Oleh I Wayan Westa

Bali, Skalainfo.net| Hukum Keteraturan, Keselarasan Semesta, Keteraturan adalah  hukum paling asali di semesta ini. Pernahkah kita mempertanyakan, siapa pengendali benda-benda langit di semesta ini? Siapa pengatur tertib asali itu, supaya gugusan planet, bulan, matahari, dan jutaan bintang  tidak bertubrukan, senantiasa tertib di poros masing-masing? Ini sesuatu yang niskala, pertanyaan yang tak terjangkau pikiran.

Nyepi adalah Tindakan Penjernihan

Sampai di titik ini,  Nyepi adalah tindakan  penjernihan  dari adab batin manusia Bali itu sendiri. Mengingat selain Nyepi yang diawali upacara palelastian dan tawur kesanga serta dirangkai dengan pergantian tahun baru Saka, di Bali sendiri, dalam tradisi lokal masih ada berjenis-jenis ”perayaan” Nyepi.

Misalnya Nyepi Segara, Nyepi Carik, Nyepi Abian, dan lain-lain. Sekali lagi ini adalah bentuk-bentuk tindakan penjernihan dan pengheningan – memberi ruang  pada alam  dengan segala isinya yang telah menyangga hidup ini keheningan —   dan berharap  ”sarwa prani” sumber prana yang tak terlihat mata itu menyempurna dengan baik.

Meditasi Menuju Pusat Pusat Air

Ada beberapa tahapan retret yang harus dilewati manusia Bali sebelum sampai ke puncak hening, nyepi, sipeng. Pertama adalah melasti.  Lasti artinya tepi air, juga berarti pembersihan, penyucian. Ini adalah perjalanan meditatif menuju pusat-pusat air. Semua simbol-simbol kedewataan[pratima]  disucikan menuju tepi air,  laut, danau, campuhan, patirtan,  dan kelebutan. Air adalah simbol penjernihan sekaligus amreta pemberi hidup. Orang Yunani menyebutnya sebagai abrosia, yang artinya tak pernah mati.

Arah Tujuan Doa dan Divosi

Karena itu devosi paling tinggi saat palelastian adalah, berharap segala kekotoran diri dan dunia disucikan, alam  dengan segala isinya mendapat sari hidup kembali – angamet sarining amrta. Di samping itu malasti juga merupakan tindakan kontrol lingkungan ke sumber-sumber air, supaya setiap orang senantiasa terpanggil merawat air dan lingkungan — dan menjadilah ia doa dalam tindakan.

Posisi Bumi dan Diri: Tawur berarti Kembali Nol

Selanjutnya, usai palelastian, tepat pada tilem caitra, saat matahari tepat di atas kepala, bayangan kita tak terlihat,  manakala  matahari  ”melintas” di garis tengah khatulistiwa,  ”perjalanan”  menuju utarayana,  upacara tawur bhumi suddha dilakukan. “Tawur berarti kembali”, doa-nya berharap unsur-unsur yang membangun dunia ini, panca maha bhuta disempurnakan, langgeng senantiasa menghidupi semesta makhluk hidup.

Sang Maha Energi

Kenapa Tawur digelar saat bajeg surya atau saat matahari tepat di atas kepala kita? Pertama,  ketika bulan mati  [tilem], saat bajeg surya adalah waktu tepat memuja matahari sebagai Siwa Raditya — Siwa yang berbadankan Surya. Karena matahari adalah raja semesta, ia sumber maha energi, seluruh kehidupan ini tergantung pada sang maha energi itu.

Bukankah tanpa sadar kita sesungguhnya  ”pemakan” matahari. Sayur, buah, daging, nasi yang kita santap itu, hidup dan bertumbuh karena matahari. Dari situlah kita ”memakan”  matahari. Dari situ pula kita hidup karena matahari. Ini pula alasan  kenapa saban pagi para pendeta Bali melakukan surya sewana, intinya mendoakan supaya matahari tetap memberi hidup bagi semua, menjadi cahaya bagi semua.

Titik Titik Sentrum-Titik Tengah-Titik Nol

Lalu tawur digelar di titik-titik sentrum pertemuan langit dan bumi. Di Pura  Agung Besakih, upacara digelar di sebuah areal tengah bernama ”bencingah agung” di kaki Gunung Agung, tepat di muka lingga acala [lingga abadi] Gunung Agung. Orang-orang Bali terpelajar memaknai tempat ini sebagai ”madyaning bhuwana”, tengahnya dunia – di mana langit dan bumi disatukan dalam upacara tawur yang amat tantrik.

Di pusat-pusat kota, tawur digelar di pusat perputaran energi mistis ”pempatan agung” atau ”catus pata.” Sementara di rumah-rumah penduduk,  caru digelar di  natah  [halaman  tengah] di titik pertemuan ibu-bapa langit, atau di lebuh gerbang masuk pekarangan. Dan menjelang sandya-kala dilakukanlah upacara pangrupukan atau maobor-obor – berharap buta-buti, energi ”penggangu” dijauhkan dari hidup.

Nyepi Dalam Nyepi Luar

Maka esok hari, setelah menjalani retret berlapis itu   perjalanan menuju titik NOL dimulai. Inilah drama kolosal dari  ramya menuju sunya. Dari hal-hal gaduh menuju hening. Nyepi di  luar dan Nyepi di dalam dilakukan.

Nyepi di luar dilaksanakan dengan menjalankan brata penyepian secara fisik, yakni menjalankan catur brata panyepian, meliputi; amati gni [tidak menyalakan api] amati karya [tidak bekerja], amati lelungan [tidak bepergian], dan amati lelanguan [tidak bersenang-senang].

Perjalanan dari NOL Ke NOL, Sunyi Nyepi: Kesadaran Surya

Sementara Nyepi di dalam dilakukan dengan brata puasa, penjernihan pikiran, penenangan jiwa, mawas diri, pengendalian nafsu, serta laku meditatif [tapa brata, samadhi] guna merengkuh kesadaran Sunya.

Menurut teks-teks Jawa Kuna, kesadaran Sunya adalah kesadaran Paramasiwa – kesadaran yang layaknya kaadaan dorman atau ”tidak aktif” – seperti status rekening bank yang fasif atau tidak aktif karena tidak adanya transaksi debit maupun kredit.

Bagi kehidupan dunia kondisi ini tentu tidak menguntungkan. Namun bagi jiwa yang memerlukan nutrisi jiwa [amrtajiwa], kondisi  kesadaran seperti ini sungguh dibutuhkan. Inilah yang disebut heneng atau hening. Ini pula yang disebut Sepi —  perjalanan dari NOL menuju NOL.

Keheningan Obat Paling Mujarab

Sampai di sini Nyepi lalu menjadi titik jeda, kebutuhan kita bersama; seluruh kekerasan pada bumi berserta isinya dihentikan. Nyepi memberi ruang bagi bumi  serta seluruh isinya ”beristirahat”, bebas sebebas-bebasnya-nya. Perang, perseteruan, dihentikan demi penghormatan dan memuliakan pada planet bumi. Karena setiap entitas hidup memiliki hak untuk bahagia, bebas dari kekerasan, perusakan, dan penderitaan.  Inilah kenapa kemudian Bali secara fisik menjalanan catur brata penyepian, berharap semua entitas semesta mendapat keheningan. Keheningan adalah obat paling mujarab bagi dunia yang sedang berseteru.

Catatan:

Tulisan ini adalah rangkuman ceramah Lingkar Studi Seri #009, Jumat 13 Maret 2026. Disponsori Danatara Indonesia, CDS [Center for Dharmic Studies] Binroh Hindu Telkom Group, Telkom Indonesia, dan Majalah Çraddha. (Red).

Editor: Guntur Bisowarno

TAMAT.

-+=