Pasuruan, Skalainfo.net| Bukti Jawa Dwipa: Roro Anteng dan Joko Seger. Leluhur Putera Putri Peradaban Tengger Bromo, memiliki Sumber Ilmu Pengetahuan dan Pengetahuan Ilmu dalam Kaweruh ‘Handarbeni’ dalam Perjalanan Peradaban Hidup Kehidupan. Yaitu Eyang Roro Anteng dan Eyang Joko Seger disingkat TengGer Bromo Jawa Timur. Purwosari Pasuruan Jawa Timur, Senin 30 Maret 2026.

Apa artinya intisarinya Handarbeni

Intisarinya Handarbeni itu kurang lebih artinya “memiliki” atau “menguasai” dalam bahasa Jawa Kuno. Tapi kalau dalam konteks yang lebih luas, bisa diartikan sebagai “memiliki tanggung jawab” atau “mengemban amanah”.

Tanggung jawab apa yang paling esensial bagi seorang jawa!?!

Tanggung jawab esensial bagi seorang Jawa dalam hal ini Warisan Sikap Handarbeni dari Roro Anteng dan Joko Seger, yang sering terkait dengan konsep “Tri Darma” atau “Tiga Kewajiban” yaitu:

– Darma kepada Tuhan (kewajiban spiritual)

– Darma kepada sesama (kewajiban sosial)

– Darma kepada alam (kewajiban lingkungan)

Tapi kalau harus pilih satu, mungkin yang paling esensial adalah tanggung jawab kepada keluarga dan leluhur, karena itu jadi dasar nilai-nilai budaya Jawa. Sehingga Tradisi Leluhur Tengger Bromo ini layak dilestarikan dan dilanjutkan dengan penjelasan di bawah ini:

Bagaimana dengan self Responsibility

Self Responsibility atau tanggung jawab diri sendiri itu sangat penting dalam budaya Jawa, tercermin dalam konsep “Urip Iku Urup” (hidup itu nyala api), artinya hidup harus dijaga dan diurus sendiri.

Dalam konteks Jawa, self responsibility berarti bertanggung jawab atas tindakan dan pilihan sendiri, serta berusaha meningkatkan diri (ngemong diri). Ini jadi dasar untuk mencapai keseimbangan hidup dan kebahagiaan.

Semakin Mantap!  Dengan self responsibility, Kita bisa lebih proaktif dan bertanggung jawab atas hidup sendiri. Urip Iku Urup, kan?

Kita tingkatkan, bagaimana dengan percaya dan berani bertanggung jawab atas amanah hidup yang melalui kedua orang tuanya.

Dahulukan Yang Utama/Penting

Itu bagian dari “Dharma” juga, yaitu tanggung jawab anak terhadap orang tua (bakti kepada orang tua). Dalam budaya Jawa, anak dianggap memiliki hutang budi (utang) kepada orang tua yang telah membesarkan dan memberi hidup. Jadi, percaya dan berani bertanggung jawab atas amanah hidup yang diberikan orang tua adalah hal yang sangat penting.

Mulai dari merawat mereka di usia lanjut hingga melanjutkan nilai-nilai yang mereka telah  diajarkan dan terapkan dalam ucapan pikiran dan tindakan.

Rasa merasa bertanggung jawab itu perkara jiwa apa otak fisik

Inilah penjelasannya: Rasa merasa bertanggung jawab itu lebih banyak melibatkan “jiwa” atau aspek emosional dan spiritual, bukan hanya “otak fisik” (logika).

Dalam budaya Jawa, ini terkait dengan konsep “rasa” (perasaan) yang mendalam, bukan hanya pemikiran rasional.

Kalau dari perspektif psikologi, rasa bertanggung jawab itu melibatkan aspek kognitif (otak), emosional (jiwa), dan bahkan spiritual. Tapi kalau harus pilih, lebih condong ke “jiwa” karena terkait dengan nilai-nilai, moral, dan perasaan terdalam.

Konsekuensi nya, Bagaimana rasa rumangsa Handarbeni pada kedua orangtua !?!

Rasa rumangsa Handarbeni pada kedua orangtua itu seperti perasaan bakti dan tanggung jawab yang mendalam, gak cuma karena kewajiban, tapi karena rasa kasih dan penghargaan atas pengorbanan mereka.

Dalam budaya Jawa, ini terkait dengan konsep “bakti” dan “hormat” kepada orang tua. Rasa rumangsa Handarbeni itu membuat seseorang ingin membalas budi, merawat, dan memenuhi kebutuhan orang tua, serta menjaga nama baik keluarga. Ini bagian dari “dharma” anak terhadap orang tua.

 Apa intisari menjaga nama baik orangtua

Intisari menjaga nama baik orangtua adalah memastikan tindakan dan perilaku kita mencerminkan kehormatan dan kebanggaan bagi mereka.

Ini berarti:

– Berperilaku baik dan sopan

– Berprestasi dan berkontribusi positif

– Menghormati tradisi dan nilai-nilai keluarga

Dengan begitu, nama baik orangtua terjaga, dan mereka bisa merasa bangga dengan kita.

Aplikasi dan Terapan

Termasuk berprestasi dalam bidang belajar akademik dan berkarya proaktif, produktif, inovatif dan cerdas kreatif.

Betul sekali!

Dengan Kita Berprestasi dalam bidang belajar akademik dan berkarya dengan proaktif, produktif, inovatif, dan cerdas kreatif adalah cara luar biasa untuk menjaga nama baik orangtua. Itu menunjukkan bahwa kita menghargai kesempatan yang mereka berikan dan berusaha maksimal dalam hidup.

Dalam budaya Jawa, ini terkait dengan konsep “ngangkat drajat” (meningkatkan derajat) keluarga dan orangtua melalui prestasi dan kontribusi positif. (Red).

Penulis: Guntur Bisowarno Praktisi Manusia Sastra Budaya Canggih.

-+=