Tuntutan Aspirasi Sopir Truk Dan Mahasiswa Tidak Dihadiri Bupati Buton Tengah, Warga Sangat Kecewa

Tuntutan Aspirasi Sopir Truk Dan Mahasiswa Tidak Dihadiri Bupati Buton Tengah, Warga Sangat Kecewa

  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Buton-Tengah, Skalainfo.net| Melalui hasil rapat yang di inisiasi DPRD Kabupaten Buton Tengah (Buteng) terkait adanya demonstran Persatuan Sopir Truk (PST) bersama Aliansi Mahasiswa Pemuda Bersuara (Ampera) yang melakukan aksi menuntut pemberdayaan akhirnya dapat diselesaikan. Rapat tesebut dihadiri, Asisten II, Dinas PU, para kontraktor dan perwakilan sopir truk bersama mahasiswa Ampera. Ttelah disepakati aspirasi tuntutan serta pihak DPRD mengeluarkan rekomendasi pemberdayaan sopir truk dan para buruh harian. Selasa, (10/8/2021).

“Namun, para sopir dan mahasiswa yang melakukan aksi demo menaruh ke kecewaan kepada Bupati Buton Tengah, H. Samahuddin. Pasalnya aksi demo tuntutan yang dilakukan tidak dihadiri Bupati Buton Tengah”.

“Kami kecewa, Bupati (H.Samahudin) tidak secara langsung mendengar aspirasi tuntutan para sopir. Sedangkan kami mengharapkan kehadirannya untuk memberikan solusi sebagai penentu kebijakan. Kami para sopir truk datang ini menyampaikan tuntutan, bukan untuk mengemis akan tetapi kehadiran kami meminta keadilan terkait nasib yang kami alami selama ini. Kami ini putra daerah seharusnya pemerintah mengutamakan para pekerja disini bukan orang dari luar,” kata Muhamad Riski selaku ketua PST kepada awak media skalainfo.net.

Muhamad Riski menjelaskan, suasana dimasa pandemi sekarang ini banyak masyarakat menjerit kesusahan ekonomi harusnya Pemerintah Buteng memikirkan nasib masyarakat.  Apalagi dengan adanya pekerjaan proyek yang menggunakan jasa mobil truk maupun buruh harian dapat dipekerjakan putra daerah bukan orang asing yang menikmatinya.

“Para sopir truk dan para buruh harian lepas telah menjadi penonton dinegeri sendiri karena tidak diberdayakan. Banyak pembangunan proyek-proyek yang bernilai Milyaran yang ada di Buteng selama ini, diperkerjakan orang luar. Jadi nasib kelangsungan hidup anak dan istri disituasi sekarang ini siapa yang mau tanggung,” sambungnya.

Riski menambahkan, dengan terpenuhinya aspirasi para sopir bersama mahasiswa Ampera mengenai tuntutan pemberdayaan dan telah dipenuhi oleh hasil rapat bersama pihak Pemerintah Buteng dan DPRD. Maka ini akan menjadi dasar di jadikan pegangan jika suatu ketika masih adanya ditemukan pekerjaan proyek oleh kontraktor yang menggunakan pekerja luar.

“Semoga adanya rekomendasi ini pihak kontraktor proyek di Buteng, dapat menjalankanya sesuai kesepakatan. Tapi bila mana di kemudian hari kontraktor asing yang lainnya masuk ke Buteng membawa armada selain punya CV sendiri jagan salahkan kami berbuat anarkis di lapangan, jelasnya.

“Saya mewakili sopir truk dan mahasiswa Ampera mengucapkan rasa terimakasih kepada DPRD yang mendengar jeritan para sopir truk selama ini serta memberikan rekomedasi yang mementingkan nasib para sopir dan para pekerja buruh. Semoga apa yang jadi rekomendasi ini dapat dijalankan oleh pemerintah untuk memperdayakan masyarakat yang ada di Buton Tengah,” tutupnya.

Untuk di ketahui, poin rekomendasi DPRD Buteng : 1. Pihak kontraktor sebagai pelaksana kegiatan wajib memberdayakan mobil truk yang ada di Buteng. 2. Selain mobil perusahaan, pihak kontraktor tidak diwajibkan mengunakan mobil dari luar Buteng. 3. Pekerjaan proyek yang berjalan wajib memperkerjakan buruh lokal. 4. Persatuan sopir truk se-Buteng dibuatkan wadah atau asosiasi yang di daftarkan secara resmi yang di ketahui Dinas Pekerjaan Umum. (Red/Idris Karim).


  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
Daerah Fokus Peristiwa Terkini