum’at, 03/04/2026.

Allah SWT akan menunjukkan kekuatan dan ketentuannya ketika Ummat atau pemimpin sudah salah langkah dalam mengelola alamnya, sehingga tidak pernah luput dalam pengamatan kita. Ketika bencana melanda, lonsor dan galodo yang memakan banyak korban manusia, harta benda dan merusak berbagai sarana-prasarana yang ada. Seperti yang selalu kita saksikan baik secara lansung ataupun tidak langsung melalui media akhir-akhir ini.

Dahulu banyak orang yang meng-eluh-eluhkan, bahwa Nagari kita adalah Nagari yang kaya dengan luas diperkirakan 80 Kilo meter, dengan sumber daya alam yang memiliki banyak potensi. Namun sebahagian warga Sulit Air banyak juga yang merantau sehingga tidak tahu bahwa banyak hasil penelitian para ahli geologi dari Sumatra barat menyampaikan bahwa Nagari kita Sulit Air berpotensi dan memiliki Sumber Daya Alam yang kaya.

Kita berharap kedepan mudah-mudahan sesuai dengan ekspektasi kita terkhusus setelah begitu banyak mengatakan dan juga berbagai sumber yang menyampaikannya Nagari Sulit Air kaya dengan sumber alamnya.

Tapi itu semua tergantung dari tugas para pemangku kepentingan di suatu daerah termasuk di Sulit Air Kabupaten Solok, Sumatra Barat. Sering kita mendengar ada sebuah penyesalan kini termasuk di Sulit Air. Karena kepemimpinan dan orang-orang penting di Nagari ini kurang memiliki kepedulian, termasuk di Nagari kita. Karena orang-orang yang ada di pemerintahan sampai yang ditunjuk sebagai pejabat kepala daerah bukan yang sesuai atau yang diharapkan oleh warga Masyarakat.

Justru ini dilema yang terjadi dan bukan hanya di Nagari kita Suliit Air, tetapi hampir semua daerah termasuk ditempat lain yang tergiur dengan money politic (politik Uang). Dalam setiap Pemilihan Umum atau pemilihan anggota legislatif dan pemilihan kepala daerah sampai ke pemilihan Presiden dan DPR-DPD RI. Karena yang menjadi ukuran adalah orang yang berduit atau memiliki kapasitas keuangan lebih banyak.

Jadi, kapan kita mendapatkan orang yang peduli?, bukan orang yang bepitih dan hanya berfikir subjektif untuk kepentingannya sendiri atau golongannya, bukan untuk kepentingan daerah/nagari, maka kita harus berusaha juga ada yang duduk di Legislatif sehingga dapat memikirkan daerah Nagari kita.

Bila dilihat pemilihan saat ini Adalah nol, karena tidak memikirkan untuk kebutuhan daerah hanya untuk kepentingan dan golongannya saja. Termasuk di daerah kita ini, sehingga kebijakan yang di buat itu tidak sesuai yang diinginkan warga masyarakat karena sudah salah pilih, sehingga terkadang merembet sampai ke Wali Nagari dan segala perangkat Nagari termasuk KAN orang yang tidak sesuai dengan ekspektasi warga, akhirnya daerah pun bertambah berantakan baik manusianya maupun pisiknya sarana dan prasarana. Sehingga seperti perbaikan jalan pun tidak dianggarkan lagi dan lain sebagainya.

Karena itu tidak sanggup dengan satu orang konglomerat saja, karena itu kewajiban pemerintah daerah, yang merupakan kewajiban untuk kesejahteraan rakyatnya.

Kita sangat menghargai kalau ada yang mau memanfaatkan lahan termasuk tanah-tanah produktif yang ada, tapi itu semua harus diteliti terlebih dulu, agar tidak semena-mena perlakuan terhadap alam agar juga terjadi keseimbangan ekosistem sehingga tidak memutus mata ranatai dalam ekosistem tersebut.

Bukan hasil kata-kita tapi hasil survey yang jujur dan bisa di pertanggung jawabkan di kemudian hari, bukan kehendak otak kita saja melainkan hasil riset atau perangkat universitas, pemerintah, KAN (kalau di Nagari kito), tidak semua tanaman yang menurut kita baik sesuai dengan apa yang dikehendaki tanah secara geografis.

Perlu diskusi panjang bukan asal-asalan menanam saja, dampak dikemudian hari. Itu yang mesti di pikirkan ditinjau dari berbagai aspek baik ekonomi, sosiologi, psikologi, geografi, geologi dan aspek lainnya. Terutama warga masyarakat setempat, bukan kita serahkan semata-mata untuk berinvestasi.

Nagari kita kaya dengan pertanian atau sumber daya alam tapi manfaatnya secara lansung tidak jelas. Lebih baik di pugar sesuai kearifan lokal, kemudian para warga banyak orang perantau, pedagang, yang bertani sangat terbatas pada orang-orang dikampung, itupun terbatas padi sawah, cabe dan lainnya.

Dan tanaman hortikultura seperti tanaman tahunan apalagi durian yang harganya tidak sesuai dengan pasar di Nagari sendiri, emang durian mahal itu untuk siapa, bagian mau di olah kayak jadi lempuk, jadi dodol atau produk hilirisasi lainnya itu yang mestinya di fikirkan. Zaman kini tidak banyak yang mau bertani apa lagi generasi muda, kaum melenial agak susah mau diajak bertani tradisional kecuali orang tertentu saja. Lebih baik terima wesel dari anak dirantau hidup senang di daerah Nagari yang asri.

Dan sebenarnya kenapa seharusnya kita setuju dan sepakat kalau ada putra daerah mau membangun mesjid, mungkin untuk meningkatkan keimanan Warga agar dekat ke masjid. Dibangun daerah wisata dan bisa terkontrol untuk pemasukan daerah atau Nagari dengan perputaran uang di Nagari bergerak  perekonomian, keramaian-keramaian yang sifatnya kondusif promosi budaya, tempat rekreasi untuk tujuan wisata seperti gunung Merah Putih, janjang seribu, air terjun Timbulun, batu galeh daerah Taram, dan daerah wisata lainnya.

Kegiatan pengajian dalam rangka peningkatan pemahaman adat istiadat dan Agama islam, mendirikan dan perbaiki lembaga pendidikan untuk generasi masa depan seperti ada PSA dan Gontor itu semua dalam rangka meningkatkan sarana pendidkan dan kalau dapat tingkatkan pemberian beasiswa untuk pendidikan anak Nagari sampai di perguruan tinggi.

Terutama yang otak cerdas tapi tidak ada biaya, sehingga Sulit Air secara dinamis berubah   terutama dalam pendidikan. Secara politis kita mendukung dan mensuport putra-putri daerah yang telah layak secara kredibilitas menjadi pejabat baik anggota DPR maupun Kepala daerah dan sebagainya.

Warga Sulit Air orangnya cerdas tapi mereka lebih memilih sekolah diluar karena keterbatasan lembaga pendidikan dikampung, setelah berhasil balik ke kampung mengabdi ke Kampung halaman sesuai dengan potensi yang dia miliki. Demikian lah mungkin ini sekelumit yang mungkin bisa jadi bahan pertimbangan untuk menyonsong Sulit Air masa akan datang. Mohon maaf atas kekurangn. Koreksi dan kritik yang konstruktif tentu terbuka lebar dalam rangka memajukan daerah terkhusus Nagari Sulit Air menyonsong cita-cita Sulit Air Nan Jaya. (Red).

Wassalam…

Bengkulu, 03042026

Penulis: Mukhlis ST Ameh.

By Admin

-+=