Jakarta, Skalainfo.net| Pakar Antropologi Ekologi Universitas Airlangga, Prof. Dr. H. Muhammad Adib, Drs., MA., menyampaikan kritik keras terhadap pola mitigasi bencana di Indonesia yang dinilai terlalu teknokratis dan mengabaikan kearifan lokal. Hal tersebut disampaikannya saat hadir sebagai narasumber dalam Focus Group Discussion (FGD) bertajuk “Pencegahan Krisis Ekologis dan Bencana Alam” yang diselenggarakan oleh Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) bersama The Indonesia Ocean Justice Initiative (IOJI) di Gedung B.J. Habibie, Jakarta. Kamis, 29/01/2026.

Dalam paparannya yang berjudul “Dekonstruksi Bencana Antropogenik: Perspektif Antropologi Ekologi atas Krisis Ruang Hidup,” Prof. Adib menegaskan bahwa rentetan bencana yang melanda Indonesia di awal tahun 2026, termasuk banjir besar di Sumatera yang menelan ribuan korban jiwa, bukanlah sekadar fenomena alam biasa, melainkan Bencana Antropogenik.

foto exclusive skalainfo.net

Krisis ekologis ini berakar pada hegemoni pengetahuan yang bersifat top-down. Negara seringkali memisahkan masyarakat dari ekosistemnya melalui kebijakan yang teknokratis. Akibatnya, hutan yang seharusnya menjadi pelindung justru berubah menjadi area eksploitasi karena relasi sosial-ekologisnya telah diputus. ujar Prof. Adib.

Kritik terhadap Tata Kelola Hutan;

Merujuk pada bukunya, Sedhakep Angawe-Awe (2026), Prof. Adib menjelaskan bahwa fenomena seperti pencurian kayu jati di Jawa sebenarnya adalah bentuk perlawanan simbolis dari masyarakat yang teralienasi dari ruang hidupnya. Ia memperingatkan bahwa jika kebijakan pembangunan nasional terus menggunakan paradigma weak sustainability—di mana modal alam dianggap bisa digantikan dengan infrastruktur fisik—maka kerentanan terhadap bencana akan terus meningkat.

Lanjutnya, kita melihat adanya trade-off yang tidak seimbang. Kontribusi sektor kehutanan terhadap PDB menurun, namun angka kerugian ekonomi akibat bencana mencapai Rp. 68,67 Triliun. Ini adalah bukti nyata bahwa pertumbuhan ekonomi jangka pendek sedang menghancurkan ketahanan ekologis jangka panjang kita, tambahnya.

Mendesak Ekologi Sebagai Panglima;

Prof. Adib menawarkan konsep “Ekologi sebagai Panglima” (Ecological Primacy) sebagai solusi sistemik. Dalam konsep ini, pembangunan ekonomi harus tunduk pada daya dukung lingkungan dan penghormatan terhadap Critical Natural Capital (CNC) atau modal alam kritis yang tidak tergantikan, terutama di wilayah rentan seperti pulau-pulau kecil.

Merusak modal alam kritis berarti merusak sistem pengetahuan lokal dan fondasi keberadaan masyarakat itu sendiri. Kita perlu belajar dari negara seperti Selandia Baru atau Bhutan yang telah mensinergikan riset modern dengan etika lingkungan tradisional, tegas Kepala Laboratorium Manusia, Budaya, dan Ragawi FISIP UNAIR tersebut.

Rekomendasi Kebijakan;

Sebagai penutup, Prof. Adib memberikan rekomendasi kepada BRIN dan para pemangku kebijakan untuk segera melakukan transformasi tata kelola yang inklusif. Ia menekankan pentingnya pengakuan hak-hak konstitusional warga atas lingkungan yang sehat (Pasal 28H UUD 1945) dan mendesak pemerintah untuk beralih dari penanganan bencana yang bersifat reaktif menuju pencegahan yang sistemik-kultural.

“Hutan adalah identitas. Ketika hutan hilang, hilang pulalah sebagian dari kemanusiaan kita,” pungkasnya. “mengutip refleksi dari karyanya Di Bawah Kanopi Jawa 2025”.

Kegiatan FGD ini juga dihadiri oleh pimpinan BRIN, akademisi dari berbagai universitas ternama, serta perwakilan lembaga riset internasional untuk menyusun rekomendasi kebijakan strategis lintas sektor bagi pemerintah Indonesia. (Red/Guntur).

 

Biography: Prof. Dr. H. Muhammad Adib, Drs., MA. adalah Guru Besar dalam bidang Ilmu Antropologi Ekologi pada Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Airlangga.

Kehadiran beliau di BRIN berdasarkan Surat Tugas Dekan FISIP UNAIR Nomor 1141/B/DST/UN3.FISIP/II/DL.17/2026.

Paparan beliau menyoroti data kehilangan hutan primer Indonesia sebesar 10,5 juta hektare (2002-2023) sebagai pemicu utama bencana antropogenik.

By Admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

-+=