Bali, Skalainfo.net| Wayang Lemah dan tuntunan harmonisasi; Jejer Wayang Lemah. Lemah berarti tanah atau kondisi matahari bersinar (siang). Upacara Mecaru. Asal kata Ca dan Ru. Cantik, bagus dan buruk, gelap.
Upaya menjaga kondisi seimbang (harmonis). Kamis, 01/01/2026.
Wayang Lemah adalah wayang yang di sajikan dalam ritual yang berhubungan dengan upacara harmonisasi semesta.
*Intisari Bhuta Hita*
Dalam upacara Caru Balik Sumpah di Banjar Pagutan Kelod desa Batubulan, saya mengamati pesan tersembunyi Jro Dalang Mangku Pemayun dalam pengantar doa kepada semesta.
*Inilah Logika Saintifikasinya*
Sedikit yang dapat ditangkap dalam wayang, wahyu-ang wahyu sang pencipta.
Aksara Ang adalah Brahma, energi aktif yang pada upacara caru Balik Sumpah memakai anjing Bang bunkem bermakna mengaktifasi atau menhidupkan mandala yang diupacarai.
Dalam hal ini lingkungan balai banjar Pagutan Kelod Desa Batubulan. Wah-Yang adalah air suci yang diberikan oleh jero dalang untuk kelengkapan prosesi.
Ah, Uh sang Panca Pandawa : ucapan pembuka dari Acintya memberi isyarat, Ah adalah prosesi transfer energi.
Dimana keyakinan di Bali Ang mewakili Brahma sang pencipta dan Ah mewakili Brahma dalam melebur karena Dewata dalam fungsi Bhuta-Kala (Putaran Waktu). Sifat dalam dua dimensi penciptaan dan peleburan maka Hyang Acintya memanggil Brahma dalam bentuk bhutakala (Ah).
Kemudian Uh adalah aksara untuk menjaga keseimbangan fungsi Dewa Wisnu Pemelihara dilanjutkan dengan memanggil sang Panca Pandawa, dia adalah manifesto Panca Serada yang fundamental.
“Sikap umat yang harus dicontoh lebih real oleh para pemimpin”.
Disini juga siklus Tri Semaya yaitu siklus tiga masa di ungkapkan yaitu Atita, Wartamana, Anagata menunjukan sikap tidak boleh menghapus Sejarah (Atita) cikal bakal, mendalami berkehidupan (wartamana) kekinian dengan Tri Kaya Parisuda untuk (Anagata) mempersiapkan masa depan.
Dalam menjaga singkronisasi alam Bhur, Buah, dan Swah itu peran Dewata secara sakral merasuk jiwa Rohani umat sebagai Penari Topeng merah, Jero Dalang, pragina yang menyajikan gegitan, sinden, dan tetabuhan membangun vibrasi harmonis.
Maka pada penutup itu semua Bhuta Kala di panggil.
Bhuta Kala disini adalah putaran energi yang diakibatkan oleh sikap, aktivitas sejalan dengan waktu.
Pemanggilan ini adalah sebuah peringatan bagaimana cara umat menjaga kelestarian mandala. Perlu diingat orang Bali menggambarkan Bhuta Kala sebagai bentuk yang seram adalah penggambaran dari peringatan jika kita salah mengelola lingkungan baik micro dan makrokosmos (Bhuta) maka kerusakan, kehancuran pasti akan datang seiring waktu (Kala=Waktu).
*Prosesi Audit Lingkungan Bumi Semesta*
Somia Bhuta Kala bukanlah prosesi mengusir Bhuta kala tetapi Upaya menjaga keseimbangan semesta.
Dalam.upacara mecaru Balik Sumpah, Walik Sumpah, kembali mulai dari nol. Bahwa kekuatan atau magnet dari ritual itu telah pudar perlu di ulang lagi. Sekitar 30 Tahun sekali. Merupakan jejak jejer kearifan dan kebijaksanaan pangeling-eling jasa ekosistem atau ketika kita memulai membangun mandala kesadaran diri atas hubungan kita dengan ekosistem alam sekitar, bumi dan semesta.
Pada bagian terakhir dipanggil para bhuta kala dengan aksara “Ah, Uh, Bah” itu adalah bhuta kala dari Tri Murti “Ang, Ung, Mang” Brahma, Wisnu, Siwa.
Strata aksaranya atau ucapannya di ubah untuk membedakan watak dan prawatak; karena manusia sesungguhnya mempunyai sifat yang labil “Daiwi Sampad dan Asuri Sampad”.
Daiwi sampad sifat ilahi penuh kebijaksanaan, Asuri sampad sifat keraksan, kebinatangan, kemarahan, kesombongan.
Disinilah tri murti itu membentuk Tri Kona yaitu siklus penciptaan, pemeliharaan dan peleburan.
Seperti Kita menumbuhkan bambu, mengalirkan mata air. Peleburan bukan pemusnahan tetapi pengembalian ke asal. Pohon bambu mati menjadi pupuk dimana agen hayati hidup di alam Bhur (bawah) tanaman, binatang, manusia di alam tengah Buah, kemudian kekuatan imajiner kesadaran itu ada dalam strata Hyang Sangkan Paraning Dumadi di alam Swah (atas). (Red).
Sintesa, 1 Januari 2026.
I Ketut Punia Pupuk Organik.
Editor : Mbah Openi
