Pasuruan, Skalainfo.net| Adanya Sastra Jendra di Kalangan Para Pelaku Budaya Spiritual di Gunung Arjuno dalam Saresehan Roso Orep Sejati telah menemukan Kaweruh Batin Tulis Tanpa Papan Kasunyatan Jati yaitu: Arjuno : Air Jumeneng Ono, Air berdiam ada. Arjuno : Air Tujuanne Ono, Air tujuannya ada. Arjuno : Air Jumangkah Ono. Air melangkah ada.

Arjuno: Air Arah Tujuanne Ono, arah tujuannya ada; ada arah gerak gerakan pergerakan yang menggerakkan air apa adaNya, diluar nalar disebut di Puncak. Arjuno, sebagai Sepilar: Sepi Ing Nalar, yaitu banyak peristiwa hidup kehidupan yang Kita alami yaitu diluar nalar, tak ada logika penalaran dari diri yang terlibat dan berkuasa untuk memiliki, menguasai dan berkewenangan atas gerak peristiwa alam hidup kehidupan beserta segala isinya. Gunung Arjuno, Purwosari, Jumat, 13/03/2026.

Di Puncak Gunung Arjuno ada Puncak Purwo Ringgit, dimana Ringgit (3).

Ringgit Pertama: Peradaban Manusia kebanyakan berbasis Ringgit Duwet, Dollar, Rupiah, Rubel dan Yen sak penunggalanne.

Ringgit Kedua: Ringgit Purwo Klasik adalah Ringgit Wayang Purwo Klasik, Gambaran Gamblang Peristiwa Pagelaran Hidup Kehidupan Manusia adanya.

Ringgit Ketiga: Ringgit, adalah barang miring seng dianggit, arti maksud dibalik terjadinya asal usul kelahiran dan keturunan bangsa manusia, berasal dari Tes Putih Saka Bapa dan Tes Abang Saka Biyang itulah Induk Peradaban Bangsa Manusia, sehingga disebutlah Kawasan Gunung Arjuno adalah Induk Peradaban Dunia.

Bedakan Melihat dan Memperhatikan, Pandangan dan Yang dipandang. Arah yang mengarahkan. Kita berjalan bukan karena bisa berjalan, tapi sesungguhnya ada yang memperjalankan Kita. Bukan aku yang mengarahkan perjalanan kita, tapi sesungguhnya ada yang memperjalankan Kita.

Dawuh Itu; Dawuh Rasa itu, Pikiran, pola pikir dan rasa. Pikiran dan pola pikir itu penghakiman dan kompetisi, sarat emosional, Sedangkan pakai rasa, Kita sungguh sungguh bisa merasakan adaNya yang memperjalankannya.

Sebab pada ukuran sebab akibat, plus minus, pasti emosional dan keinginan energi kompetisi Hukum Alam, Hukum Rasa Orep Sejati itu.

Menjadi daya penyeimbang dan keseimbangan rasa sejati ada penghubung dan pelindung kabel plus minus, ada lapisan nol atau kosong, ada penghubung ya alam itu, ya harmoni daya alam itu, yaitu frekuensi rasa alam yang mempertemukan rasa sesungguhnya ada rasa arah yang mengarahkan diri Kita yang ada di dalam batinnya, dalam roh sucinya, dan rasa energinya daya alam natural yang menggerakkan perjalanan Kita, bahkan seringkali di luar logika kita.

Itulah di sebut keharmonisan bersama rasa alam dan rasa batin Kita, bahkan tak jarang di luar nalar logika, bukan sebatas sistem hitungan plus minus, dibidas sistem yang bersistem dalam pola berpikir pikiran hanya untung rugi, terjebak benar salah, terkotak mayoritas minoritas bisa dan tidak bisa, boleh dan tidak boleh versi asumsi dogma doktrin.

Inilah yang sudah dibocorkan oleh Alam Peradaban_Peradaban Alam Gunung Arjuno Puncak Peradaban Dunia, yang sudah mengingatkan segenap umat manusia, atas resiko dan konsekuensi bagi setiap manusia yang selaras dengan Hukum Alam atau tidak, memperhatikan kehendak alam atau tidak.

Inilah dalam proses dialog kesetaraan “Saresehan Roso Orep Sejati” Ki Tohari Pimpinan Sanggar Panuwunan Kasampurnane Budi Luhur Desa Cendono Kecamatan Purwosari Kabupaten Pasuruan Jawa Timur bersama Ketua Bamboo Spirit Nusantara Support System Purwosari Kabupaten Pasuruan Jawa Timur, Jumat, 13 Maret 2026.

Disempurnakan oleh Mohammad Moe (Praktisi Jamu Jamuan Perjamuan Agung Manusantara Jaya Indonesia Raya di Gili Air, Lombok, 13/3/2026).

Sekar Durma (Tembang Durma) adalah salah satu jenis macapat yang melambangkan tahapan kehidupan manusia yang harus berani, tegas, dan penuh semangat dalam menghadapi cobaan. Durma bermakna “pemberian” (derma/sedekah) dan sering menggambarkan watak keras, emosional, serta nasihat untuk mengendalikan hawa nafsu. (Red).

Penulis : Guntur Bisowarno Praktisi Peradaban Gunung Arjuno.

By Admin

-+=