• December 3, 2020
 Pilkada Pematangsiantar Calon Tunggal VS Kotak Kosong

Pematangsiantar, skalainfo.net | Kota Pematangsiantar adalah Kota terbesar nomor dua setelah Medan sebagai Ibukota Provinsi Sumatera Utara, Dalam beberapa Dekade Pilkada di Daerah ini, Kamis, (22/10/2020),

Baru Pilkada 2020 ini Kota Pematangsiantar menoreh sejarah baru, yakni dari sekian banyak Bakal Calon ternyata semuanya hanya menyisakan satu pasangan calon saja yakni Ir.Asner Silalahi dan dokter Susanty mantan Direktur Rumah Sakit Umum Pematangsiantar,

Yang mengagumkannya ternyata dari sejumlah 30 Kursi yang diduduki para Wakil Rakyat dari berbagai Parpol tersebut semuanya mendukung Ir.Asner Silalahi dan dr.Susanty sehingga Bakal Calon yang lain terpelongo dan hanya bisa gigit jari,

Ironisnya saat ini Calon Tunggal tersebut ternyata tidak dapat terlalu merasa bahagia dan menganggap bahwa kemenangan sudah di tangan karena pihak pihak tertentu sedang giat giatnya mensosialisasikan Mas Koko(Masyarakat Kotak Kosong) sebagai Lawan Pasangan Tunggal tersebut sehingga menyebabkan Ir.Asner dan dr.Susanty merasa gerah dan was was,

Tokoh Masyarakat Kota Pematangsiantar yang dikenal sebagai Baginda Raja Siantar Drs Sahat Damanik.MBA juga merasa risih melihat hal ini karena apabila sempat terjadi Kotak Kosong berimbang suara dengan Calon Tunggal maka akan terjadi Pilkada Ulang untuk menentukan siapa Pemenangnya,

Hal ini tentu akan mengakibatkan pertambahan biaya Pilkada Ulang yang harus ditanggung Negara bahkan Pemerintah Kota Pematangsiantar yang jumlahnya begitu besar, juga masyarakat akan kembali letih mengikuti proses Pilkada Ulang di masa Pandemi Covid 19 ini,

Yang lebih riskannya adalah Bagaimana jika Sang Calon Tunggal kalah dengan Kotak Kosong?…

Untuk mengantisipasi hal itu Drs.Sahat Damanik menyarankan agar Calon Tunggal bijak mensosialisasikan diri kepada masyarakat dengan jalan mengunjungi ke lokasi lokasi keramaian serta silaturahmi kepada komunitas komunitas yang ada, juga sosialisasi melalui Media Sosial seperti Skalainfo.net yang saat ini memang banyak dibaca oleh segala golongan tanpa terkecuali sampai ke Kelurahan dan RT RW bahkan Lembaga Pendidikan di Indonesia,” ujar Baginda Raja Siantar Drs, Sahat Damanik, MBA, (Wahyu/red),