Lawang, Skalainfo.net| Perjalanan menuju Petilasan Tunggul Ametung setelah penulis mengikuti pengajian Isro’ Mi’roj juga memperingati HUT Masjid At Taubah, yang keduanya berada di Dusun Sumber Tempur Desa Sumber Girang Kecamatan Puri, Kabupaten Mojokerto yang diisi penceramah dari Malang KH. Musrifin dari DPP Garda Walisongo juga Sholawatan Gus Isyroqi dari Ponpes Mojogeneng Kec. Jatirejo Kab. Mojokerto yang berakhir jam 23.30 Wib. Lawang, Selasa, 20/01/2026.

Penulis berangkat dari Mojokerto menuju Hotel OAK Lawang Malang saat jam sudah menunjukkan pukul 00.30 WIB tanggal 18/1/2026 melewati Kec. Trawas yang merupakan wilayah paling timur Kabupaten Mojokerto berdekatan dengan Kec. Pandaan, Kabupaten Pasuruan.

Penulis sebelumnya sudah janjian dengan Mbah Guntur Bisowarno Ketua Bambo Spirit Nusantara Support System dari Kelurahan Purwosari Kecamatan Purwosari Kab. Pasuruan, dan yang sebelumnya sudah pernah bertemu dan bekerja bersama dengan Penulis, pertama kali di Padepokan Asobah di Pondok Bambu Jakarta Timur asuhan Kanjeng Bahrudin Mustaqim. Saat itu Mbah Guntur Bisowarno menghadiri undangan Festival MMI (Musik Mission Internasional) oleh PT. Sinergi Indonesia, mengisi acara Workshop Bambu berbasis Limas Bamboo Segi 8 di Lapangan Jambore Nasional Cibubur, Jakarta Timur.

Pertemuan di Hotel OAK Lawang, Kecamatan Lawang, Kabupaten Malang, yang lokasinya representatif di kaki Gunung Arjuno ini membahas SatGas Mata Air atas arahan dari Profesor Mohammad Adib, Antropologi Lingkungan dari Kampus Universitas Airlangga Surabaya. Dalam diskusi sore itu juga membahas usaha kopi berbasis kopi jaman Belanda, diantaranya jenis Tipikal Arabica dan Robusta yang indukannya memiliki sejarah tahun 1896 -1917, yang ada di Desa Ketindan Berjarak sekitar 1.5 km dari Hotel OAK Lawang dibawah kaki Gunung Arjuno.

Dalam diskusi itu disepakati besok pagi hari Senin 19/1/2026 untuk bertandang ke tempat Bu Puri pengusaha dan petani kopi dari Kawasan Perhutani Sosial Gunung Arjuno, juga ke Perkebunan Teh Wonosari yang terletak di Desa Toyomerto Kecamatan Singosari dengan posisi Kita di atas Desa Ketindan Kecamatan Lawang tersebut.

Pagi itu jam 10.00 an, penulis bersama Mbah Guntur Bisowarno menuju loket Perkebunan Teh Wonosari, dengan retribusinya sebesar Rp. 25.000,- dan setelah itu dengan lenggangnya menggunakan sepeda motor untuk menuju Pak Dwi, selaku Kepala Sekuriti di komplek perumahan perkebunan Teh Wonosari itu atas arahan pekerja pembuatan kolam di Hotel OAK Lawang, yaitu Mas Iwan dan Pak Joko.

Dalam kunjungan tersebut kami berkenalan dengan Pak Dwi sekitar 30 menit-an yang cukup singkat karena menjaga cucunya beliau, sebab ibu cucunya sedang check up di Rumah Sakit. Dalam obrolan itu Pak Dwi bercerita kalau di sebelah barat daya dari perkebunan Teh Wonosari ada Petilasan Tunggul Ametung. Akhirnya kami berpamitan untuk melanjutkan ke perkebunan Teh Wonosari menuju Petilasan Tunggul Ametung untuk sungkem ke leluhur dari Pendiri Kerajaan Tumapel tersebut.

Menuju Petilasan Tunggul Ametung itu dipenuhi dengan perjuangan yang dramatis karena jalan nya masih berbentuk tatakan batu yang belum di aspal secara mulus. Ditengah perjalanan itu kami melintasi sebuah artefak berupa tulisan di tembok CELEBRATING.

100 YEAR (1910 – 2010) OF TEA (CAMELIA SINESIS), WONOSARI ESTATE PT. PERKEBUNAN NUSANTARA XII (PERSERO).

WONOSARI, 20 – 12 – 2012

DRS IRWAN BASRI, MM

DIREKTUR UTAMA.

“Selesainya kami ambil sesi foto tersebut langsung melanjutkan ke Petilasan Tunggul Ametung untuk sungkem dan berdoa kepada Allah SWT”…

Siang itu jam sudah menunjukkan pukul 12.30 kami keluar dari Petilasan Tunggul Ametung menuju area parkir motor sempat ketemu dengan pekerja dari Perkebunan Teh yang lagi beristirahat dari membersihkan dan memperbaiki Tadon Sumber Mata Air, yang berada di dekat Petilasan Tunggul Ametung sekitar 50 meter, yang selalu dihargai, disyukuri, dislameti dengan ritual tumpengan sudah berlangsung sejak jaman Belanda. Disesuaikan sekarang pada setiap tanggal 16 Agustus menjelang Peringatan Kemerdekaan RI; diantara pekerja itu bernama Pak Yasid, Pak Mariono, Pak Samiadi yang gayeng mendengarkan cerita sejarah desa dusun, Wayang Kulit Ringgit Purwo Klasik dari Gunung Arjuno oleh Mbah Guntur Bisowarno kesana kemari, bak seorang pendakwah ulung seperti Gus Iqdam dengan kekonyolan nya…

Setelah kami berpamitan dengan Bapak-bapak pekerja tersebut, kami melanjutkan untuk anjangsana ke home industri yang sudah pernah dibukukan sebagai Petani Muda yang menemukan Kekuatan Kopi, yaitu Kopi Ketinden Bu Puri yang berada di Desa Ketindan, di bawah Perkebunan Teh Wonosari.

Dalam kunjungan tersebut kami diterima dengan senang hati oleh suami Bu Puri Pak Hari. Dalam suasana obrolan yang gayeng ngalor ngidul tapi maton terarah, oleh Mbah Guntur Bisowarno, dari Pak Harilah Kita mendapat informasi adanya Prasasti Ketinden yang ditulis oleh Bhre Wira Bumi, Cucu Raja Hayam Wuruk dari Kerajaan Brawijaya, yang berisi dawuh untuk menjaga kawasan hutan disana, dari adanya resiko bahaya kebakaran, Perbincangan yang berkualitas tersebut di bangun oleh Suasana Tuan Rumah dan Kopi Ketinden dalam wadah teko yang panas dengan kepulan asapnya, seruput demi seruput kenikmatan rasanya dengan diiringi kepulan asap rokok kami bertiga, tak lupa tape gorengnya, menghangatkan tubuh Kita dari rasa dingin hawa angin dan hujan deras yang menyertai obrolan Kita, sampai tak terasa sudah menjelang petang. Dan kami pun berpamitan untuk menuju tempat istirahat di Hotel OAK Lawang. (Red/Guntur).

Penulis: KRT AM AMINOTO (Ketua Garda Walisongo Mojokerto Raya) Waki Ketua PC Lesbumi NU Kab. Mojokerto 2018 s/d 2023.

By Admin

-+=