Tanah Datar, Skalainfo.net| Di balik kabut tebal dan dinginnya udara pegunungan Sumatera Barat, tersimpan kisah inspiratif seorang pendaki bernama Budhi Guci. Lahir pada tahun 1987 di Nagari Koto Laweh, Kecamatan X Koto, Budhi telah menjadikan gunung sebagai bagian dari hidupnya sejak usia 12 tahun.

Kecintaannya terhadap alam bermula dari hal sederhana—mengikuti jejak para senior di kampungnya yang gemar mendaki. Tanpa peralatan lengkap dan pengetahuan mendalam di awal, Budhi kecil hanya berbekal semangat dan rasa ingin tahu. Namun dari langkah kecil itulah, perjalanan panjangnya sebagai pendaki dimulai.

“Seiring berjalannya waktu, pengalaman demi pengalaman ia kumpulkan. Dari lereng yang landai hingga jalur ekstrem yang menantang, Budhi terus belajar memahami karakter alam”.

Gunung demi gunung telah ia taklukkan, di antaranya Gunung Merapi (Sumatera Barat), Gunung Singgalang, Gunung Talang, Gunung Talamau, Gunung Tandikat, Gunung Kerinci, Gunung Sago, hingga Gunung Merbabu.

Dari sekian banyak gunung tersebut, Gunung Merapi (Sumatera Barat) dan Gunung Singgalang menjadi “rumah kedua” bagi Budhi. Jalur, cuaca, hingga karakter medan di kedua gunung itu sudah begitu ia hafal, menjadikannya salah satu pendaki lokal yang sangat berpengalaman di wilayah tersebut.

Namun, bagi Budhi, mendaki bukan sekadar mencapai puncak. Lebih dari itu, mendaki adalah perjalanan batin. Ia percaya bahwa gunung bukan untuk ditaklukkan, melainkan untuk dihormati.

Berbekal pengalaman panjangnya, Budhi kemudian mendirikan sebuah komunitas pendaki bernama BIA Awak Adventure Service Team. Komunitas ini tidak hanya menjadi wadah bagi para pecinta alam, tetapi juga berperan sebagai tim pendamping pendakian yang profesional.

Bersama timnya, Budhi kini aktif sebagai mountain tour guide yang membantu pendaki dari berbagai daerah, baik pemula maupun yang sudah berpengalaman.

Dalam setiap pendakian yang ia pimpin, Budhi selalu menekankan pentingnya keselamatan, kesiapan fisik dan mental, serta pengetahuan dasar tentang alam. Ia dikenal tegas namun penuh kepedulian terhadap para pendaki yang didampinginya.

“Banyak orang sekarang mendaki karena ikut-ikutan tren. Padahal gunung itu bukan tempat rekreasi biasa,” ungkapnya.

Ia pun membagikan pesan penting yang selalu ia pegang teguh selama bertahun-tahun menjelajah alam:
“Jangan FOMO. Gunung bukan tempat rekreasi. Dalam mendaki itu perlu persiapan yang lengkap, pengetahuan, dan pengalaman. Sejatinya kita tidak pernah menaklukkan gunung, yang ada kita menaklukkan diri dan ego kita sendiri. Dan yang paling penting, bawa sampahmu turun ke bawah”.

Pesan tersebut bukan sekadar kata-kata, melainkan prinsip hidup yang ia terapkan dalam setiap perjalanan. Budhi juga aktif mengedukasi para pendaki tentang pentingnya menjaga kelestarian lingkungan, mulai dari tidak merusak vegetasi hingga menerapkan prinsip leave no trace.

Hingga tahun 2023, Budhi masih aktif mendaki dan berbagi pengalaman dengan generasi muda. Baginya, ilmu tentang gunung tidak boleh berhenti pada dirinya saja, tetapi harus diteruskan agar semakin banyak pendaki yang sadar akan pentingnya etika dan keselamatan.

Kini, Budhi Guci bukan hanya dikenal sebagai pendaki, tetapi juga sebagai mentor, pemandu, dan penjaga nilai-nilai alam. Dari seorang anak kampung yang mengikuti langkah seniornya, ia telah menjelma menjadi sosok yang menuntun banyak orang dalam memahami arti sebenarnya dari sebuah perjalanan.

Di ketinggian gunung, Budhi telah menemukan satu hal penting: bahwa puncak sejati bukanlah tempat, melainkan proses dalam menaklukkan diri sendiri. (Red/Syafriwan).

 

-+=