Kediri, Skalainfo.net| Berdasarkan keputusan Bamboo Spirit Nusantara Support System Purwosari Kabupaten Pasuruan Jawa Timur, di Tahun 2022 bahwa Ibu, Guru dan Petani adalah Induk Peradaban Dunia, dan Penetapan Hari Mata Air Dunia. Di Sumber Mata Air DariSA, Dusun Kucur Desa Sumberejo, Kecamatan Purwosari, Kabupaten Pasuruan Jawa Timur, Ereng Ereng dan Lembah Gunung Arjuno, 29 Juli 2019. Kamis, 12/02/2026.

Menyongsong Metri Hyang Bagawanta Bhari ke 1222;

Sungai Serinjing adalah salah satu sungai tua di wilayah Kediri yang memiliki nilai sejarah, spiritual, dan budaya sakral   bagi masyarakat Jawa Timur. Sungai ini sering dikaitkan dengan tokoh spiritual Jawa kuno Hyang Bagawanta Bhari dan juga di sebut dalam Prasasti Harinjing dari masa Kerajaan Jawa Kuno.

Siapakah Bagawanta Bahri;

Bagawanta Bhari adalah seorang pendeta agung yang disebutkan dalam Prasasti Harinjing A (804 Masehi). Dia adalah orang yang membangun tanggul dan saluran air di Sungai Harinjing pada masa pemerintahan Raja Rakai Warak Dyah Wanara. Bagawanta Bahri tampaknya memiliki peran penting dalam masyarakat pada saat itu, sehingga keturunannya diberikan status Sima (Tanah Bebas Pajak) oleh Raja Rakai Layang Dyah Tulodong seperti yang disebutkan dalam Prasasti Harinjing B.

Cerita Sungai Serinjing;

Pada masa kerajaan Jawa Kuno (sekitar abad 9–10), wilayah sekitar sungai Serinjing dikenal sebagai daerah penting bagi persediaan Sumber Mata Air dan Air kehidupan masyarakat. Sungai ini menjadi sumber air yang menyuburkan sawah serta jalur kehidupan desa.

foto exclusive skalainfo

Dalam cerita lokal, tokoh suci Hyang Bagawanta Bhari dikenal sebagai seorang resi atau tokoh spiritual yang berjasa bagi masyarakat sekitar.

Beliau dipercaya: Mengajarkan keselarasan hidup dengan alam. Menjaga keseimbangan air dan pertanian. Membimbing masyarakat secara spiritual.

Adanya Prasasti Harinjing;

Prasasti Harinjing/Prasasti Sukabumi adalah prasasti kuno yang ditemukan di Desa Siman, Kecamatan Kepung, Kediri, Jawa Timur. Prasasti ini berisi catatan tentang pembangunan tanggul dan saluran air di Sungai Harinjing pada masa pemerintahan Raja Rakai Warak Dyah Wanara (803 Masehi).

foto exclusive skalainfo

Isi Prasasti Harinjing:

– Prasasti Harinjing A (804 Masehi): Menceritakan tentang Bhagawanta Bhari, seorang pendeta agung yang membangun tanggul dan saluran air di Sungai Harinjing.

– Prasasti Harinjing B (921 Masehi): Menceritakan tentang Raja Rakai Layang Dyah Tulodong dan yang menguatkan kembali status Sima (Tanah Bebas Pajak) bagi keturunan Bhagawanta Bhari.

– Prasasti Harinjing C (927 Masehi): Menceritakan tentang keputusan raja untuk menuliskan prasasti ini pada batu agar menjadi surat keputusan yang sah.

Prasasti Harinjing atau Prasasti Sukabumi ini sangat penting karena menjadi penanda awal hari jadi Kabupaten Kediri dan merupakan salah satu prasasti tertua di Indonesia yang ditulis menggunakan aksara Jawa Kuno.

Dalam Prasasti Harinjing, disebutkan bahwa wilayah di sekitar sungai ini pernah dijadikan Sima (Tanah Perdikan) sebagai penghormatan kepada tokoh suci tersebut dan untuk menjaga kesejahteraan masyarakat. Bagi masyarakat sekarang, makna sungai ini tidak hanya sejarah, tetapi juga filosofi hidup.

  1. Simbol kehidupan, Apa Hakekat Intisari Air dan Sungai, serta Peradaban Air Sungai, Air sungai adalah sumber kehidupan. Maknanya, manusia harus menjaga alam agar kehidupan tetap berjalan.
  2. Menghormati leluhur. Data & Fakta Sejarah adalah Bukti Artefak, Soft Power Nusantara: Kaweruh Ilmu Pengetahuan dan Pengetahuan Ilmu. Cerita tentang Hyang Bagawanta Bhari mengingatkan bahwa Peradaban Nusantara dibangun oleh orang-orang hebat dan bijak di masa lalu. Maknanya, Kita hidup di atas Warisan Leluhur.
  3. Keselarasan manusia dan alam. Konsep dan Filosofi Masyarakat Jawa Kuno tentang Bantaran Sungai dan Sungai. Sungai Serinjing menunjukkan bahwa masyarakat Jawa kuno sudah memahami konsep, menjaga air, hutan dan alam. Ini sejalan dengan Filosofi Jawa, “Hamemayu hayuning bawana,” (menjaga keindahan, Keselarasan, harmoni dan keseimbangan dunia).
  4. Tempat spiritual dan refleksi. Momentum Enerjologi Sejarah Begawan dan Sungai Serinjing. Karena sejak dulu menjadikannya tempat pertapaan dan doa, bantaran sungai sering dianggap sebagai tempat, menenangkan diri berdoa untuk menghormati leluhur.

Pesani Sungai Serinjing untuk Kita, Jangan melupakan Sejarah, Hormati leluhur, Jaga alam, Hidup selaras. Karena dalam budaya Jawa ada pepatah: “Sungai adalah nadi bumi (Prasasti Harinjing atau Prasasti Sukabumi) dan Jati diri kita.Tugas  manusia adalah menjaga serta melestarikan”.

foto exclusive skalainfo

Dalam Rangka menyongsong Metri Hyang Bagawanta Bhari ke 1222 di Bantaran Sungai Serinjing, Kedungcangkring Desa Jambu Kediri:

Selasa, 24 Maret 2026. Jam: 21.00 – Selesai.

Monggo HADIR Gotong Royong mensukseskan acara.

Boleh Membawa: 1. Semangat. 2. Teman. 3. Tumpeng. 4. Polo Pendem. 5. Polo Gantung. 6. Jajan Pasar. 7. Minuman Herbal. 8. Air Mineral, kopi. 9. Sembako. 10. Tim Pentas Seni. 11. Kabar bahagia.

Mari bersama, melestarikan ajaran Hyang Bagawanta Bhari. Mari merawat sungai. Mari merawat semesta. Salam dari Kami Plentas Plentus Kali Harinjing. (Red).

Penulis : Dwi Plentas Plentus dan Guntur Bisowarno.

By Admin

-+=