Tangsel, Skalainfo.net| Kematian merupakan perpisahan antara ruh dengan raga. Kematian akan mengantarkan manusia kepada kehidupan yang abadi. Kematian juga akan memusnahkan segala nikmat yang manusia peroleh dan yang dinikmati selama di dunia. Hal ini disampaikan oleh pihak keluarga pada acara tahlilan memanjatkan doa terhadap Almarhum Hajjah Sulmah Binti H. Sambas, mengenang malam empat puluh hari Almarhum di semayamkan. Senin, 05/01/2026.

Ratusan pelayat hadir diantaranya, Ustadz Ismail, Ustadz Sumardi, Ustadz Jaka India/Andi Munir, Ustadz Edy Prayitno, Ustadz Muzakir dan kerabat handaitolan lainnya.
Dan tampak hadir keluarga besar dari keluarga Muslim dan Asuroh serta anak-anak Baba Muslim yang ditinggalkan :
- Nur Aliyah.
- Neneng Herawati, dan memilik anak yaitu 1. Chiga 2. Syifa Choirunissa 3. Aisyah Humairoh 4. Siti Rizma Damayanti dan Efendi.
- Sadam Ibnu.
- Putri Kandita.
- Rizka Trisnawati dan Awaludin, Anak 1. Ezzar pratama 2. Ahmad syarif.
- Lala Nurmala Sari – Agung Hery, Anak 1. Kiki 2. Naira.
- Ilmi Hatta – Arfah, Anak 1. M.Malik.
- Saemah.
- Nurhidayah – Aang anak 1. Fahmi, Niah 2. Andri Dwi Jayanti – Melih, 1. Defa 2. Defin 2. Nurherliyanti + joni. S, M. Ian – ana, Farah Dwinovianti, Nurliana – Slamet, Elvera – Wahyu, Abi, Rama – futri, Zaki.
- Nurdiana – Yusuf, Maharani, A. Raivan, Nurfazriyah – Safe’I, Sabrin Davi, Hamzah, Rusdan, Nurasriyah – Najih, Alivia, Reva, Revi, Verawati – ajay, A. Farid, Ilyas, Ridwan Arifin – Tati Apriati, Zevanna, Kaiza, Shanum, Nursaidah, Mirwan Syah – Dewi, Vivi Febriyani – Supardi, Akbar dan Arif.
Turut memberikan doa dan penghormatan terakhir kepada sosok yang dikenal dekat dengan masyarakat itu. Ditengah duka yang menyelimuti keluarga besar Almarhum, diberikan penyegaran Rohani serta tausiah agama yang disampaikan langsung oleh Ustad Saefullah (Dewan Kebudayaan Banten) dari Vila Dago Pamulang yang akrab disapa Chapchay menjadi pusat perhatian para pelayat yang hadir malam itu.

Dalam ceramahnya, Ustad Saefullah menegaskan bahwa kematian itu merupakan peristiwa pasti yang tidak dapat dihindari oleh siapa pun. Ia menyebut kematian sebagai pemisahan ruh dan raga yang mengantar manusia memasuki kehidupan akhirat, tempat seluruh amal perbuatan dipertanggungjawabkan.
“Kematian itu pasti. Ia datang kepada siapa saja, tanpa memandang usia, jabatan, maupun kondisi apa pun,” ujarnya.
Ia merujuk pada firman Allah dalam Surah Al-Ankabut (ayat 57) yang menyatakan bahwa setiap makhluk yang bernyawa akan merasakan mati, kemudian dikembalikan kepada Sang Pencipta.
“Ayat ini mengingatkan kita bahwa waktu dan cara kematian tidak pernah diketahui. Semuanya menjadi rahasia Allah SWT,” tuturnya.
Hj. Sulmah meninggal pada usia 74 tahun setelah menjalani perawatan intensif di RS Sari Asih Ciputat. Ia mengembuskan napas terakhir pada Kamis, 27 November 2025 pukul 16.00 WIB. Kepergiannya meninggalkan duka mendalam bagi keluarga besar Muslim dan Sambas yang terdiri dari sepuluh anak, sejumlah menantu, serta puluhan cucu yang selama ini dekat dengannya.
Hartono, Ketua RT 001/008 Rempoa, menyampaikan bela sungkawa mewakili lingkungan setempat. Ia menilai almarhumah sebagai sosok yang ramah, aktif berinteraksi dan dikenal tekun mengikuti kegiatan keagamaan. “Beliau orang baik dan hangat. Kehilangannya sangat terasa dan dikenang bagi warga,” kata Hartono.
Acara ditutup dengan doa bersama untuk almarhumah dan keluarga yang ditinggalkan. Takziah ini bukan hanya menjadi momentum berbagi duka, tetapi juga ruang refleksi bagi masyarakat untuk kembali mengingat hakikat kehidupan bahwa setiap insan pada akhirnya akan pulang kepada Sang Khalik. (Red/Hasan).
