• October 25, 2020

“Cipayung Plus Ajak Masyarakat dan Elit Hentikan ‘Kegaduhan’ Politik & Ideologi”

 “Cipayung Plus Ajak Masyarakat dan Elit Hentikan ‘Kegaduhan’ Politik & Ideologi”

Jakarta, skalainfo.net | Kelompok Cipayung Plus melalui Pengurus Pusat Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (PP KAMMI) Indonesia berharap kepada seluruh elit yang ada untuk menjaga kebersamaan karena di situasi Bangsa Indonesia yang saat ini sedang berkabung dengan wabah Covid 19 yang diikuti kemerosotan ekonomi serta banyaknya PHK yang terjadi, maka sebagai elemen Bangsa yang ada di Indonesia baik di elemen-elemen kepemudaan maupun kepemerintahan, DPR dan elit parpol manapun, semestinya harus saling bergandengan tangan, bersatu untuk menyelesaikan masalah-masalah Bangsa yang makin kompleks kedepannya.

KAMMI melihat banyaknya manuver-manuver politik yang dilakukan sejumlah elit politik belakangan ini justru menimbulkan “kegaduhan” tersendiri dikalangan masyarakat luas sehingga berpotensi memecah belah keutuhan bangsa.

“KAMMI mengajak seluruh lapisan masyarakat termasuk elit-elit politik untuk menjaga stabilitas politik, sebab masyarakat begitu menginginkan Indonesia yang damai, rukun sehingga keutuhan NKRI terjaga”, ujar Ketua Umum Pengurus Pusat KAMMI, Susanto Triyogo di Jakarta, Kamis malam (10/09/2020) usai mengikuti diskusi virtual (webinar) dengan tema : “Radikalisme dan perang idelologi di kampus” di sekretariat KAMMI, di Jakarta.

Untuk mengatasi kegaduhan politik  yang ada ditengah peristiwa pandemi Covid 19 ini seharusnya pandemi Covid 19 justru  bisa menjadi moment untuk menyatukan semua lapisan masyarakat. Dalam beberapa Tahun ini,

KAMMI melihat masyarakat makin ‘terbelah’ karena pilihan masing-masing.
“Harusnya ditengah Pandemi Covid 19 ini teman-teman atau masyarakat yang memiliki pandangan politik  merendahkan hati dahulu untuk sama-sama memikirkan keadaan negara ini agar cepat pulih”, ujar Wasekjen PP KAMMI, Arjun Fatahillah.

Salahsatu kegaduhan politik yang dimaksud KAMMI adalah kehadiran Koalisi Aksi Menyelamatkan Indonesia (KAMI) yang dideklarasikan pada tanggal 18 Agustus lalu di pelataran Tugu Proklamasi, Jakarta.  Sejumlah tokoh dan elit politik hadir dan mendukung aksi tersebut, diantaranya, Din Syamsuddin, dan Gatot Nurmantyo. KAMI memandang bahwa kondisi Negara Indonesia kini diibaratkan sebuah kapal Besar yang oleng dan siap karam ditengah lautan, sehingga harus diselamatkan.

Deklarasi KAMI yang juga diikuti dibeberapa Daerah, bahkan luar negeri. Namun kemudian kehadiran KAMI justru memunculkan polemik dan reaksi-reaksi dari berbagai pihak, termasuk memunculkan kelompok-kelompok tandingan lainnya. Bahkan belakangan dibeberapa Daerah justru mendapat penolakan dari berbagai elemen masyarakat karena KAMI dianggap membuat ‘kegaduhan’ politik dan berpotensi memecah belah Bangsa.

Sementara terkait dengan diskusi kebangsaan yang diselenggarakan oleh Cipayung Plus,  organisasi-organisasi kemahasiswaaan yang tergabung didalamnya mempunyai sebuah spirit bersama untuk menjaga Indonesia tetap damai dan utuh dengan cara melakukan edukasi-edukasi untuk menjadikan mahasiswa tetap berada pada spirit bagaimana menjadikan  Pancasila sebagai titik temu dan menjadi alat kebersamaan untuk membangun Indonesia kedepannya.
Kelompok Cipayung Plus melalui PP KAMMI ditengah situasi pandemi Covid 19 melaksanakan kegiatan diskusi virtual (webinar) dengan tema : “Radikalisme dan perang idelologi di kampus” pada Kamis malam, (10/09/2020) di Jakarta.
Dalam diskusi itu diantaranya membahas tentang sejarah dan dampak global radikalisme,  ISIS dan HTI yang tidak boleh berada di Indonesia karena bertentangan dengan Pancasila, Pengaruh dan dampak intoleransi di Indonesia dan Resiko jika Negara menganut ideologi khilafah, serta Perkembangan Demokrasi lainnya.

Salah satu pembicara, Ridwan Habib,
Pengamat Terorisme dari Universitas Indonesia (UI)  menyampaikan bahwa ISIS atau jaringan teroris akan dengan mudah masuk kedalam sebuah negara apabila negara tersebut dalam keadaan konflik  Keberadaan mereka akan semakin eksis dan menjadi ancaman tersendiri apabila masyarakat menganggap isu terorisme hanyalah isapan jempol atau sekedar rekayasa.
“Mereka masuk jika keadaan negara dalam keadaan konflik. Dan terorisme akan terus menjadi ancaman jika situasi sosial masyarakat yang menganggap bahwa terorisme hanyalah rekayasa, pemikiran itu justru mendukung mereka untuk tetap eksis”, ujar Pengamat Terorisme UI, Ridwan Habib.(Wahyu/red),