Malang, Skalainfo.net| Terletak di lereng subur Gunung Arjuno, Kabupaten Malang, Perkebunan Teh Wonosari Lawang bukan sekadar hamparan hijau yang memesona. Ia adalah saksi bisu perjalanan panjang industri teh Indonesia, dari masa kolonial Belanda hingga menjadi destinasi agrowisata modern. Hingga kini teh Wonosari tetap menjaga kualitas produksinya. Rabu, 21/01/2026.
Perkebunan ini dibuka pada tahun 1910 oleh sebuah perusahaan Belanda bernama NV Cultuur Maatschappij “Wonosari”. Perusahaan ini kemungkinan merupakan bagian dari konglomerasi perkebunan yang lebih besar pada masa itu.
Beberapa sumber sejarah lokal menyebutkan bahwa pengelolaan operasional perkebunan pada fase awal ini berada di bawah kendali atau kepemilikan keluarga Verhey-Cornelis. Nama keluarga ini sering dikaitkan dengan pembukaan lahan dan pembangunan fasilitas awal perkebunan pada tahun 1910 dan pabrik teh pertama pada tahun 1912.
Inilah kebun teh tertua di Jawa Timur yang telah melalui berbagai babak sejarah. Sejak awal pendiriannya, melalui masa pendudukan Jepang, nasionalisasi pasca-kemerdekaan pada tahun 1957, hingga pengelolaan oleh PTPN XII.
Sejarah Pemulihan dan Modernisasi;
Di jaman pendudukan Jepang, kebun teh diubah menjadi kebun singkong untuk memenuhi kebutuhan pangan masa perang.
Pasca kemerdekaan, kebun dipulihkan dan melalui nasionalisasi, kebun seluas 1.144 hektar ini fokus pada pemulihan produksi teh hitam. Pabrik yang pertama kali dibangun pada 1912 terus dimodernisasi. Pada puncaknya di awal 2000-an, pabrik ini mampu memproduksi hingga 24 ton teh hitam per hari, dengan kualitas ekspor yang banyak dikirim ke Eropa.
Menghadapi stagnasi pasar global teh, Wonosari Lawang berinovasi dengan membuka diri sebagai agrowisata pada 1994. Langkah ini berhasil mendongkrak pendapatan tanpa mengorbankan kualitas dan kuantitas produksi tehnya. Pengunjung tidak hanya disuguhkan pemandangan alam nan asri, tetapi juga edukasi langsung mengenai proses pengolahan teh.
Produk dan Cita Rasa Wonosari;
Keunggulan utama Teh Wonosari Lawang terletak pada keberagaman produknya, yang diolah dari daun tanaman teh varietas Camellia sinensis dan Assamica. Iklim sejuk dan tanah vulkanik lereng Arjuno memberikan karakter rasa yang khas pada setiap cangkirnya.
Berikut adalah jenis-jenis teh unggulan beserta ciri khasnya:
- Teh Hitam “Rolas Wonosari” (Produk Utama). Ciri Rasa: Memiliki rasa sepat (astringent) yang khas, aroma harum pekat dan aftertaste yang kuat. Rasa ini dihasilkan dari proses oksidasi penuh. Bentuk: Umumnya berupa teh granul (CTC – Crush, Tear, Curl) dengan mutu seperti Broken Pekoe 1 (BP1) dan Pekoe Fanning (PF). Merupakan produk andalan ekspor dan oleh-oleh khas.
- Teh Putih – Ciri Rasa: Memiliki rasa paling ringan dan halus di antara semua jenis teh. Aromanya lembut dan segar, dengan warna seduhan kuning pucat. Dibuat dari pucuk daun termuda yang hanya mengalami pengeringan minimal.
- Teh Hijau – Ciri Rasa: Menawarkan rasa segar dan herbal, dengan sedikit nuansa pahit yang khas. Proses pemanasan menghambat oksidasi, sehingga mempertahankan kesegaran daun.
- Teh Oolong – Ciri Rasa: Sebagai teh semi-fermentasi, rasanya berada di antara teh hijau dan teh hitam. Lebih kompleks dengan nuansa manis dan floral.
- Inovasi Rasa: Teh Melati & Teh Rosella – Teh Melati: Dibuat dari teh dengan mutu tertentu yang diberi perisa melati asli. Menghasilkan seduhan yang wangi floral dan nikmat. – Teh Rosella: Merupakan inovasi lokal yang memanfaatkan bunga Rosella. Memiliki cita rasa asam segar yang menyegarkan dan tinggi vitamin C.
Warisan Wonosari;
Teh Wonosari Lawang adalah perpaduan sempurna antara warisan sejarah, keindahan alam, dan dedikasi pada kualitas. Dari kebun kolonial, ia telah bertransformasi menjadi entitas yang tangguh, tidak hanya sebagai penghasil teh berkualitas dunia tetapi juga sebagai destinasi yang memperkaya pengalaman wisatawan. Setiap tegukan tehnya tidak hanya menyajikan rasa, tetapi juga cerita tentang ketahanan dan inovasi dari tanah Malang.
Kunjungan ke Wonosari Lawang akan membawa Anda menyusuri hamparan hijau, menyaksikan proses pengolahan teh, dan tentu saja, mencicipi langsung beragam warisan rasa yang telah menempuh lebih dari satu abad. (Red/Guntur).
