• December 2, 2020
 Relevan, Jawara Tampil Selamatkan Wajah Cinta Damai

JAKARTA, skalainfo.net |  Budaya Banten makin mengemuka dalam menghadapi persoalan Bangsa. Setelah ulama, pemuka agama, dan ormas, kini giliran jawara Banten mendeklarasikan sikap cinta damai untuk menolak setiap sikap anarkisme.Selasa, (20/10/20),

“Ini wajah asli Banten yang memang sudah terpelihara sejak dahulu ketika melawan penjajah,” kata Wakil Sekjen Lembaga Kebudayaan Nasional (LKN) Pusat di Jakarta, Selasa (20/10/20).

Penulis buku  “Menjalankan Kepemimpinan Kepolisian Berbasis Silaturahmi di Banten (MKKBSB)” itu mengatakan,  sesungguhnya cinta damai itu sudah menjadi bagian dari budaya Banten.

“Ini bukan penampilan basa-basi, sudah tepat itu. Sebelum deklarasi para jawara, kan sudah lebih dahulu ulama bersama para  pemuka agama dan ormas melakukan hal serupa,” ujarnya.

Mengutip “MKKBSB”, Suryadi mengatakan, di masa lalu jawara itu pengawal ulama. Jawara dan ulama tak bisa dipisahkan dalam membela kebenaran dan orang-orang kecil yang terancam keselamatannya.

Ulama dan jawara di masa lalu, lanjutnya, tampil memimpin masyarakat untuk membela Negara dan kebenaran. “Apalagi bila melihat orang yang lemah dan tertindas, mereka tampil ke depan membela,”  urai Suryadi.

Jawara di Banten tak bisa disamakan dengan pandangan yang konotatif terhadap pamswakarsa. Keduanya beda filosofi, latar belakang historis, dan motivasi kemunculannya

Dengan jiwa seperti kemunculannya di masa lalu, diwujudkan dalam bentuk lain, lanjut Suryadi, tekad para jawara itu sangat relevan untuk dikedepankan pada masa kini.

Jadi, jika kini ulama dan jawara tampil bersama-sama masyarakat dalam balutan prinsip “cinta damai untuk menyingkirkan tindakan anarkisme dengan segala perwujudannya”, adalah sangat tepat.

Menilik latar belakang dan motivasi jawara yang senantiasa berdampingan dengan ulama pada masa lalu, lanjutnya, adalah mubazir bila secara kontekstual kekinian tak hadir.

Secara konkret Suryadi memberi contoh tentang keterbatasan jumlah dan daya jangkau Polri terhadap realitas kehidupan masyarakat.

Di Banten khususnya sampai 2019, ratio polisi : penduduk sekitar 1 : 750. Polisi itu tahu diri mengakui ia bukan apa-apa tanpa peran masyarakat.

Di Tahun 2018, Kapolres Serang (waktu itu AKBP Nunung Syaifudin) yang juga putera Banten dan Ketua Pelaksana Karuhun merangkul teman-temannya menampilkan para jawara berbagai perguruan. Waktu itu jumlahnya mencapai 8.000 orang.

“Maka, jawara itu salah satu sumber terlatih dan teruji yang ada di masyarakat. Maka, kekurangan yang ada pada Polri, antara lain akan dapat ditutupi dengan merangkul para  jawara,” kata penulis  sejumlah buku tentang Polri dan sosok tokoh Polri ini.

Untuk itu, Suryadi mengimbau agar forkopimda seprovinsi Banten khususnya Polri, bersegera memprakarsai usaha-usaha memelihara dan melestarikan budaya kesatria yang sudah sejak lama ada di Banten. Budaya ini antara lain  ada  dalam personifikasi sosok jawara.

Dengan demikian, jawara akan ada dalam segala cuaca ikut serta menyelamatkan Negara dan penduduk dari segala ancaman. Dalam kalimat lain, jawara tidak hanya tampil kala mendapat ruang untuk berkiprah, karena ruang itu memang sudah ada,(Yosy/red),