Jakarta, Skalainfo.net| Dalam proses perjalanan WAG 2045 Indonesia Raya, yang sudah diberkahiNya telah memasuki Tahun ke 7 dalam asuhan Kita dan Tahun ke 7 yang sama; WAG Pancasilakrama yang dengan Sabar & Tekun berhasil Bunda Biyung AR kelola sehingga Tulisan Tool-Lisan MJP. Sabtu, 10/01/2026.
Hutagaol 86 ini Kita mendapatkannya serentak dalam rangka, rangkaian terkait Jawaban nyataNya; untuk tujuan kemurnian dan dalam kebutuhan mewadahi Esensi Bahasa Indonesia yang berdaya Spirit Budaya Spiritual konkrit kontekstual aktual dari Para Tokoh Jejer keIndonesiaan & KeNusantaraan nya dalam Berpikir, Berucap Bertindak yang sesuai dengan Tatanan Hukum Hidup berbudi pekerti luhur. Sesuai Kodrat IrodzatNya masing-masing di Jaman Indonesia Emas, berbasis Literasi dan Leading ASI Asupan Sabda Ilahi; Enerjologi & Enerjoloop Bumi Sakti Nusantara ini adanya, yang sudah dan sedang dikembangkan oleh Sri Rama Nirwana atau Sri Rama Suryanto bersama Bamboo Spirit Nusantara Support System & Skalainfo.net, sebagaimana yang tertuang di bawah ini :
Ngelmu Titen – Pengajaran Mpu Nusantara.
Ngelmu Titen adalah ilmu pengamatan dan laku batin yang mendalam, diwariskan oleh para Mpu Nusantara, menggabungkan pengalaman, kesadaran, dan moralitas. Ilmu ini bukan sekadar observasi biasa, tetapi proses titen — cermat menandai setiap fenomena dengan mata batin dan lahiriah.
Lapisan Ilmu Titen.
Dasar – Pengamatan Lahir (Laku Pangripta);
Mengamati alam, manusia, dan peristiwa secara detail. Cipta (akal) digunakan untuk menafsirkan tanda-tanda yang terlihat. Contohnya, Mpu Tantular mengamati perubahan sosial di Majapahit untuk memberikan nasihat kepada raja.
Reflektif – Pengolahan Batin (Laku Rasa);
Mengolah pengamatan menjadi kesadaran batin (rasa), membaca makna halus di balik peristiwa. Di sini ilmu menjadi pradnya (penglihatan batin). Mpu Gandring, misalnya, membaca perilaku prajurit dan raja, menafsirkan simbol alam, lalu menyesuaikan strategi agar harmonis.
Transformasi – Laku Nyata (Laku Karsa);
Mengintegrasikan pengamatan dan refleksi ke dalam tindakan nyata (karsa). Ilmu Titen menjadi pedoman moral dan strategi hidup.
Contoh: Mpu Ranggawarsita menulis ramalan dan wejangan (Serat Kalatidha), menyiapkan pedoman bagi generasi selanjutnya, bukan sekadar meramal.
Energi dan Koneksi Spiritual (Laku Prana);
Tingkat tinggi ilmu Titen melibatkan energi batin (prana) dan kesadaran kosmis. Para Mpu Nusantara memanfaatkan ini untuk menjaga keseimbangan diri, mempengaruhi lingkungan secara harmonis, dan menebarkan kebijaksanaan.
Integrasi Tindakan dan Pembelajaran Luhur (Laku Sejati / ISQ Nusantara);
Semua lapisan diintegrasikan, pengamatan (titen), refleksi batin, tindakan nyata, dan energi spiritual. Tujuannya bukan sekadar ilmu, tetapi kebijaksanaan hidup yang mencerahkan diri dan masyarakat.
Prinsip dan Posisi Para Mpu Nusantara;
Para Mpu menempatkan diri sebagai pengamat, penasehat, dan pelaksana kebijaksanaan.
Mereka tidak bertindak reaktif, tetapi mengikuti pola; titen → rasa → karsa → prana → laku sejati.
Contoh riil:
Mpu Tantular memadukan observasi sosial dan politik dengan moral untuk menasehati raja.
Mpu Gandring mengarahkan strategi prajurit dan raja, memanfaatkan tanda-tanda alam dan perilaku manusia.
Mpu Ranggawarsita meramalkan zaman dan menulis wejangan (serat) untuk generasi berikutnya.
Contoh Aplikatif Masa Kini;
Mengamati dinamika organisasi, keluarga, atau Masyarakat, catat tanda-tanda kecil, pola perilaku, dan hasil yang muncul.
Refleksi batin; pahami makna dan dampak keputusan, bukan sekadar reaksi.
Laku nyata; ambil tindakan sesuai prinsip moral, keseimbangan, dan kebijaksanaan.
Energi batin; jaga keseimbangan emosional dan spiritual agar keputusan harmonis, selaras dengan lingkungan.
Kesimpulan:
Ngelmu Titen adalah ilmu pengamatan, refleksi, dan transformasi batin yang utuh. Dari pengamatan lahir hingga energi batin, setiap lapisan membimbing praktisi untuk menjadi bijaksana, cermat, dan harmonis.
Para Mpu Nusantara mencontohkan penerapan prinsip ini secara nyata di masanya, dan prinsip itu tetap relevan untuk kehidupan modern; mengamati, merenung, bertindak, dan menjaga keseimbangan diri serta masyarakat. (Red).
Cijantung, 10 Januari 2026
Penulis : MJP. Hutagaol 86
Editor : Mbah Openi (Niteni Gesang Kasunyatan)
